Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Sistem Islam: Mengatasi Masalah Remaja tanpa Masalah

Wednesday, November 02, 2022 | Wednesday, November 02, 2022 WIB Last Updated 2022-11-02T08:18:46Z

Oleh: Srihartati Hasir 
(The Voice Of Muslimah Papua Barat)

Pergaulan bebas sering dikait-kaitkan dengan kenakalan remaja. Perilaku tidak terkontrol yang menyebabkan pelanggaran norma di masyarakat, baik norma agama, kesusilaan, kesopanan, bahkan hukum. Saat ini pergaulan bebas bukan hanya terjadi karena faktor individu, tapi sudah sistemik. Dan lagi-lagi remaja menjadi korban rusaknya sistem jahiliah. Di Bitung bulan lalu, sebanyak 9 orang pelajar SMKN 2 Bitung, satu diantaranya seorang pelajar perempuan diberi sanksi berat karena kedapatan menggelar pesta minuman keras (miras) di salah satu ruang kelas (http://daerah.sindonews.com 03/10/2022). Kasus yang serupa juga terjadi di kota Makassar tanggal 30 oktober 2022, sebanyak 57 remaja 7 diantaranya remaja perempuan yang terciduk saat tengah asyik pesta miras dan lem di samping kantor gabungan dinas pemerintahan jalan Urip Sumoharjo, Kecamatan Makassar, Kota Makassar (http://makassar.sindonews.com 31/10/2022).
Kasus tawuran pun mewarnai dunia remaja kita saat ini, 26 oktober lalu tawuran antar pelajar asal Kabupaten Serang dan Tangerang berduel di kecamatan Balaraja. Dalam tawuran ini, satu anak mengalami luka bacok di kepala hingga tengkoraknya terbuka cukup lebar (http://tangerangnews.com 28/10/2022). Hal yang sama juga terjadi tiga minggu belakangan ini di daerah tempat tinggal penulis, kota Fakfak. Tawuran antar pelajar MTsN Fakfak, SMPN 1 Fakfak, dan SMP Yapis Fakfak yang berawal dari masalah perorangan yang berujung menjadi tawuran antar sekolah yang cukup meresahkan masyarakat.

Miris dan memprihatinkan, mengingat kini cukup banyak pelaku kriminal adalah anak dan remaja yang masih mengenyam Pendidikan tingkat SD, SMP, dan SMA yang mengundang keresahan masyarakat. Bukan hanya masalah konsumsi minuman keras (miras), lem aibon ataupun tawuran, tetapi lebih dari itu seperti penggunaan ruas jalan sebagai arena balap liar, pelecehan seksual, pornografi, premanisme, begal, freeseks, hingga penggunaan narkotika telah banyak terjadi dan bahkan jadi tontonan publik. Ada apa sebenarnya dengan remaja negeri ini? Mengapa dari tahun ke tahun tidak bisa terkendali? 

Akar Masalah
Remaja saharusnya bisa menggapai cita-cita dengan masa depan gemilang. Sayang, hari ini mereka harus menanggung sebuah luka karena kejadian yang mengerikan dan menyakitkan. Mereka adalah korban sistem kapitalis demokrasi. Sistem ini didasarkan pada asas sekularisme yaitu pemisahan agama dari kehidupan. Asas inilah yang menghasilkan iklim pergaulan yang bebas tanpa aturan, agama ditinggalkan dalam berinteraksi sosial karena dianggap berisi aturan yang mengekang. Alhasil, remaja yang berada pada fase mencari jati diri mudah frustasi, emosi dan nirempati, dan ini menunjukkan bahwa terjadi krisis identitas pada remaja kita saat ini.

Selain itu, peran keluarga, lingkungan, dan negara sangatlah minim. Keluarga tidak lagi menjadi tempat nyaman bagi remaja untuk berkembang dengan segala potensi dan keunikannya untuk bisa menjadi orang-orang hebat. Orangtua tidak lagi bisa menemani dan mengawasi anak-anaknya dalam proses tumbuh kembang mereka. Orangtua disibukkan bekerja agar bisa memenuhi kebutuhan sehari-hari. Bahkan ibu pun harus ikut bekerja agar asap dapur terus mengepul dan agar kebutuhan anak-anak bisa terpenuhi dengan baik. Bahkan orangtua terpaksa menitipkan anak-anak mereka agar mereka bisa bekerja. Ditambah masyarakat tidak peduli dengan remaja yang hidup di tengah-tengah mereka. Masyarakat lebih suka melihat berita viral daripada memperhatikan fakta permasalahan remaja yang ada disekitarnya. Sekolah tidak lagi tempat yang nyaman untuk belajar dan mengembangkan diri. Mereka hanya dibekali ilmu pengetahuan dan teknologi namun kering dengan nilai-nilai agama. Nilai-nilai kebaikan tidak dikaitkan dengan perintah dan larangan Allah. Karakter yang baik hanya dikaitkan dengan nilai manfaat saja. Ketika kebaikan dianggap tidak memberikan nilai manfaat akan ditinggalkan.

Dalam sistem jahiliah saat ini para, pemimpinnya tidak peduli dengan nasib remaja yang menjadi korban kebiadaban sistem. Negara tidak mau perduli dan abai dengan permasalah remaja. Remaja dibiarkan mendapatkan tontonan merusak yang bisa dengan mudah diakses melalui internet. Remaja dibiarkan memilih gaya hidup bebas tanpa aturan, misalnya pacarana sudah menjadi gaya hidup remaja saat ini. Merekapun terlibat tawuran karena membela teman atau kelompoknya. Namun, permasalahan remaja ini tidaklah menarik perhatian pemimpin negeri ini. Mereka lebih sibuk dengan urusan politiknya merebut dan mempertahankan kursi kekuasaan. Kebijakan yang lahir dalam sistem kapitalisme ini justru makin menyuburkan kenakalan remaja. Misalnya Permendikbud Ristek Nomor 30 Tahun 2021. Alih-alih menyelesaikan masalah kekerasan seksual, kebijakan ini justru malah mengakomodasi pelegalan seks bebas di lingkungan kampus. Benarlah, kapitalisme hanya menjauhkan generasi Muslim dari ajaran agamanya. Maka, tidak heran pelaku gaul bebas dan kenakalan remaja ini banyak dari kalangan kaum Muslim. Miris memang, generasi semakin rusak moral dan akhlaknya, tak mencerminkan kepribadian seorang Muslim yang seharusnya.

Sistem Islam: Solusi atas Kenakalan Remaja
Saatnya Sistem Islam menggantikan sistem jahiliah ini yang tidak peduli dengan permasalahan remaja. Karena Islam bukan hanya sebatas agama tapi juga sebagai way of life yang mengatur manusia baik mengatur hubungannya dengan Sang Khalik, hubungannya dengan dirinya sendiri, juga dengan sesamanya. Sistem Islam memiliki solusi yang tuntas dan komprehensif dalam masalah ini melalui tiga pilar penjagaannya, yaitu ketakwaan individu, kontrol masyarakat, dan dukungan sistem.

Setiap keluarga yang menginginkan anak-anaknya cerdas dan bertakwa, maka wajib menjadikan Aqidah Islam sebagai asas dalam mendidik dan membentuk kepribadian anak. Setiap anak harus dibekali keimanan dan kecintaan yang tinggi kepada Allah dan Rasul-Nya. Sebagaimana sabda Rasulullah SAW: “Setiap anak terlahir dalam keadaan fitrah. Orang tuanya yang akan membuat dia menjadi yahuni, Nasrani atau majusi” (HR. Muslim). Dengan bekal iman inilah akan terbentuk ketakwaan dalam diri mereka yang dapat mencegahnya dari berbuat maksiat. 

Selain itu dalam sistem Islam, perilaku masyarakat akan selalu kondusif. Jika masyarakatnya bertakwa, amar makruf nahi mungkar akan berjalan secara efektif. Dengan lingkungan masyarakat yang senantiasa mengajak pada ketaatan, suasana tersebut akan berdampak positif pada anak karena tabiat dasar anak adalah meniru dan mencontoh yang mereka lihat di lingkungan masyarakat. Dan masyarakat tidak berdiam diri jika ada kemaksiatan di lingkungannya.
Dukungan sistem oleh negara dengan menerapkan aturan Islam secara menyeluruh. Tugas negara adalah menyelenggarakan Pendidikan secara komprehensif. Negara wajib menyediakan fasilitas Pendidikan yang memadai, mulai dari kurikulum berbasis akidah Islam, sarana dan prasarana, pembiayaan Pendidikan, tenaga pengajar professional, hingga sistem gaji guru yang menyejahterakan. Negara juga melakukan kontrol sosial dengan melakukan pengawasan atas penyelenggaraan sistem Islam kaffah. Negara menegakkan sanksi bagi para pelanggar syariat, seperti pelaku tawuran, pezina, atau pelaku maksiat lainnya.

Demikianlah cara Islam mencegah kenakalan remaja. Aturan Islam akan menjaga remaja muslim dalam kemuliaan berlandaskan Al-Qur’an dan As-Sunnah. Sistem Islam dengan segala aturannya akan mampu mengatasi berbagai masalah termasuk masalah kenakalan remaja tanpa menimbulkan masalah baru. Sebuah syair Arab menggambarkan bahwa Laa izzata illa bil Islam, wa laa Islama illa bisy Syariah, wa laa Syariah illa bid daulah khilafah rasyidah.

No comments:

Post a Comment

×
Berita Terbaru Update