ANJLOKNYA HARGA CABAI AKIBAT PENERAPAN SISTEM YANG BERCORAK SEKULER


By : Siti Zaitun

Indonesia memiliki masakan khas yang banyak menggunakan cabai. Bahkan, rasa pedas sangat disukai oleh milenials. Ditengah pandemi yang tak kesudahan. Mereka harus menerima kenyataan bahwa saat mereka panen, harga jual cabai turun drastis. 

Harga cabai anjloknya hingga Rp 4000 per kilogram. Anjloknya harga tak hanya pada cabai rawit, namun semua jenis cabai mengalami penurunan drastis. Hal ini membuat para petani merasa putus asa, hingga banyak lahan yang dibiarkan tak terurus. Bahkan anjloknya harga cabai juga mempengaruhi psikologis petani, mereka takut untuk menanam kembali jika terus merugikan. Diwartakan oleh m. Kumparan. com pada 29/8/2021.

Berdasarkan Pusat Informasi Harga Pangan Strategis (PIHPS) Nasional pada 3 September 2021,harga cabai merah besar merosot 3,38 persen, menjadi Rp 28.600 per kilogram. Sedangkan untuk cabai rawit merah merosot 1,83 persen. Untuk cabai merah kriting turun 2,77 persen. 

DR. Iri. Taryono, M. Sc, dosen Takut Pertanian UGM Universitas Gadjah Mada) dalam ugm.ac.id mengatakan, petani konvensional sudah biasa mengalami kerugian. Apalagi dimasa pandemi saat ini saat permintaan mengalami penurunan sangat dratit. Biasanya cabe dari Jogja atau di Jawa ini kan juga untuk mengisi kebutuhan pasokan dilur Jawa. Kalau di kota-kota di Jawa bisa dilakukan dengan truk, sementara karena bahan mudah rusak pengiriman keluar Jawa pasti menggunakan pesawat, inilah yang kemudian di daerah-daerah produsen juga mengalami gangguan, " Katanya. 

Menurut Taryon, anjloknya harga cabai dimungkinkan karena kelebihan produksi, sementara permintaan dan sistem transportasi tidak lancar. Sedangkan untuk sektor pariwisata yang selama ini mendukung serapan produksi dan petani kondisinya juga lagi lesu. Dari sektor tersebut pula permintaan cabai cukup tinggi. 

Menurut BPS (Badan Pusat Statistik) , pada tahun 2020 produksi cabai nasional mencapai 2,27 juta ton, meningkat 7,11 persen dibanding tahun 2019. Ekspor cabai tahun 2020 juga mengalami peningkatan sebesar 69,86 persen dibanding tahun 2019.

REPUBLIKA. CO. ID, JAKARTA- Direktur Pengolahan dan Pemasaran Hasil Hortikultura Bambang Sugiharto mengatakan produksi aneka cabai nasional periode Januari hingga Juli 2021 masih surplus. Kata Bambang, produksi cabai pada Juli tercatat sebanyak 163.293 ton dengan kebutuhan sebesar 158.855 ton atau surplus 4.439 ton. 

PPKM (Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat) yang terus berlanjut, juta dituding sebagai dalang turunnya harga cabai. Restoran, rumah makan, dan usaha kecil, yang biasanya menjadi tujuan pemasokan cabai, harus tersendat karena adanya PPKM. Pemberlakuan aturan yang tidak tepat mengakibatkan efek domino, dan lagi rakyat juga yang harus kena imbasnya. 

Bayang-bayang impor akan terus menghantui petani negeri selama Sistem Sekularisme masih diemban sebagai mabda suatu negara. Mabda sekulerisme diambil sebagai aturan kehidupan. Suatu aturan yang berasal dari kejeniusan manusia yang  lemah terbatas. Yang tidak berdasarkan akidah yang benar berstandarkan halal haram. Dalam sistem rusak ini tidak mengenal halal dan haram melainkan manfaat yang menguntungkan pihak korporasi. 

Inilah buruknya peraturan dalam sistem sekularisme. Peraturan yang disahkan sama sekali tidak berpihak pada rakyat kecil, aturan dibuat dengan pertimbangan untung dan rugi bagi para korporasi dan cukongnya. Impor tak hanya membantu pasokan barang dalam negeri ketika terjadi kelangkaan. Namun, juga  menguntungkan pihak-pihak tertentu, sebab harga impor dan harga end user sangat jauh berbeda, selisih ini akan menjadi keuntungan besar bagi importir. 

Negara Islam Menjadi Solusi. 

Negara Islam adalah sebuah institusi negara yang mengemban mabda   yang Islam yang menjadikan syariat Islam sebagai satu-satunya rujukan hukum. Dalam kebijakannya, negara Islam akan memprioritaskan kebutuhan dan kesejahteraan rakyat, bukan untung rugi sebagai mana alasan sekularisme. 

Impor dalam negara Islam dilakukan ketika kebutuhan dalam negeri akan dilakukan oleh Departemen Luar Negeri, hanya dengan negara-negara sahabat yang tunduk dengan negara Islam, bukan negara harbi fi'lan. 

Keadaan genting ini akan diminimalisasi dengan program swasembada. Negara Islam akan berusaha menjadikan pertanian dan peternakan dalam negeri mencapai surplus agar tidak bergantung pada pasokan negara lain. Maka, yang akan dilakukan negara Islam adalah menyediakan lahan-lahan yang bisa digarap oleh petani, dengan mengambil lahan yang tidak dipakai lebih dari tiga tahun. 

Negara Islam juga akan memasok benih, obat, dan peralatan yang memadai demi suksesnya swasembada. Pendistribusian pun dilakukan merata kepada setiap individu, menghindari mafia dagang yang selalu menjadi ancaman dalam perdagangan disistem  sekularisme. Akibatnya, permintaan harga pun menjadi borok yang menyakiti para petani. 

Demikianlah perlakuan Negara Islam dalam menghadapi impor. Impor tidak akan dijadikan sebuah kebiasaan demi keuntungan beberapa pihak. Namun, Negara Islam akan memikirkan kesejahteraan rakyat yang menjadi tanggungannya. 
Hal ini berdasarkan sabda Rasul dalam riwayat Imam Bukhari, "Imam (Kholifah) adalah pengurus rakyat, dan ia akan dimintai pertanggungjawaban atas pengurusan rakyanya. Ini semua bisa terwujud hanya dengan menerapkan Sistem Islam. 

Wallahu'alam bishowab.

Post a Comment

Previous Post Next Post