Pasien Isoman Meninggal Dunia, Tanggung Jawab Siapa?


Oleh: Farah Sari, A. Md
(Aktivis Dakwah Islam)

Meninggalnya seorang manusia memang sudah Allah Swt tetapkan waktunya. Ini adalah Qodha yang menjadi wilayah kekuasaanNYA. Tidak ada seseorang atau sesuatu apapun yang bisa menunda atau memajukan waktunya. Namun manusia bisa melakukan ikhtiar optimal untuk bisa sembuh dan kembali sehat atas izin Allah Swt. Karena ikhtiar ini ada pada wilayah yang dikuasai oleh manusia. Muslim tentu meyakini penuh akan hal ini.

Berharap pandemi Covid 19 yang melanda negeri ini dan dunia segera berlalu terasa semakin Jauh. Melihat fakta peningkatan kasus pasien meninggal yang terdata. Bisa jadi angkanya lebih besar, karena berkemungkinan ada yang tidak terdata. Korban tak hanya dari warga tapi dari tenaga kesehatan juga. Tidak hanya meninggal di rumah sakit tapi juga di rumah saat isolasi mandiri.

Pertanyaannya, faktor apa saja yang bisa menyebabkan pasien isoman meninggal? Dikutip dari laman Kompas.com (7/7/2021). Pertama, pasien alami perburukan kondisi. Ketua Bidang Penanganan Kesehatan Satgas Covid-19 Nasional, Brigjen TNI Purn dr Alexander K Ginting Sp.P(K), FCCP menyebut salah satunya kondisi kesehatan pasien yang berangsur memburuk saat menjalani isolasi mandiri di rumah. Intinya mereka isoman yang awalnya ringan tapi tidak ada pendampingan, akhirnya perburukan, terus sepsis atau gagal nafas, dan meninggal dunia. 

Kedua, pasien tidak  melapor. Orang-orang yang terinfeksi itu tidak ke puskesmas dan tidak melapor ke RT karena malu serta takut mendapat stigma yang berakibat tidak dapat obat paket Covid-19. Alexander juga mengungkapkan penyebab lainnya, selama pandemi mereka yang memiliki penyakit penyerta atau komorbid takut berobat ke RS sehingga obat tidak adekuat. Kemudian, setelah beberapa hari isoman tanpa obat dan klinis perburukan gejala mereka tetap bertahan di rumah tanpa konsultasi ke fasyankes.adap stigma negativ.

Tidak adanya pendamping pasien isoman dan munculnya rasa malu karena stigma negatif sebagai penderita covid 19 tidak akan terjadi jika ada edukasi yang cukup dan tepat oleh pemerintah ditengah-tengah masyarakat tentang covid 19. Dan upaya serius pemerintah dalam penanganan covid 19 harusnya terlihat dengan optimanya pendampingan kesembuhan pasien isoman. Wajar saja masyarakat akhirnya mempertanyakan, seriuskah penguasa negeri ini mengakhiri pandemi?

Dikutip dari laman detiknews.com (18/07/20)  menyatakan "Data mereka yang meninggal di rumah saat isoman, tim data LaporCovid sejak Juni sampai hari ini terdapat setidaknya 675 warga yang melakukan isoman dan meninggal dunia. Beberapa di antaranya mengalami penolakan dari rumah sakit. Lalu bulan ini saja, nakes di Indonesia yang meninggal, ini belum genap sebulan, tapi ada 206 nakes yang meninggal," kata Koordinator LaporCovid-19, Irma Hidayana, dalam konferensi pers virtual, Minggu (18/7/2021).
Irma mencatat, jika ditotalkan, ada 1.371 nakes yang meninggal selama 1,5 tahun pandemi mewabah di Tanah Air. Pihaknya juga masih menerima laporan masyarakat yang kesulitan mendaftar vaksinasi. Irma kemudian menyinggung aksi nyata pemerintah menekan mobilitas warga demi turunnya laju penyebaran virus Corona. Walaupun, kata Irma, dia sangat  mengapresiasi permintaan maaf pemerintah yang mengakui ketidakoptimalan kebijakan PPKM darurat. Irma berharap pemerintah dapat membatasi gerak masyarakat agar lebih mudah melacak kasus virus Corona. Hal itu dilakukan semata-mata agar jumlah pasien yang mengalami gejala parah dapat berkurang.

Pendapat Irma sebagai koordinator Covid 19 di atas menegaskan beberapa hal berikut: Pertama, Pemerintah terlihat tidak siap menghadapi pandemi. Saat kasus Covid-19 melonjak rumah sakit penuh, ketersediaan oksigen terbatas, dan fasilitas tidak tercukupi. Kedua, kebijakan penanganan pandemi tidak konsisten. Istilah yang terus berganti, berakibat membingungkan masyarakat ditengah ekonomi yang kian sulit. Disamping itu tracing terhadap penderita covid 19 sulit dilakukan dengan mobilitas masyarakat yang terus terjadi. Ketiga, pemantauan dan pengurusan terhadap pasien isoman minim. Meski pemerintah menyalurkan  paket obat dan multivitamin, hal itu tidaklah cukup. Harus ada pendataan yang jelas terhadap masing-masing pasien. Sebab, tidak semua pasien bisa mengakses alat medis secara mandiri di rumah seperti oximeter, termometer dll. Keempat, minimnya edukasi kepada pasien isoman. Bagaimana cara benar tentang langkah yang tepat menangani Covid-19 di rumah. 

Oleh karena itu, peran negara sangat besar dalam mengakhir pandemi. Karena besarnya peran seorang pemimpin, maka Islam telah menjelaskan tentang kewajiban  pemimpin terhadap rakyatnya. Nabi Muhammad Saw bersabda: Sesungghnya Imam (Khalifah) adalah raain (pengurus rakyat) dan ia bertanggung jawab atas pengurusan rakyatnya (HR al-Bukhari). 

Dan Nabi Muhammad Saw juga bersabda : Sesungguhnya al-Imam (Khalifah) itu perisai, di mana (orang-orang) akan berperang di belakangnya (mendukung) dan berlindung (dari musuh) dengan (kekuasaan) nya. (HR. Al-Bukhari, Muslim, Ahmad, Abu Dawud, dll).

Pemimpin seperti ini adalah sosok dambaan umat. Adakah pemimpin yang seperti ini saat ini? Sulit berharap dia akan hadir ditengah-tengah kita ketika sistem kehidupan masih berjalan berdasarkan aturan buatan manusia. Yaitu demokrasi kapitalis. Yang tegak atas dasar pemisahan agama dari kehidupan. Pemisahan agama dari negara. Yang menjadikan manfaat sebagai standar dalam perbuatan.

Ini sangat bertolak belakang dengan pemimpin dalam islam. Seorang pemimpin yang memahami islam dengan benar dan utuh akan menerapkan seluruh syariat yang datang dari Allah Swt. Motivasi dalam menjalankan kebijakan adalah ketaatan pada Allah Swt. Dia akan memberikan kontribusi terbaik untuk rakyat dalam membangun peradaban islam. Sehingga kaca mata yang digunakan untuk memecahkan problematika kehidupan yang terjadi hanya syariat saja. Islam memiliki cara yang khas dalam penanganan pandemi. Kemampuan syariat ini tidak diragukan lagi. Karena aturan tersebut datang dari Allah Swt. Aturan ini akan memberikan kebaikan dan keselamatan dalam kehidpan manusia dunia dan akhirat.

Post a Comment

Previous Post Next Post