Krisis Afghanistan dan Intervensi AS


Oleh: Lailatul Khoiriyah, S. Pd (Praktisi Pendidikan)


Taliban menguasai afghanistan sejak 1996 hingga 2001. Pada tahun 2001, pasukan yang didukung AS berhasil merebut kembali Kabul dengan serangan dari utara, melalui Bagram memasuki kota setelah melakukan rentetan serangan udara menewaskan ratusan milisi Taliban yang telah membentuk lingkaran pertahanan.


Bahkan Pangkalan udara Bagram, 64 km utara Kabul, menjadi pusat militer AS selama 20 tahun selama terjadinya perang Afganistan. Namun, akhirnya AS memutuskan untuk hengkang dari afghanistan setelah kehilangan kurang lebih 2.400 pasukan AS tewas di medan panas Afghanistan dan sebanyak 20.000 pasukan AS luka-luka, Serta tidak sedikit biaya dihabiskan untuk kepentingan ini. Ini menjadi bukti kekalahan perang AS di afghanistan.


AS juga menduduki afghanistan dengan alasan mengawal demokratisasi yang ada di sana dan mencegah penguasaan taliban atas afghanistan. Sejak itu krisis afghanistan tidak kunjung usai, bahkan setelah AS memutuskan untuk hengkang dari afghanistan semakin memperparah kondisi tersebut. Sejumlah diplomat yang berada di sana pun berusaha dipulangkan sebelum taliban menguasai penuh kota kabul sebagai ibu kota afghanistan(minggu,15/8/2021). cnnindonesia.com


Bahkan presiden afghanistan Ashraf Ghani telah kabur ke Tajikistan. Dan sebanyak 40 orang terluka akibat terjadinya baku tembak antara taliban dengan tentara pemerintahan afghanistan.


Krisis yang terjadi pasca AS memutuskan untuk hengkang dari bumi afghanistan, membuktikan kuatnya intervensi asing khususnya AS di negeri-negeri muslim terhadap rezim, selain itu menunjukkan betapa lemahnya rezim penguasa negeri muslim saat ini, se-otoriter apapun, maka sejatinya mereka rapuh tanpa kekuatan asing.


Sehingga babak baru penjajahan dimulai dari hard power (perang fisik) menuju soft power( perundingan). Dikabarkan Biro Politik Taliban dan utusan pemerintah Afghanistan melakukan perundingan di Qatar terkait dengan proses pengalihan kekuasaan. Meskipun taliban kembali ingin mengambil peluang mengganti pemerintahan ke arah Islam namun rakyat afghanistan dan dunia sejak awal menunjukkan sikap kontra. Dan ini membuktikan intervensi AS dan asing di dunia Islam, mampu mengubah pola pikir dan pola sikap masyarakat muslim terhadap ajaran agamanya.


Bahkan menurut sejumlah diplomat, pemerintahan interim Afghanistan bakal dipimpin oleh Ali Ahmad Jalali. Dia merupakan mantan menteri dalam negeri Afghanistan dan ilmuwan yang juga berkewarganegaraan AS. Hanya saja taliban belum menunjukkan persetujuannya.


Makin jelas Arah utama soft power AS ini adalah memastikan Khilafah tidak berdiri di Afghanistan. Negosiasi AS melalui agennya memastikan hal tersebut harus terjadi. Strategi soft power lebih berbahaya karena keberhasilan strategi ini dapat mendisorientasikan arah perjuangan musuh tanpa disadari oleh musuh.


Sebagai contoh upaya penerapan islam dapat saja dijalankan di Afghanistan tetapi hanya dalam bingkai nation state. Inilah capaian disorientasi awal yang harus terjadi. Disorientasi berikutnya akan terus dilakukan melalui upaya sekularisasi, penerapan ekonomi kapitalisme dan ujungnya penerapan demokrasi dalam aspek politik. Hal inilah yang harus disadari oleh kaum muslimin, terutama para pejuang Islam di Afghanistan. Karena hal yang sangat ditakuti AS dan barat adalah tegaknya kembali Khilafah yang akan menghentikan imperialisme AS dan barat terhadap negeri-negeri muslim.


Pejuang islam hendaknya tak sekedar puas dengan berkibarnya Al Liwa di bumi Afghanistan. Karena itu ada sedikit catatan dan harapan untuk krisis afghanistan yaitu:


1. Jangan bernegosiasi dengan AS melalui para agennya baik Turki, Pakistan maupun lainnya karena tidak ada gunanya, mereka hanya berusaha untuk menjaga imperialismenya di negeri-negeri muslim tetap tegak.


2. Tidak boleh ada perjanjian dengan pihak penjajah dan pihak manapun agar tidak menegakkan Khilafah serta menghentikan konsepsi nation state dalam penerapan islam yang akan semakin menyempitkan dan merusak Islam.


3. Jangan melakukan kerjasama dengan kafir harbi muhariban fi'lan termasuk China. apalagi dengan menghilangkan kepedulian untuk membela saudara sesama muslim di Uyghur.


4. Stop investasi asing dan utang luar negeri untuk membangun negara termasuk dengan China karena hanya akan melahirkan jebakan hutang dan ujungnya kaum penjajah yang akan berkuasa.


5. Ini kesempatan untuk Perjuangan Taliban agar menegakkan khilafah Islam dengan mencontoh metode rasulullah yg berfokus menyiapkan pemikiran islam umat dan tidak berkompromi sedikitpun dengan tawaran Barat atau timur dengan menghentikan semua poin di atas.


Hal lain yang terkait, pergerakan AS ke wilayah Asia Pasifik, tak sekedar untuk membendung pengaruh China tetapi harus dibaca lebih luas yaitu untuk membendung kebangkitan Islam di wilayah ini dan tentunya tegaknya Khilafah dari timur jauh. Karena Tegaknya khilafah adalah sesuatu yang sangat menakutkan bagi para penjajah.

wallahu a'lam bi ash shawab. 

Post a Comment

Previous Post Next Post