Indonesia Merdeka, Wujudkan Tangguh dan Tumbuh Hakiki


Oleh  Ummu Zhafran
Pegiat Literasi

Benarkah kita sudah merdeka?  Pada momen hari  kemerdekaan tahun ini persoalan di atas kembali menyapa. Dengan mengangkat tema Indonesia Tangguh Indonesia Tumbuh, seolah justru mengundang gaduh.  Tak sedikit kalangan yang mengkritisi, tangguh dan tumbuh dilihat dari kacamata siapa?  

Pasalnya, tak mengada-ada, Indef  (Center of Industry, Trade, and Investment Institute for Development on Economics and Finance) menilai pertumbuhan  ekonomi Indonesia sebesar 7,07 persen pada kuartal II/2021 merupakan pertumbuhan semu. 

Artinya meski dengan pertumbuhan tinggi, ekonomi dan kegiatan masyarakat masih belum kembali normal seperti sebelum pandemi Covid-19.  Bahkan jika dibandingkan dengan capaian rata-rata pertumbuhan kuartalan di 2018 dan 2019, pertumbuhan PDB di kuartal II/2021 justru mengalami penurunan. (bisnis.com, 6/8/2021)

Belum lagi soal utang Luar Negeri (ULN) Indonesia pada akhir Mei 2020 yang tembus jumlahnya sebesar US$ 404,7 miliar. Nilainya setara Rp5.922 triliun (kurs Rp14.633 per dolar AS). (cnnindonesia, 17/7/2020)  Fakta bahwa hampir tiada negara yang tidak berutang saat ini tak lantas memicu kenikmatan hidup di atas utang bukan?  Lalu bagaimana bisa disebut tangguh?  Fantastis sekaligus mengiris.  Jangan sampai narasi yang dirayakan tanah air selama lebih tiga perempat abad ini baru sebatas ilusi.  Tampak ketangguhannya masih dipertanyakan sedang pertumbuhannya pun melaju ke arah semu.

WJS Poerwadarminta dalam Kamus Umum Bahasa Indonesia (PN Balai Pustaka, Djakarta, 1966) menyatakan merdeka berarti, “bebas (dari perhambaan, pendjadjahan); berdiri sendiri (tidak terikat, tidak bergantung pada sesuatu juga lain); lepas (dari tuntutan).”

Senada dengannya, terdapat adagium Arab,  "La syai'a atsman-u min-aal-hurriyah."  Berarti tak ada yang lebih bernilai dibanding kemerdekaan.
Benarlah demikian sebab merdeka atau kemerdekaan (al-hurriyyah) merupakan suatu nilai tertinggi dan anugerah Tuhan yang amat berharga bagi manusia. Tak satu pun di muka bumi ini bisa mengingkari absolutnya manusia ciptaan Allah. Keagungan Sang Pencipta semakin mengkristal saat  memberikan kemerdekaan kepada manusia saja, tidak untuk makhluk lainnya seperti langit dan bumi. Eksistensi akal  menjadikan kita sanggup mencerna ketauhidan Allah. Berikutnya, akan mengantar pada pemahaman bahwa manusia tidak boleh tunduk kepada siapa pun selain Allah. 

Penghambaan manusia kepada sesama manusia, apalagi kepada makhluk lain yang lebih rendah, dapat merendahkan harga diri manusia, bahkan melecehkan harkat kemanusiaan. Sebab berarti menyimpang dari tujuan  manusia diciptakan, yaitu untuk beribadah.
Dengan kata lain,  merdeka mutlak esensinya ketaatan kepada Allah Yang Maha Pencipta.

Firman Azza wa jalla, 
“Tidak Aku ciptakan jin dan manusia kecuali untuk beribadah kepada-Ku.” (QS Adz-Dzariyat:56)

Inilah kemerdekaan sejati yang dibawa dan diadvokasi oleh para Nabi dan Rasul Allah sepanjang sejarah. Mewujudkan penghambaan hanya kepada Allah Swt. Membebaskan manusia dari ketaatan dan ketundukan pada selain-Nya.
Sebagaimana seruan Rasulullah saw. pada penduduk Najran melalui surat yang terekam dalam sirah,  
“…Amma ba’du. Aku menyeru kalian untuk menghambakan diri kepada Allah dan meninggalkan penghambaan kepada sesama hamba (manusia). Aku pun menyeru kalian agar berada dalam kekuasaan Allah dan membebaskan diri dari penguasaan oleh sesama hamba (manusia)… (Al-Hafizh Ibnu Katsir, Al-Bidâyah wa an-Nihâyah, v/553).

Wahai anak negeri, narasi perjuangan kemerdekaan negeri ini boleh saja usai. Namun geliatnya masih terus mempertontonkan ironi. Persoalan tak kunjung henti mendera kita karena beragam solusi nyatanya tak kunjung bikin selesai. Ditambah pandemi yang belum juga menepi.  Bahkan korban semakin menduplikasi. Maka mari sama-sama  evaluasi.  Adakah tujuan hidup kita sebagai makhluk di dunia sudah usai dipahami?

Padahal terdapat  firman Allah Swt.,
‘Mereka (Bani Israil) menjadikan para pendeta dan para rahib mereka sebagai tuhan-tuhan selain Allah…” (QS At-Taubah:31).
Saat ditanyakan perihal maksud ayat ini, Rasul Saw. menjelaskan,
“Jika para rahib dan pendeta mereka menghalalkan sesuatu untuk mereka maka mereka pun menghalalkannya, dan jika para rahib dan pendeta mereka mengharamkan sesuatu atas mereka maka mereka pun mengharamkannya.” (HR At-Tirmidzi)

Jelaslah Islam datang untuk membebaskan manusia dari  kesempitan dunia akibat mengikuti aturan buatan manusia menuju kelapangan dunia dengan syariat dari Allah yang Maha Pencipta. 

Maka cara terbaik menjadikan semua itu nyata jika umat manusia mengembalikan hak penetapan aturan hukum hanya kepada Allah dan Rasul Saw.  Artinya, memberlakukan syariah  secara kafah dalam seluruh aspek kehidupan.   Hingga kemerdekaan di bawah naungan Islam yang Rahmatan lil alamin sebagaimana janji Allah menjelma nyata. Ketangguhannya tak bakal diragukan, juga pertumbuhannya tak berhenti di wilayah Ibu Pertiwi namun hingga   mendunia.  Mengikuti jejak yang dahulu telah ditorehkan sejak masa Rasulullah Saw., Khulafaurrasyidin dan para Khalifah setelahnya.  Wallahua’lam.

Post a Comment

Previous Post Next Post