Program Edukasi Seksual Global, Sebuah Solusi Gagal


Oleh: Pilar Bela Persada (Mahasiswi, Komunitas Annisaa Ganesha)

Kedinamisan perubahan nilai pada masyarakat Barat, linier dengan pemikiran dangkal yang mereka punya. Sayangnya, umat muslim yang telah lama mencampakkan harta paling berharga mereka – pemikiran Islam, malah ikut serta berkiblat kepada Peradaban Barat yang rusak dan merusak.

Padahal, akibat dari penerapan konsepsi Barat di ranah publik yang menjadikan kebebasan sebagai ruh konsepsi mereka, serta menjauhkan peran agama dalam mengatur urusan publik mereka -sekuler- justru telah menghasilkan berbagai kebobrokan yang telah lama menghampiri kehidupan manusia dan terus menjadi semakin parah seiring berjalannya waktu. Misalnya saja dalam laporan WHO pada 2017, tercatat lebih dari 2 juta pemuda dunia hidup dengan HIV. Selain itu, angka kehamilan remaja perempuan telah mencapai titik yang sangat mengkhawatirkan di berbagai belahan dunia, termasuk Amerika serikat (ncbi.nlm.nih.gov dan cdc.gov).

Tidak lebih baik, Indonesia juga harus menghadapi parahnya praktik pergaulan bebas di dalam masyarakatnya. Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Reckitt Benkiser Indonesia pada tahun 2019, diketahui bahwa 33 persen remaja Indonesia telah melakukan hubungan seks pranikah (liputan6.com). Bahkan yang lebih mencengangkan, menurut survei yang telah dilakukan sejak tahun 2015 oleh Komnas Perlindungan Anak terhadap siswi SMP/SMA di Depok, Jawa Barat, mengungkapkan bahwa 93,8 persen dari mereka telah melakukan seks pranikah (cnnindonesia.com).

Melihat realita ini, Barat kemudian menawarkan sebuah solusi gagal berupa program edukasi seksual global. Dilansir dari publikasi National Center for Biotechnology Information (NCBI) pada 2020, terdapat variasi pendekatan yang dilakukan oleh masing-masing negara dalam praktik pendidikan seksual. Dalam publikasi itu, tercantum sebuah pernyataan dangkal ala Barat, bahwa Comprehensive Sexuality Education (CSE) atau pendidikan seks komprehensif yang berfokus pada penyampaian fakta tentang kesehatan seksual dan reproduksi tanpa melarang seks pranikah (baca: perzinaan) adalah pendekatan terbaik. Ironis sekali.

Sedangkan, risalah Islam hadir dengan konsep beserta metode penerapan yang sempurna dan telah lama terbukti memberikan solusi paripurna atas berbagai permasalahan umat. Islam sangat memahami bahwa aktivitas yang dilakukan manusia adalah selalu dalam rangka memenuhi naluri dan kebutuhan jasmaninya. Kecenderungan pemenuhan kebutuhan tadi dipengaruhi oleh aqliyah (pola pikir) dan nafsiyah (pola sikap) yang bersumber atas standar tertentu. Lebih jauh lagi standar tadi akan menyesuaikan mafhum (persepsi) dan pemikiran yang dianut oleh seseorang.

Maka selain memberikan tuntunan lengkap bagaimana penyaluran naluri dalam koridor taat. Islam juga melakukan penjagaan melalui pengaturan dalam kehidupan publik umat. Kaitannya dengan hal ini, Islam telah mewajibkan para perempuan untuk menutup aurat setiap kali keluar rumah. Islam juga telah melarang ikhtilat dan khalwat. Disamping hal-hal tadi, Islam pun telah memiliki seperangkat hukum yang tegas untuk mencegah pelanggaran syariat demi melakukan penjagaan kehidupan umat semata-mata atas perintah Allah saja.

“Perempuan yang berzina dan laki-laki yang berzina, maka deralah tiap-tiap satu dari keduanya dengan seratus kali dera. Dan janganlah kamu belas kasihan kepada keduanya di dalam menjalankan (ketentuan) agama Allah yaitu jika kamu beriman kepada Allah dan hari akhir. Dan hendaklah (dalam melaksanakan) hukuman mereka disaksikan oleh sekumpulan orang-orang yang beriman.” (QS An-Nur: 2).

Wallahu a’lam bish showwab.


Post a Comment

Previous Post Next Post