No title


Pasukan AS Mundur Dari Afghanistan, Apakah Kemenangan Islam atau Intervensi AS?

Oleh : Nadine Zivana Kamila ( Aktivis Dakwah )

Seandainya jika benar Taliban ingin meraih kekuasaan untuk menerapkan Islam sebagai umat Rasulullah seahrusnya metode (thariqah) yang mereka gunakan harus sesuai dengan metode Rasulullah dalam mencapai kekuasaan yakni berfokus menyiapkan umat dan tidak berkompromisedikitpun dengan tawaran Barat.

Gerilyawan Taliban dilaporkan menduduki Istana Kepresidenan Afghanistan dan menduduki Ibu Kota Kabul Kelompok Misili itu juga menuntut pengalihan kekuasaan secara penuh dari pemerintah Afghanistan setelah dua petinggi Taliban yang identitasnya tidak mau diungkap menyatakan mereka menolak pemerintahan transisi setelah mereka menduduki Ibu Kota Kabul seperti dilansir Reuters (CNNIndonesia Minggu 15/8)

Pemberontak Taliban telah merebut kota-kota besar kedua dan ketiga di Afghanistan, dan sebuah kota di selatan Kabul. Sekarang Taliban mengincar Ibu Kota Tentara Afghanistan bersumpah untuk mempertahankan Ibu Kota dari Taliban Pemberontak Taliban merekam pesan setelah merebut Pul-e-Khumri, ibu kota provinsi Baghlan, Afghanistan, yang di unggah 10 Agustus 2021 PBB mengatakan lebih dari 1.000 warga sipil tewas dalam sebulan terkhir, dan Komite Internasional Palang Merah mengatakan bahwa sejak 1 Agustus sekitar 4.042 orang yang terluka telah dirawat di 15 fasilitas kesehatan Taliban membantah menargetkan atau membunuh warga sipil dan meminta penyelidikan independen (TEMPO.CO,Jakarta Minggu, 15 Agustus 2021)

Bulan lalu tepatnya pada hari Jum’at 9 Juli 2021. Taliban memberi pernyataan resmi bahwa mereka telah menguasai 85% wilayah di Afghanistan namun pernyataan ini ditolak oleh pejabat pemerintah dengan menunduknya sebagai bagian dari kampanye propaganda dilansir dari Aljazeera yang dikutip dari Reuters Senin 16 Agustus hari minggu lalu Juru Bicara Kantor Politik Taliban Muhammad Naim menyatakan bahwa perang Afghanistan sudah berakhir setelah kelompok itu menduduki istana Kepresidenan di Kabul dan tak hanya itu pasukan AS justru akhirnya ditarik setelah tahun  2021 pasukan AS telah bercokol di Afghanistan dengan alas an mengawal proses demokratisasi klaim dan menghalangi penguasaan oleh Taliban namun saat kelompok Taliban menyatakan mereka berkuasa kembali di Afghanistan dan ingin menerapkan syariat Islam tak lantas membuat rakyat Afghanistan menerima kelompok tersebut.

Fenomena yang terjadi justru banyak warga yang saat ini berebut untuk mendapatkan paspor yang ke luar negeri untuk menyelamatkan diri hal ini tidak lepas dari  fakta buruk saat kelompok Taliban berkuasa di Afghanistan pada 1989 sebelum di gulingkan oleh Invasi  Pimpinan Amerika Serikat tahu 2001 Taliban memberlakukan syariat Islam keras di Afghanistan termasuk melarang anak perempuan bersekolah dan bekerja di luar rumah mereka atau berada ditempat umum tanpa kerabat laki-laki.

Namun Taliban telah memberi pernyataan untuk berubah, Mullah Abdul Ghani Baradar Kepala Kantor Politik Taliban Juni lalu mengatakan mereka berkomitmen untuk pembicaraan damai dan menginginkan sistem syariat yang murni di Afghanistan ia berkomitmen untuk mengakomodasi semua hak warga Negara, apakah mereka laki-laki atau perempuan berdasarkan aturan agama Islam yang mulia dan tradisi mulia masyarakat Afghanistan ia juga menambahkan bahwa fasilitas akan disediakan bagi perempuan untuk bekerja dan di didik sayangnya komitmen Taliban ini hampir tidak ada gunanya.

Ketakutan terhadap penerapan syariat islam sudah terlanjur mengopini di freming oleh media-media besar di dunia yang menjadi rujukan bagi hampir semua media massa lainnya apayang terjadi di Afghanistan saat ini merupakan bentuk sekaligus menjadi bukti betapa kuatnya Intervensi AS dan Asing selama 20 tahun terakhir di Afghanistan yakni mampu mengubah pola fikir dan sikap publik terhadap ajaran agamanya sebenarnya upaya untuk menggambarkan Islam melalui syariat Islam yang buruk pada Taliban selama 1989 hingga 2021 adalah salah satu bentuk fitnah terhadap Islam.

Syariat Islam adalah hukum yang Allah serukan kepada manusia sebagai solusi persoalan hidup yang terjadi memang terkadang kala terdapat perbedaan hukum syara’ sebagai implikasi dari perbedaan Kaidah Ushul Fiqh yang digunakan untuk menggali dan menetapkannnya namun perbedaan ini tidak sampai mengantarkan perbedaan dalam masalah pokoknya yakni Akidah.

Rasulullah SAW bersabda, “ agama adalah nasihat” para sahabat bertanya, “untuk siapa wahai Rasulullah?” Beliau menjawab, “untuk Allah, Kitab-Nya, Rasul-Nya, dan untuk pemimpin kaum muslimin dan kalangan umum” (H.R. Muslim).

Dengan demikian syariat Islam tidaklah identic oleh suatu aliran atau kelompok tertentu Islam bukan Arab, Taliban ataupun Nusantara, selama sesuai dengan kaidah dan dalil hukum yang benar itulah yang kita sebut sebagai Islam.

Dengan merujuk Sirah Nabawiyah dapat di pahami bahwa thariqoh dakwah itu harus melalui umat dengan tiga tahapan didalamnya, yakni : pertama : tahapan pembinaan (tasqif), kedua : tahapan interaksi dengan umat yang didalamnya ada aktivitas tertentu yakni aktivitas shira’ al fikr (perang pemikiran) dan kifah as-siyasi (perjuangan politik), yakni aktivitas mengadopsi kemaslahatan ummah, membongkar makar jahat penguasa dan meminta atau mencari pertolongan kepada ahlu quwah atau memiliki kekuasaan, ketiga : setelah menerima kekuasaan tanpa syarat terjadi tahapan penyerahan kekuasaan yang ditandai dengan penerapan hukum islam secara menyeluruh dan dakwah keseluruh penjuru dunia. 

Aktivitas ini disempurnakan oleh Rasulullah SAW dengan Thalabu Nasrah keberbagai penguasa di Jazirah Arab sampai  akhirnya Allah memberi pertolongan kepada kaum muslimin dengan Nusrah berasal dari Sa’ad bin Muadz di Madinah barulah hijrahnya beliau ke Madinah mengantarkan kemenangan sesungguhnya bagi kaum muslimin.
Wallahu a’alam bishawab. []

Post a Comment

Previous Post Next Post