Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Banjir Cibadak, Problem Sistemis di Alam Kapitalis

Sunday, June 06, 2021 | Sunday, June 06, 2021 WIB Last Updated 2021-06-06T12:17:04Z
Oleh Neneng Sriwidianti
Pengasuh Majelis Taklim dan Pegiat Literasi

Kerusakan luar biasa telah melanda negeri ini. Kerusakan alam yang menyebabkan berbagai bencana dan memakan korban serta kerugian secara materi tidak terhitung jumlahnya. Banjir adalah salah satu bencana yang sering mengancam ibu pertiwi, terutama di saat musim penghujan. Tahun ini, hampir semua wilayah di Indonesia terendam banjir, tak terkecuali Jawa Barat.

Dikutip oleh tribunjabar.id, (29/5/2021). Kawasan Cibadak kota Bandung banjir lagi. Hujan deras yang melanda kota Bandung menyebabkan banjir setinggi lutut, terutama di Rw 07, Rt 01 dan RT 02, Kelurahan Cibadak, Kecamatan Astanaanyar. Kawasan tersebut memang menjadi langganan banjir. Ironisnya lagi, jembatan yang rusak diterjang banjir 2020, sampai hari ini belum diperbaiki. Menurut Atik, ketua RT 02, mengaku tak kaget ada banjir dan sudah bosan mengadu karena tak pernah ada solusi dari Pemkot Bandung.

Masih dari sumber yang sama. Menurut Tony, warga RT 01, banjir disebabkan karena adanya tol air. Sejak itulah, banjir selalu masuk ke pemukiman, padahal sebelumnya banjir hanya sesekali saja terjadi.

Tol air yang dibangun Pemkot Bandung pada akhir tahun 2017, merupakan program pemerintah untuk mengatasi banjir di wilayah Jalan Pagarsih. Sebelum tol air dibangun, setiap hujan besar Jalan Pagarsih selalu dilanda banjir akibat Sungai  Citepus meluap dan tak mampu menekan debit air di kala hujan deras.

Namun, setelah tol air itu dibangun, banjir di Jalan Pagarsih sedikit berkurang. Akan tetapi dampaknya malah menyasar pemukiman yang berada di pinggir Sungai Citepus, terutama di kawasan Astanaanyar. Lagi-lagi rakyat kecil menjadi korban kebijakan penguasa yang tidak pro rakyat.

Bencana banjir yang melanda Kota Bandung umumnya terjadi karena ketidaksanggupan sungai sebagai drainase alami tidak berfungsi dengan baik. Selain itu juga, sungai meluap akibat sedimentasi atau endapan ditambah sampah plastik yang menyumbat aliran sehingga mengakibatkan  banjir cileuncang. Adapun titik yang perlu diwaspadai yaitu di Sungai Citepus Pagarsih, Pasteur, Cinambo, Cisaranten, juga Cikapundung.

Pengamat Tata Kota dari Institut Teknologi Bandung (ITB) Denny Zulkaidi mengatakan, drainase di wilayah Kota  Bandung tidak berfungsi. Hal ini terbukti saat hujan tiba secara otomatis ruas jalan dan gang-gang pemukiman terendam akibat banjir cileuncang.

Pemerintah Kota  Bandung semestinya bisa mengantisipasi terjadinya banjir. Selain bencana musiman juga harus mengetahui titik yang rawan terjadinya banjir. Dalam mengantisipasi banjir pun harus secara menyeluruh yakni dari hulu hingga hilir.

"Jika atasnya diperbaiki maka bawah juga. Atau kemarin adanya tol air yang Utara dipercepat tapi di Selatannya tidak diatasi, sehingga tidak tertampung dan semakin besar banjirnya. Butuh keseriusan pemerintah untuk mengatasinya," ujarnya. (JawaPos.com, 24/11/2018)

Banjir di perkotaan juga diakibatkan oleh alih fungsi lahan sawah yang banyak terjadi. Baik untuk proyek perumahan, maupun penyelenggaraan kawasan bisnis milik para kapitalis.

Maka tidak heran, jika saat ini hampir semua lahan di kota-kota tertutup semen dan aspal. Kondisi ini diperparah oleh rancangan instalasi drainase yang buruk, menyebabkan air seolah tak punya jalan kembali.

Fakta yang terjadi adalah problem sistemik di alam demokrasi yang diterapkan saat ini. Paradigma sekuler kapitalistik yang diadopsi penguasa negeri ini telah membuat hal-hal diluar keuntungan materi menjadi terabaikan. Keselamatan dan kebutuhan rakyat tidak menjadi prioritas yang utama, yang penting ada pembangunan dan keuntungan datang. Aturan hidup yang menafikan peran Allah Swt. telah melahirkan berbagai kemaksiatan hampir di seluruh sendi kehidupan.

Kemaksiatan itu mengakibatkan fasad (kerusakan) di muka bumi. Di antaranya berupa bencana alam dan dampaknya. Semua ini baru sebagian akibat yang Allah Swt. timpakan karena berbagai pelanggaran yang terjadi di tengah manusia. Tujuannya agar manusia segera sadar dan kembali pada syariah-Nya.

"Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia; Allah menghendaki agar mereka merasakan sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar). (TQS. Ar-Rum [30]: 41)

Karena itu, solusi untuk mengakhiri segala musibah yang datang tidak lain dengan mencampakkan alasan penyebabnya, yakni ideologi dan sistem sekularisme kapitalisme, yang terbukti hanya menimbulkan kerusakan bagi umat manusia.

Selanjutnya, terapkan ideologi dan sistem Islam. Dengan menerapkan aturan Islam secara kafah dalam seluruh aspek kehidupan termasuk dalam pengelolaan lahan/tanah, sumber daya alam dan lingkungan hidup, persoalan yang menimpa negeri ini akan terurai. Barakah akan datang dari langit maupun bumi.

Wallahu a'lam bishshawab

No comments:

Post a Comment

×
Berita Terbaru Update