Kegagalan Kapitalisme: Di Masa Pandemi, Setengah Juta Lebih Mahasiswa Putus Kuliah


Oleh Yunita M
(Anggota Komunitas Sahabat Hijrah Banggai Laut, Sulteng) 

Pandemi Covid-19 masih belum berakhir. Dampaknya terus bertambah. Termasuk bidang ekonomi dan pendidikan. Hal ini secara otomatis akan membuat kondisi masyarakat semakin tercekik. 

Banyak mahasiswa putus kuliah. Informasinya lebih dari setengah juta putus kuliah di masa pandemi Covid-19 seperti yang disampaikan Kepala Lembaga Beasiswa Baznas, Sri Nurhidayah. 

Mengutip data dari Kemendikbudristek, Sri mengatakan sepanjang tahun lalu angka putus kuliah di Indonesia mencapai 602.208 orang. 

“Kita tahu kondisi saat ini bagaimana krisis pandemi Covid-19 menyebabkan angka putus kuliah naik tajam”. (Jawa Pos.com, 16/2021) 

Terpaksa memutuskan untuk berhenti kuliah memang berat bagi para mahasiswa. Apalagi bagi mereka yang sudah menempuh semester akhir. Terbayang perjuangan yang dilewati untuk menggapai ijazah dan kelak dapat mengenakan toga, berfoto bersama keluarga dan kerabat. Sungguh mendulang kebanggaan. Namun sayang impian tersebut harus terhenti  bahkan pupus.

Bukan tanpa alasan, kebanyakan yang menyebabkan mahasiswa putus kuliah adalah faktor ekonomi. Pasalnya akibat pandemi Covid-19, banyaknya PHK  terjadi diberbagai daerah. Menjadikan para orang tua kehilangan pekerjaan. Sehingga tak sanggup lagi membiayai pendidikan anak-anaknya. Apalagi dalam tingkat perguruan tinggi.
  
Para orang tua pun kesulitan dalam memenuhi nafkah pada keluarganya. Jangankan biaya pendidikan, untuk kebutuhan makan sehari-hari saja rasanya terasa sangat sulit. Bukan hanya itu, kebijakan pembelajaran daring yang diberlakukan pemerintah, menambah daftar tanggungan lagi   bagi para orang tua. Pasalnya, para orang tua dituntut untuk memenuhi segala fasilitas. Entah itu kuota internet, handphone android, laptop dan lain-lain, demi menunjang terselenggaranya pembelajaran virtual yang diberlakukan. 

Semua tergambar didepan mata kita betapa kegagalan sistem tampak jelas. Ternyata kegagalan ini disebabkan negeri ini masih terus bertumpuh pada sistem kapitalisme, termasuk sistem ekonomi dan pendidikannya.  Melahirkan permasalahan ditengah tengah umat yang tak kunjung ada habisnya. 

Kesejahteraan seakan jauh dari masyarakat. Bagaimana tidak dalam kapitalisme, penguasa abai atas kewajibannya dalam memenuhi segala kebutuhan masyarakat terlebih lagi kebutuhan pendidikan. 

Penguasa dalam sitem ini, tidak menjalankan perannya secara optimal sebagai pengurus rakyat. Negara tidak memfasilitasi kebutuhan pendidikan dengan maksimal. Begitupun juga dengan kebutuhan pokok lainnya.  

Dalam hal ekonomi, negara tak mampu menyediakan lapangan pekerjaan. Sumber daya alam yang begitu berlimpah hanya diberikan kepada asing dan pemilik modal. Dimana seharusnya negara yang mengelola dan hasilnya untuk memenuhi kebutuhan masyarakat. 

Jikapun ada keuntungan, penguasalah yang banyak menikmatinya. Mengingat pemimpin dalam kapitalisme, mereka lebih condong mementingkan diri dan kelompoknya. Berkuasa tujuan utamanya meraih keuntungan materi sebanyak-banyaknya.

Maka tidak ada pilihan lain bagi kita selain meninggalkan kapitalisme. Sumber kesengsaraan dunia maupun akhirat. Saatnya kita kembali pada sistem hak, bersumber dari sang pencipta manusi yakni Islam. 

Islam memenuhi kebutuhan masyarakat mulai dari kebutuhan pokok seperti sandang, pangan, papan. Juga keamanan, pendidikan, kesehatan, dan yang lainnya. Semua ini adalah adalah tugas negara. 

Hal ini dibiayai melalui kekayaan alam yang melimpah anugerah Allah Swt. Negara akan memanfaatkan kekayaan alam tersebut untuk kebutuhan masyarakat, dan jelas tidak akan menyerahkannya pada segelintir orang  pemilik modal. 

Negara Islam yang dikenal dengan khilafah akan melahirkan pemimpin yang amanah lagi bertanggung jawab. Sebab mereka terpilih atas kemampuan dan kesediaan mereka dalam memikul amanah yang kelak akan dipertanggung jawabkan dihadapan Allah Swt. Sehingga seluruh kebutuhan masyarakat akan diperhatikan dengan baik. Tak ada lagi solusi terbaik selain dari pada Islam. 

"Imam(Kholifah) adalah Ro'in(Pengurus) dan ia bertanggung jawab atas rakyat yang ia urus."
(HR. Al-Bukhori)

Olehnya itu, masihkah kita memilih kapitalisme sedang Allah sang Maha Kasih telah menurunkan Islam sebagai rahmat bagi seluruh alam, satu-satunya sistem yang memanusiakan manusia kita campakkan? 
Wallahu a'lam bishshawab

Post a Comment

Previous Post Next Post