Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Etnis Rohingya, Masalah Tak Kunjung Usai

Monday, June 29, 2020 | Monday, June 29, 2020 WIB Last Updated 2020-06-29T05:00:54Z
Oleh: Halimah Ummu Nabila

Memprihatinkan. Sebanyak 94 orang pengungsi etnis Rohingya, terdiri dari 15 orang laki-laki, 49 orang perempuan, dan 30 orang anak-anak ditemukan terdampar di pesisir Pantai Seunuddon, Kabupaten Aceh Utara. Mereka menumpang kapal ala kadarnya hingga dalam kondisi tidak aman. Pemerintah setempat menerima mereka karena alasan kemanusiaan. (24/06) 

Berkaitan dengan hal ini, Organisasi Nasional Arakan Rohingya (ARNO) mengucapkan terima kasih kepada Indonesia karena telah menyelamatkan pengungsi Rohingya yang terdampar dan kesulitan di laut Aceh, serta memberi mereka tempat berlindung sementara dan bantuan atas dasar kemanusiaan. (27/6)

Mereka adalah pengungsi yang melarikan diri dari negeri asalnya yaitu Myanmar. Sejak tahun 2012 telah terjadi kekerasan terhadap ethnis Rohingya yang berakibat pada gelombang pengungsi keluar dari Myanmar, hingga saat ini. 

Berbagai upaya telah dilakukan. Organisasi ARNO yang berpusat di London, Inggris menyerukan kepada negara-negara ASEAN untuk menekan pemerintah Myanmar agar menghentikan kekerasan tersebut. Bahkan ARNO juga meminta Amerika Serikat dan Uni Eropa membantu ASEAN untuk memastikan bahwa perjanjian internasional untuk menghentikan dan mencegah perdagangan manusia diberlakukan di Myanmar.

Akan tetapi kondisi tidak membaik. Gelombang pengungsi terus berlanjut. Adakalanya berakhir dengan pengungsi tewas mengenaskan di atas kapal terlunta-lunta di tengah lautan, atau kapal yang tenggelam akibat pelayaran yang tidak aman bahkan banyak terjadi praktik perdagangan manusia terhadap mereka.

Myanmar menganggap etnis Rohingya sebagai imigran ilegal dari anak benua India. Mereka mengurung etnis Rohingya di puluhan ribu kamp konsentrasi yang tersebar di negara bagian Rakhine untuk memisahkan warga minoritas muslim ini dari populasi Buddha di sana (republika.co.id, 13/06/2019). Penindasan yang dialami oleh etnis Rohingya terjadi dalam rentang waktu yang sangat lama. Mereka mayoritas muslim, mereka tidak bisa mencari pekerjaan, menikah dan sekolah, tidak punya akta lahir dan surat kematian, serta menjadi korban perkosaan, pembunuhan, dan diskriminasi.

Mungkinkah ini akan terjadi selamanya? Tentu sebagai manusia menutup mata untuk mereka adalah melawan naluri kemanusiaan. Apalagi jika melihat dalam ajaran Islam bahwa sesama muslim itu bersaudara. Maka tidak selayaknya dunia Islam membiarkanya. 

Pada faktanya ASEAN bahkan dunia islam saat ini tidak mampu melakukan apa-apa. Apa lagi berharap keselamatan kaum muslim dari Eropa dan Amerika tentu mustahil. Dunia butuh khilafah yang mampu mengimplementasikan bahwa sesama muslim bersaudara, satu tubuh, yang akan menolong karena menjalankan Al Qur'an dan As Sunnah. 

Khilafah akan melindungi darah seluruh kaum muslimin, melindungi mereka dari segala bentuk penindasan terutama dari kaum kafir.

“[Imam/Khalifah itu tak lain] laksana perisai. Dia akan dijadikan perisai, di mana orang akan berperang di belakangnya, dan digunakan sebagai tameng.” (HR Bukhari-Muslim)

Sehingga saat ini kaum muslim tidak hanya mendoakan keselamatan mereka tetapi juga mengupayakan dengan sungguh-sungguh kekuatan riil kaum muslimin yaitu khilafah. Yang dahulu pernah mengayomi hampir 2/3 dunia dengan kebaikan dan keadilannya. Wallahu 'alam.
×
Berita Terbaru Update