Oleh : Herni Susita, A.Md
(Aktivis Mahasiswa)
Pembangunan tak berhasil menghapuskan jurang antara si kaya dan si miskin. Mungkin inilah tajuk yang tepat untuk menggambarkan bagaimana kondisi negeri ini. Pembangunan dimana-mana yang tak kunjung henti, dengan dalih upaya peningkatan pendapatan hingga menjadikan rakyat sejahtera. Namun, pada faktanya rakyat kecil dan miskin semakin terpuruk, si kaya semakin mulus jalan menumpuk harta.
Sebagaimana yang dirilis dalam laporan, bertajuk "Aspiring Indonesia, Expanding the Middle Class" pada akhir pekan lalu (30/1). Dalam riset itu, 115 juta masyarakat Indonesia dinilai rentan miskin. Tingkat kemiskinan di Indonesia saat ini di bawah 10% dari total penduduk. Rerata pertumbuhan ekonomi pun diprediksi 5,6% per tahun selama 50 tahun ke depan. Produk Domestik Bruto (PDB) per kapitanya diperkirakan tumbuh enam kali lipat menjadi hampir US$ 4 ribu.
Namun, 115 juta orang atau 45% penduduk Indonesia belum mencapai pendapatan yang aman. Alhasil, mereka rentan kembali miskin. Di satu sisi, 52 juta masyarakat Indonesia tergolong kelas menengah. Mereka memiliki pendapatan Rp 1,2 juta dan Rp 6 juta per bulan. (Baca: Jumlah Penduduk Miskin RI Berkurang jadi 24,79 Juta per September 2019) Berdasarkan catatan Bank Dunia, pertumbuhan kelas menengah di Indonesia merupakan yang tercepat, yakni sekitar 10% per tahun. “Saat ini, mereka menyumbang hampir setengah dari konsumsi nasional,” demikian dikutip.
Jika melihat data diatas sebesar apapun upaya pemerintah dalam menekan angka kemiskinan tetap saja tidak akan mampu.selama Negara ini masih berpegang teguh kpda system demokrasi kapitalis. Karna Kemiskinan adalah masalah yang tak kunjung selesai untuk dibicarakan. Karena masalah ini adalah masalah yang menyangkut kehidupan orang banyak. Masalah yang terus datang seakan akan tidak ada solusi untuk menyelesaikannya.
Seperti alaminya kemiskinan adalah kata yang sudah biasa untuk didengar, dan bahkan seperti sudah menjadi bagian yang memang harus ada dalam suatu negara. Padahal masalah kemiskinan adalah masalah yang harus diselesaikan sebagai bentuk keseriusan negara mengurusi hajat hidup rakyatnya. Memberikan kesejahteraan, minimal mampu memenuhi kebutuhan dasar rakyat, seperti sandang, pangan dan papan. Pemerintah dengan berbagai Lembaga semestinya sungguh-sungguh mencari cara agar tingkat kemiskinan yang ada dalam suatu negara semakin lama semakin berkurang bukan semakin meningkat.
Sebab Masalah Kemiskinan yang Tak Kunjung Usai
Jika dilihat dari ketersediaan sumber daya alam, dari laut hingga hasil tambang, Indonesia adalah negeri yang kaya. Bahkan dengan julukan negara agraris, semestinya masalah kemiskinan bukanlah sebuah momok yang sangat sulit untuk diselesaikan pemerintah. Namun, bila ditelaah lebih jauh, system kehidupan yang diterapkan di negeri ini ialah sitem kapitalis-sekuler. Sebuah system yang menjadikan para pemilik modal sebagai pemegang kendali atas kebijakan-kebijakan negeri, penguasa segala bidang mulai dari sumber daya alam hingga pembangunan negara. Dan lebih parah lagi dengan asas sekuler-nya, negara ini menjadikan manusia lemah sebagai pembuat hukum, menghilangkan aturan-aturan Allah swt yang maha sempurna. Maka, wajar masalah yang sebenarnya mudah untuk diselesaikan menjadi sulit bahkan terkesan tak mampu menyelesaikannya. Hingga akhirnya hidup dengan penuh kesejahteraan dan jauh dari kata kemiskinan, seperti sebuah mimpi yang tak akan menjadi kenyataan. Innalillahi.
Kemiskinan erat kaitan dengan bidang-bidang kehidupan lainnya, maka ketika menelaah kenapa kemiskinan negeri ini tak kunjung usai, dapat dilihat pula bagaimana negara dengan system kapitalis-sekuler mengatur aspek kehidupan lainnya. Seperti, Tingkat Pendidikan Yang Rendah. Pendidikan merupakan kebutuhan pokok yang mana jika tidak terpenuhi akan menjadi bom waktu yang menyebabkan seseorang kurang mempunyai ketrampilan tertetu yang diperlukan dalam kehidupannya yang berakibat pada keterbatasan kemampuan untuk memasuki dunia kerja.Tingkat pendidikan yang rendah inilah yang membuat pemuda dan para generasi yang lain banyak yg menganggur dan hal ini menyebabkan tidak adanya oendaptan yang mereka terima hingga menimbulkan tingkat kemiskinan.
Faktor Malas bekerja. Hal ini merupakan penyakit yang sering sekali membuat seseorang untuk tidak maju dan merubah nasibnya, banyak beranggapan bahwa nasib dan takdir dalam kemiskinan adalah sebuah jalan hidup sehingga menyebabkan seseorang acuh tak acuh dan tidak bergairah untuk bekerja. Padahal kita dapat merubah nasib kita jika kita mau berusaha untuk mendatangkan yang lebih baik lagi. Terbatasnya Lapangan Kerja. Ketidakstabilan ekonomi dan ketidakpastian arah politik dan kebijakan sebuah Negara maupun wilayah akan langsung membawa konsekusensi keterbatasan lapangan kerja yang berdampak langsung dalam mendorong terjadinya kemiskinan. Minimnya atau sedikitnya lapangan pekerjaan membuat para pencari kerja tidak bisa bekerja untuk mendapatkan penghasilan yang semestinya mereka dapatkan.
Dan akhir-akhir ini, masyarakat disajikan dengan fakta pemerintah membolehkan dan membiarkan tenaga asing masuk ke indonesia guna bekerja di indonesia, dan bagaimana jadinya kabar rakyat indonesia? Rakyat indonesia hanya bisa melihat dan tidak bisa melakukan apa-apa, karena saat mereka mengeluarkan pendapat maka mereka akan diperkarakan, sungguh sangat miris negeri tercinta ini. Kemiskinan ini terjadi bukan karna kekurangan pangan atau tidak ada makanan hanya saja tidak ada distribusi yang merata bagi mereka yang membutuhkan, kemiskinan seperti tidak mempunyai tempat tinggal, sebenarnya tempat tinggal itu banyak, hanya saja distribusi yang tidak merata.
Solusi Islam Mengatasi Kemiskinan
Islam sebagai agama yang sempurna, telah memberikan solusi-solusi paripurna untuk setiap masalah kehidupan manusia, termasuk masalah kemiskinan. Islam jelas mengatur tentang kewajiban penguasa dalam mengurusi rakyatnya, memenuhi segala kebutuhan dasar dan kebutuhan lainnya. Negara akan serius mengelola segala potensi sumber daya alam untuk menopang pemenuhan kebutuhan hidup rakyat dan juga negara. Tanpa terikat hutang luar negeri ataupun mengandalkan pajak-pajak dari rakyat.
Dalam negara Islam pelarangan riba adalah sesuatu yang mutlak, Negera akan mendorong kegiatan sektor riil. Pelarangan riba secara efektif akan mengendalikan inflasi sehingga daya beli masyarakat terjaga dan stabilitas perekonomian tercipta. Dengan demikian, tercipta keselarasan antara sektor riil dan moneter sehingga pertumbuhan ekonomi dapat berlangsung secara berkesinambungan.
Islam mendorong penyediaan pelayanan publik dasar yang berpihak pada masyarakat luas (pro-poor public services). Terdapat tiga bidang pelayanan publik yang mendapat perhatian Islam secara serius: birokrasi, pendidikan, dan kesehatan. Mendorong pembangunan infrastruktur yang memberi manfaat luas bagi masyarakat (pro-poor infrastructure). Islam mendorong pembangunan infrastruktur yang memiliki dampak eksternalitas positif dalam rangka meningkatkan kapasitas dan efisiensi perekonomian. Serta mendorong kebijakan pemerataan dan distribusi pendapatan yang memihak rakyat miskin (pro-poor income distribution). Terdapat tiga instrument utama dalam Islam terkait distribusi pendapatan yaitu aturan kepemilikan tanah, penerapan zakat, serta menganjurkan qardul hasan, infak, dan wakaf.
Karenanya, dengan kembali pada aturan Allah swt yakni menerapkan Islam secara kaffah dalam sebuah institusi negara adalah solusi untuk setiap masalah yang terjadi saat ini, termasuk halnya masalah kemiskinan yang tak kunjung usai. Hanya Syariah-Nya yang bisa menjamin keberkahan hidup manusia. Syariah akan menjadi rahmat bagi seluruh alam. Allah SWT berfirman : “Jika penduduk negeri beriman dan bertakwa, niscaya Kami membuka untuk mereka pintu keberkahan dari langit dan bumi (TQS. Al-A’raf [7] : 96)”
[Wallahu’alam]
No comments:
Post a Comment