Oleh Cahyani Pramita, SE
(Aktivis Muslimah Peduli Negeri)
Innalillahi wa inna ilayi raaji’uun, kecelakaan alutista TNI/Polri kembali terjadi. Menambah panjang deretan kecelakaan alutsista yang seolah tak jemu menghampiri negeri ini. Semakin banyak prajurit yang menjadi korban sebelum berlaga dimedan perang membela negara. Setidaknya ada 15 kecelakaan alutsista TNI/Polri dalam kurun waktu enam tahun terakhir. Jatuhnya pesawat TNI AU saat latihan aerobatic di Langkawi, Malaysia dan jatuhnya pesawat Hercules C-130 di tahun 2015), jatuhnya pesawat latihan Super Tucano TNI AU, helikopter Bell 412 EP, Helikopter Bell 205 A-1, Helikopter Bell 412 EP pesawat Skytruck Polri, helikopter Bell C-130 HS di tahun 2016, terperosoknya Tank M113 TNI AD ke Sungai di Purworejo Jawa Tengah di tahun 2018, jatuhnya helikopter M1-17 di tahun 2019, jatuhnya Helikopter MI-17 HA5141, pesawat tempur Hawk 209 dan tenggelamnya KRI Teluk Jakarta-541di tahun 2020 dan yang terbaru yakni tenggelamnya KRI Nanggala-402 milik TNI AL pada 21 April 2021 yang lalu. (bbc.com, 22/4/2021).
Pengamat militer dari Institute For Security and Strategic Studies (ISSES) Khairul Fahmi menyebut bahwa peristiwa KRI Nanggala-402 ini seharusnya menjadi momentum kesekian yang membuat Indonesia berbenah terkait armada lautnya. Pakar maritim, Prof. Daniel M. Rosyid Ph.D juga berharap ada evaluasi secara teknis terkait penyebab keceakaan ini dimana KRI Nanggala 402 adalah kapal tua yang sudah melebihi masa perencanaannnya (hanya 25 tahun) dan agenda maintenance lima tahunannya tidak diikuti. Ia melihat kebjiakan industri maritim masih dianaktirikan dibawah otomotif. Terjadi proses demaritimisasi. Belum ada pembangunan infrastruktur yang menguatkan maritim, pertahanan hingga komersialnya.
Menhan Prabowo Subianto mengatakan dalam konferensi pers Rabu (22/4/2021) bahwa alutsista di bidang pertahanan memang cukup mahal, bahkan sangat mahal. Pemimpin Negara selalu dihadapkan dengan dilema harus mengutamakan pembangunan kesejahteraan tapi menjaga kemampuan pertahanan supaya kedaulatan tidak terganggu jelas Prabowo. Banyak alutsista yang karena keterpaksaan dan karena mengutamakan pembangunan kesejahteraan belum dimodernisasi dengan cepat.
Kondisi militer negeri ini tampak tidak diurus. Orientasi materi menjadi faktor tarik ulur prioritas dana. Mana yang lebih menghasilkan materi maka itulah yang diprioritaskan oleh Negara/penguasa. Maka kita saksikan pembangunan ekonomi menjadi prioritas karena sektor ini menjanjikan keuntungan investasi tinggi. Bidang pertahanan yang dianggap kurang memberi keuntungan materi maka akan dikesampingkan. Selain itu, sistem ekonomi yang rapuh dengan berbasis pada utang (ribawi) dan pajak membuat negeri ini rentan intervensi asing dan jauh dari kemandirian hingga kesalahan prioritas pendanaan. Tak ayal alutsista tak kunjung memadai, tak kunjung diupdate, hingga tergantung pada negara lain karena tak mampu memproduksi sendiri.
Sistem sekuler-kapitalisme negeri ini meniscayakan pengelolaan urusan negara termasuk militer sarat dengan kepentingan individu/kelompok dengan motif keuntungan materi semata. Tak ada prioritas untuk menjaga keamaanan/pertahanan hingga kedaulatan negara. Berbeda jauh dengan pengelolaan negara didalam Islam. Segala urusan kehidupan dijalankan berdasar aqidah dengan penerapan syariah secara totalitas. Jauh mengejar keuntungan materi semata dan jauh dari dominasi kepentingan individu/kelompok tertentu.
Negara khilafah memberikan perhatian besar bagi militernya. Militer bukan sekedar menjadi Badan Pertahanan bahkan sebagai departemen pelaksana kewajiban dari Allah Swt. yaitu menyebarluaskan Islam ke seluruh penjuru dunia dengan dakwah dan jihad. Dengan tugas istimewa ini militer daulah dituntut menguasai persenjataan tangguh, terkuat, terhebat. Negara mendukung secara totalitas kekuatan militer dengan membangun industri militer sendiri hingga bebas dari ketergantungan terhadap pihak asing. Show of force dan psy-war yang kuat akan semakin meningkatkan bargaining position negara atas negara-negara musuh. Allah Swt dalam QS. Al Anfal: 60 yang artinya “Dan persiapkanlah dengan segala kemampuan untuk menghadapi mereka dengan kekuatan yang kau miliki dan dari pasukan berkuda yang dapat menggentarkan musuh allah, musuhmu dan orang orang selain mereka yang kamu tidak mengetahuinya; tetapi allah mengetahuinya. Apa saja yang kamu infakkan di jalan Allah niscaya akan dibalas dengan cukup kepadamu da kamu tidak akan didzalimi (dirugikan).”
Dalam pembiayaannya, negara khilafah juga tak akan mengalami kesulitan. Baitul mal memiliki aneka pos dan alternatif pendanaan. Baitul mal akan mengambilkan dana dari pos-pos kepemilikan negara (fa’I, kharaj, jizyah, khumus) yang jika tidak mencukupi maka akan diambilkan dana dari pos kepemilikan umum dan jika belum mencukupi juga, negara bisa memperoleh dana dari sumbangan rakyat hingga pemungutan pajak yang bersifat temporal hingga dana terpenuhi.
Umat Islam pada masa khilafah silam memiliki alutsista yang mumpuni dan dihasilkan di dalam negeri. Manjaniq (alat pelontar) yang dibuat oleh Salman Al Farisi saat pengepungan Thaif hingga kapal perang pun dibuat sesuai dengan karakter laut/ samudera dan sesuai fungsi kemiliterannya. Ada asy syunah (kapal besar pembawa pasukan), ath tharidah (kapal dengan kecepatan tinggi untuk mengejar musuh) dan masih banyak jenis lainnya.
Demikianlah jika kita ingin memperbaiki militer negeri ini. Kita butuh penerapan Islam secara praktis dan universal oleh negara sebagaimana khilafah dimasa silam. Alutsista mumpuni bukanlah mimpi. Alutsista yang terhebat, senantiasa terawat dengan baik hingga tak membahayakn prajurit itu sendiriwajib diselenggarakan Negara. Industri militer disupport penuh oleh negara agar mampu menjalankan aktivitas agung yaitu dakwah dan jihad. Allahu Akbar.
Wallahu a’lam bish shawab.

No comments:
Post a Comment