Hilangnya Nurani Keibuan Dalam Sistem Sekulerisme


Oleh: Siti Zaitun. 

Ibu adalah malaikat tak bersayap bagi anak-anaknya. Ibu adalah sosok yang penuh kelembutan dan penuh kasih sayang. Ibu adalah sekolah pertama bagi anak-anaknya. Sungguh mulianya seorang ibu, sehingga diibaratkan surga berapa di bawah telapak kakinya. 

Sangat miris ketika ada berita di Indonesia pembunuhan yang dilakukan seorang ibu di Kabupaten Nias Utara, yang tega mengakhiri tiga buah hatinya yang masih balita pada 9 Desember 2020. Kemudian ada seseorang ibu yang tega mengakhiri bayinya yang masih berumur 3 bulan di Kabupaten Enfe, NTT pada 18 Oktober 2020.

Baru-baru ini terjadi kasus penggorokan yang dilakukan seorang ibu muda terhadap tiga anaknya dengan menggunakan pisau cutter, dan berakibat satu anaknya meninggal dan dua dalam perawatan rumah sakit. Ketika ditanya apa motif pelaku sehingga tega melakukan perbuatan keji itu terhadap buah hatinya. Ibu muda tersebut menjawab takut anak-anaknya hidup susah makan lebih baik mati saja. Saya hanya ingin menyelamatkan putra putri saya agar tak hidup susah. Tidak perlu merasakan sedih. Jadi mereka harus mati agar tidak sedih seperti saya. Sebagaimana dilansir dari katanya. PanturaPost. com(20/03/2022). 

Menurut penuturan dari Kapolsek Tonjong AKP M  Yusuf, ketika pintu dibuka olehnya, anaknya yang bernama ARK(7) yang sudah berada dalam kondisi meregang nyawa. Terdapat luka sayat dibagian leher. Dan sementara itu kedua korban yang berinisial KAU(10) dan E(5) pun mengalami luka yang cukup parah di sekujur tubuh mereka. (21/03/2022) Detiknews. com. 


Kemudian menurut Reza Indra Giri Ariel seorang ahli Psikologi Forensik menyampaikan pada pihak kepolisian agar mendalami lebih lanjut kejiwaan pelaku. Walaupun dari informasi yang sudah ada, pencetus pelaku melancarkan tindakan keji tersebut kepada anaknya disebabkan faktor ekonomi dan kesulitan hidup. (20/03/2022 Republika. co. id). 


Apa yang dialami oleh pelaku saat ini hasil diterapkannya sistem sekulerisme. Yang mempengaruhi cara pandang hidup masyarakat saat ini. Cara pandang tersebut adalah sekuler kapitalis, yang sebuah sistem buatan manusia yang lemas terbatas, maka dari itu telah terbukti sekulerisme kapitalisme hanya membuat kerusakan ketika dijadikan suatu landasan berpikir. 

Didalam sistem sekulerisme kondisi keluarga sedemikian kompleks Personal. Dengan himpitan ekonomi, minimnya ilmu pengetahuan terkait hal dan kewajiban, dan ketidak pahaman dari hukum syara tentang pergaulan dalam rumah tangga, karena negara sekuler tidak berfungsi sebagai pembentuk ketahanan keluarga. Negara sekuler tidak mampu menjamin seluruh kepala keluarga mampu untuk menafkahi keluarganya. Negara sekuler tidak mampu menyediakan lapangan pekerjaan, gaji yang layak, serta tidak ada pendidikan dan pembinaan untuk pasangan suami istri. 

Negara sekuler membina keluarga sesuai pengetahuannya sendiri. Berumah tangga harus mempunyai visi dan misi sehingga mampu untuk menyelesaikan masalah internal maupun eksternal dalam keluarga. Ketika keluarga muslim menjauh dari ajaran-ajaran Islam, wajar saja keluarga menjadi rusak dan bahkan kehadirannya tidak diharapkan. 

Didalam kapitalisme sekuler pengasuhan anak terabaikan sehingga pengasuhan anak memicu konflik  antar pasangan suami istri. Sehingga fitrah keibuan menjadi mudah terkikis. Begitu pula dengan keimaman yang sangat lemah. Sungguh kondisi keluarga sangat memprihatinkan pada saat ini. Butuh institusi negara yang akan menyelamatkan sebuah keluarga dari kehancuran dan penderitaan yang panjang. 

Ketika anak dalam asuhan Islam, kehidupan seorang anak dihargai bukan pada saat dilahirkan. Melainkan sejak mereka berada dalam kandungan. Orang tua dan negara sekalipun tak berhak membatasi kelahiran, apalagi membunuh anak-anaknya yang telah tumbuh dalam rahim sang ibu. Sebab anak-anak adalah anugerah terindah sekaligus karunia Allah Swt. Anak bukanlah beban sebagaimana pandangan masyarakat kapitalis saat ini. 

Kemudian bicara soal jaminan ekonomi, di mana anak sering dianggap beban keluarga. Allah SWT telah memperingatkan setiap orang tua untuk tidak membunuh atau menggugurkan anak-anak mereka yang telah Allah amanahkan pada mereka karena dengan alasan takut miskin ataupun masalah sosial lainnya. Jadi apapun alasannya tidak dibenarkan dalam Islam untuk menghilangkan nyawa seseorang anak. 

Sesuai dengan firman Allah SWT ( QS. Al-Isra ayat 31) 

Dan janganlah kamu membunuh anak-anakmu dikarenakan takut miskin. Kamilah yang akan memberi rezeki kepadamu. Membunuh mereka sungguh suatu dosa yang besar. 

Islam memandang anak adalah anugerah yang terindah. Anugerah yang berindah ini adalah amanah yang wajib dijaga dan dilindungi oleh orang tua, masyarakat bahkan negara. Islam telah memberikan perhatian yang lebih terhadap perlindungan anak-anak. Diantaranya, menjamin kebutuhan sandang pangan dan papan. Menjaga nama baik dan martabatnya, menjaga kesehatannya, memilihkan teman bergaul yang baik, serta menghindarkan dari kekerasan dan lain-lain. 

Untuk melindungi anak dari pelaku kejahatan, Islam memiliki sistem sanksi yang tegar dan mampu membuat jera pelakunya, juga mampu mencegah orang lain melakukan tindakan kejahatan serupa. Islam juga membangun konsep akidah Islam sebagai asas kehidupan, baik pada individu, masyarakat, maupun negara. Dengan asas keimanan kepada Allah SWT ini, semua pihak menyadari adanya pertanggungjawaban dihadapan Allah kelak di hari akhirat nanti atas apa yang sudah dilakukan didunia. Sehingga timbul kesadaran yang akan mencegah seseorang untuk melakukan tindakan kejahatan atau melindungi perilaku jahat. Sungguh perlindungan terhadap anak sangat paripurna dalam sistem Islam. 

Islam memiliki sebuah aturan yang paripurna untuk mengatur kehidupan dalam sebuah institusi yang disebut negara Islam. Negara Islam akan memastikan pelaksanaan hukum syariat dilaksanakan oleh setiap keluarga, dan akan memastikan syariat nya ter implementasi dalam kehidupan bernegara. Sebagai contoh, dalam Islam setiap suami atau wali diwajibkan untuk mencari nafkah (Lihat QS An-Nisa: 34).

Negara Islam yang memastikan ketersediaan lapangan pekerjaan bagi laki-laki. Kemudian memberikan pendidikan dan pelatihan kerja, bahkan jika dibutuhkan akan memberikan bantuan modal usaha. Negara Islam akan memfasilitasi dan membekali ilmu pergaulan suami istri, agar setipe pasangan paham bahwa satu sama lain berhak mendapatkan ketentraman, ketenangan, serta menjalankan amanah dengan baik. Sehingga, dapat dieliminasi munculnya kasus kekerasan, penelantaran keluarga, tindak pembunuhan di circle keluarga dan sebagainya. Negara Islam pun akan memenuhi kebutuhan hidup keluarga dengan penyediaan rumah layak dengan harga terjangkau, pakaian dan pasangan yang memadai dan murah. Alhasil dalam Islam sejatinya negara berperan penting dalam menjaga keutuhan keluarga. Oleh karena itu jika bukan dengan hukum Islam yang diterapkan oleh Negara Islam niscaya keutuhan keluarga dan kesejahteraan tidak bisa terealisasikan. Maka teruslah berjuang agar syariat Allah bisa ditegakkan dimuka bumi Allah ini. 

Wallahu a'lam bushowab.

Post a Comment

Previous Post Next Post