Republik Panik, Sasar Peserta Didik

Oleh : Wulandari Muhajir 
(Mahasiswa Unismuh Makassar)

Slogan "Global war on terorism" berganti sejak kepemimpinan Donald Trump menjadi "Global war on radikalism".  Oleh Amerika Serikat dan negara satelitnya, slogan tersebut diputar berulang-ulang hingga terdengar seperti putaran kaset rusak. AS dan Antek-anteknya yang menganggap islam sebagai ancaman, selalu menjajakan tuduhan miring  yang menyudutkan islam. Ironinya, Penguasa di negara-negara islam termakan dengan slogan murahan tersebut.  

Hasilnya, penguasa menjadi pembebek atas kepentingan AS tersebut. Penguasa lalu mengaktifkan alarm panik, meneror membabibuta syariat islam. Sungguh islamophobia telah menggerogoti Penguasa di negara-negara islam, tidak terkecuali di Indonesia. Penguasa di negeri ini dengan entengnya menggerakkan jari telunjuk pada pion-pionnya, tanda agar segera turun tangan membubarkan pengajian,  mengawasi mesjid, mempersekusi ulama,  menuduh milenials hijrah sebagai bibit munculnya teroris, hingga merevisi bahan ajar yang katanya terpapar radikalisme. 

Para pion Ini pun dengan cekatan melaksanakan komando,  termasuk menarik dan mengganti seluruh materi ujian di madrasah yang mengandung konten khilafah dan perang atau jihad. Hal ini sesuai ketentuan regulasi penilaian yang diatur pada SK Dirjen Pendidikan Islam Nomor 3751, Nomor 5162 dan Nomor 5161 Tahun 2018 tentang Juknis Penilaian Hasil Belajar pada MA, MTs, dan MI.

Direktur Kurikulum, Sarana, Kelembagaan dan Kesiswaan (KSKK) Madrasah pada Kementerian Agama (Kemenag), Umar, menjelaskan  yang dihilangkan sebenarnya bukan hanya materi khilafah dan perang. Setiap materi yang berbau ke kanan-kananan atau ke kiri-kirian dihilangkan.
Dia mengatakan, setiap materi ajaran yang berbau tidak mengedepankan kedamaian, keutuhan dan toleransi juga dihilangkan. "Karena kita mengedepankan pada Islam wasathiyah," kata Umar (Republika.co.id, 7/12/2019).

Kepanikan penguasa ini sungguh sangat ganjil. Mereka ketakutan terhadap materi khilafah dan jihad,  yang merupakan ajaran islam, tapi dengan santai mengadopsi sistem kapitalisme yang liberal yang merupakan warisan Barat. Padahal kapitalisme adalah ancaman yang nyata, kapitalisme dan pengusungnya adalah lawan sesungguhnya. 

Ketika mereka menyerang islam dengan alasan syariat islam-lah yang menjadi sumber kekacauan. Sungguh itu fitnah keji terhadap islam. Padahal siapa yang mengakui dan memberi ruang kaum sodom yang kelakuannya sangat menjijikkan? Siapa yang melegalkan tayangan berbau ponrnoaksi dan pornografi yang berujung pada pergaulan bebas, narkoba,  seks bebas? Imbasnya zina merajalela. 

Berdasarkan lembaga penelitian yang dilaporkan melalui media Republika pada tahun 2008, sebanyak 63 persen remaja yaitu usia SMP dan SMA sudah pernah melakukan hubungan seks. 21 persen diantaranya telah melakukan aborsi. 

Apakah rentetan mimpi buruk dunia pendidikan itu disebabkan oleh  syariat islam? Bukan. Bukan islam tapi sistem kapitalisme dan anaknya, liberalisme. 

Atau siapa yang menciptakan kesenjangan pendidikan,  amunisi sekolah di pelosok yang tidak terpenuhi, bangunan sekolah yang reot? Atau siapa yang membiarkan TKW bejibun  menyebabkan banyak anak Indonesia kehilangan peran seorang ibu? Siapa yang memberi ruang gerak pada koruptor dana sekolah? Yang akhirnya menjadikan Indonesia sarang koruptor.

Berdasarkan data Indonesia Corruption Watch (ICW), dari 2005 hingga 2016 sebanyak 93 kasus korupsi terjadi di sekolah dengan kerugian negara sebesar Rp 136 miliar. Sebanyak 65 kepala sekolah dan 27 bendahara sekolah sudah ditetapkan menjadi tersangka korupsi (DetikNews. 11/07/2019).

Apakah semua itu dalangnya adalah islam?. Tentu bukan. Islam justru mengutuk semua tindakan tidak berperikemanusiaan itu. Dalangnya sistem kapitalisme yang melahirkan pemimpin-pemimpin materialistik lagi korup. 

Lalu mengapa syariat islam yang dikambing hitamkan? Mengapa islam yang selalu diawasi? Bahwa dari awal sudah sangat jelas polanya. Barat dan anteknya dalang sesungguhnya, menyerang syariat islam karena islam adalah ancaman bagi kekuasaan mereka, islam akan merangsek harta karun mereka. 

Islam jelas ancaman untuk sistem kapitalisme Barat yang saat ini eksis di negara-negara islam. Sistem kapitalisme merupakan alat untuk menancapkan neoimperialisme AS dan antek-anteknya di negara-negara muslim. Mereka berusaha menjauhkan umat islam dari agamanya,  bukan hanya menjauhkannya,  bahkan umat dibuat takut dengan syariatanya sendiri. 

Apa tujuan Barat melakukan hal demikian? Karena jika seluruh umat islam mulai sadar akan pentingnya menerapkan syariat itu, maka Ini menjadi titik  kebangkitan islam. Bangkitnya islam akan mempersatukan negara-negara islam yang terpecah-belah, persis seperti saat dulu Khilafah menyatukan seluruh kaum muslim dan wilayahnya dalam satu kepemimpinan. 

Negara-negara islam yang telah bersatu dalam naungan Khilafah tumbuh menjadi imperium raksasa dengan segala kegemilangannya, maka imperium ini menjadi lawan berat bagi Barat. Barat akan kehilangan kekuatan untuk menyetir, menggertak dan mempermainkan kedaulatan negara-negara islam, tidak seperti saat ini, saat kebanyakan negara-negara islam masih berlindung di ketiak asing Barat. 

Jadi dalang dari semua narasi jahat dan penyerangan terhadap syariat islam,  adalah kaum imperialis yang ingin mengokohkan sistem kapitalisme serta kepentingannya di negara-negara jajahan,  utamanya negara-negara islam yang memiliki potensi sumber daya alam yang selalu menjadi daya tarik bagi kaum imperialis. 

Perlu ditekankan pula islam bukan sumber kekacauan seperti yang disangkakan Barat. Sebaliknya islam adalah rahmat bagi seluruh alam. Allah Azza wa Jalla berfirman:
الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الْإِسْلَامَ دِينًا
“… Pada hari ini telah Aku sempurnakan untukmu agamamu, dan telah Aku cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Aku ridhai Islam sebagai agama bagimu …” [Al-Maa-idah: 3]

Jadi islam adalah agama yang sempurna, hanya saja kaum imperialis licik memfitnah syariat islam, agar umat islam takut dengan agamanya, agar umat islam meninggalkan syariatnya. Padahal pemahaman dan penerapan syariat islam adalah kunci bersatunya kembali negara-negara islam yang dipecah-belah oleh kaum imperialis sejak tahun 1924 melalui tangan agen Barat,  Kemal Attaturk. 

Maka wajib bagi kita untuk melawan narasi jahat itu. Tidak takut atau alergi dengan syariat, dan berbalik arah dengan berjuang menerapkan syariat islam didalam segala lini kehidupan. 

Wajib pula bagi kita untuk bersatu dalam kepemimpinan. Seperti saat Khilafah masih tegak, bukan sekedar melawan imperialisme Barat. Namun ini sebagai konsekuensi keimanan kita kepada Allah. Bahwa Allah telah memerintahkan untuk menerapkan aturan-Nya secara Kaaffah. Islam bukan hanya teori, namun juga pengaplikasian. 
WalLahu 'alam bish shawab.

Post a Comment

Previous Post Next Post