Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Fenomena “Check-in” Tempat Bukber: Silaturahmi atau Ajang Eksistensi?

Tuesday, March 31, 2026 | Tuesday, March 31, 2026 WIB

Nur Hadi Saputra
Jurusan Bimbingan dan Penyuluhan Islam Angkatan 2023, Fakultas Dakwah dan Ilmu Komunikasi, UIN Antasari Banjarmasin.


Bulan Ramadhan selalu menghadirkan suasana yang khas: masjid ramai, pasar takjil dipadati, dan agenda buka bersama (bukber) tersusun hampir setiap hari. Dari reuni sekolah, kumpul komunitas, hingga pertemuan keluarga besar—semuanya terasa sah tanpa kehadiran momen berbuka bersama. Namun, di tengah maraknya tradisi ini, muncul satu fenomena yang semakin mencolok: kebiasaan “check-in” atau membagikan lokasi dan momen bukber di media sosial. Pertanyaannya, apakah ini sekadar dokumentasi kebersamaan, atau telah bergeser menjadi ajang eksistensi diri?


Tidak bisa dipungkiri, perkembangan media sosial telah mengubah cara manusia memaknai momen. Dahulu, silaturahmi cukup dihadirkan dalam pertemuan fisik dan kehangatan percakapan. Kini, kebersamaan terasa “belum lengkap” tanpa unggahan foto, video, atau story yang menandai tempat dan orang-orang yang hadir. Restoran yang dipilih pun sering kali bukan lagi sekadar tempat makan, tetapi juga lokasi yang “instagramable” dan layak dipamerkan. Dalam konteks ini, bukber mengalami pergeseran makna—dari ibadah sosial menjadi bagian dari gaya hidup digital.


Fenomena check-in tempat bukber sebenarnya tidak sepenuhnya salah. Dalam batas tertentu, berbagi momen kebahagiaan bisa menjadi sarana mempererat hubungan, bahkan menginspirasi orang lain untuk menjaga silaturahmi. Namun, persoalan muncul ketika motivasi utama bergeser. Ketika seseorang lebih sibuk mencari sudut foto terbaik dibandingkan menyimak percakapan, atau lebih fokus pada jumlah “like” daripada kualitas interaksi, maka ada yang perlu direnungkan kembali. Apakah kebersamaan itu benar-benar dirasakan, atau hanya ditampilkan?


Dalam perspektif Islam, silaturahmi memiliki kedudukan yang sangat penting. Ia bukan hanya soal bertemu, tetapi juga memperkuat kasih sayang, menghapus kesalahpahaman, dan membangun ukhuwah. Ramadhan, sebagai bulan penuh berkah, seharusnya menjadi momentum untuk memperdalam makna ini. Sayangnya, jika bukber lebih banyak diisi dengan kesibukan digital daripada dialog yang bermakna, esensi tersebut bisa memudar. Silaturahmi berubah menjadi formalitas, bahkan kompetisi sosial yang tidak disadari.


Di sinilah peran bimbingan dan penyuluhan Islam menjadi sangat relevan. Penyuluh tidak hanya bertugas menyampaikan hukum-hukum ibadah, tetapi juga membimbing umat dalam menghadapi dinamika sosial yang terus berkembang. Fenomena check-in bukber adalah contoh konkret bagaimana nilai-nilai agama perlu dihadirkan dalam konteks kekinian. Umat perlu diajak untuk memahami bahwa teknologi bukan musuh, tetapi harus digunakan dengan bijak dan proporsional.


Penyuluhan Islam dapat mengambil pendekatan yang lebih kontekstual dengan mengangkat isu-isu seperti ini dalam kajian Ramadhan. Misalnya, dengan membahas tentang keikhlasan (ikhlas) dalam beramal, bahaya riya’ (pamer), serta pentingnya menjaga niat dalam setiap aktivitas, termasuk dalam bersilaturahmi. Pendekatan ini akan lebih mudah diterima, terutama oleh generasi muda yang sangat akrab dengan media sosial. Alih-alih melarang, penyuluh dapat mengarahkan: bagaimana cara berbagi yang tetap menjaga adab dan nilai spiritual.


Selain itu, penting juga untuk menanamkan kesadaran bahwa tidak semua momen harus dipublikasikan. Ada nilai keindahan dalam hal-hal yang disimpan secara pribadi, yang hanya dirasakan oleh hati tanpa perlu validasi publik. Dalam Islam, amal yang tersembunyi justru memiliki keutamaan tersendiri. Jika prinsip ini dipahami, maka seseorang akan lebih selektif dalam membagikan aktivitasnya, termasuk saat bukber.


Fenomena ini juga berkaitan dengan tekanan sosial yang kerap tidak disadari. Banyak orang merasa “tertinggal” jika tidak ikut bukber di tempat tertentu atau tidak membagikan momen tersebut. Inilah yang dikenal sebagai fear of missing out (FOMO). Dalam jangka panjang, hal ini bisa memicu perilaku konsumtif dan menggeser prioritas. Bukber yang seharusnya sederhana bisa berubah menjadi beban finansial demi menjaga citra. Lagi-lagi, peran penyuluhan sangat dibutuhkan untuk mengingatkan bahwa nilai seseorang tidak ditentukan oleh tempat ia makan, tetapi oleh kualitas hubungan dan keikhlasan hatinya.


Pada akhirnya, fenomena check-in tempat bukber adalah cermin dari perubahan sosial yang lebih luas. Ia menunjukkan bagaimana teknologi memengaruhi cara manusia berinteraksi dan memaknai kebersamaan. Namun, perubahan ini tidak harus dihadapi dengan penolakan, melainkan dengan kebijaksanaan. Ramadhan memberikan kesempatan untuk merefleksikan kembali niat dan tujuan dari setiap aktivitas, termasuk dalam hal sederhana seperti buka bersama.


Bukber seharusnya menjadi ruang untuk mempererat silaturahmi, bukan sekadar panggung untuk menunjukkan eksistensi. Media sosial bisa tetap digunakan, tetapi tidak menjadi pusat perhatian. Yang lebih penting adalah kehadiran yang utuh—hadir secara fisik, emosional, dan spiritual. Karena pada akhirnya, yang akan membekas bukanlah unggahan yang viral, melainkan kehangatan hubungan yang terjalin.


Dengan demikian, pertanyaan “silaturahmi atau ajang eksistensi?” sebenarnya kembali pada masing-masing individu. Ramadhan bukan hanya tentang menahan lapar dan haus, tetapi juga tentang menata hati, meluruskan niat, dan memperbaiki kualitas hubungan—baik dengan sesama manusia maupun dengan Tuhan.

No comments:

Post a Comment

×
Berita Terbaru Update