Ironi Membangun Ketahanan Pangan Melalui Kebijakan

Oleh : Yanti Mursidah Lubis
Ibu Rumah Tangga

Direktur Utama Perum Bulog Budi Waseso (Buwas) mengatakan saat ini pasar pangan di Indonesia hampir 100% dikuasai oleh kegiatan kartel atau monopoli. Hal itu tentu merugikan masyarakat. Menurut Buwas, produk-produk pangan Bulog saat ini hanya mengusai pasar sebesar 6%. Sedangkan sisanya 94% dikuasai oleh kartel. Pernyataan beliau di Gedung Bulog, Jakarta, Selasa (detik.com, 21/5/2019). Sementara itu, Buwas mengungkapkan kegiatan kartel dapat menaikkan harga pangan sehingga mendorong laju inflasi.

Secara sederhana kartel dapat dipahami sebagai suatu bentuk kerjasama diantara para produsen independen untuk menghalau persaingan dan menguasai pasar. Tujuan dari kartel adalah untuk menentukan harga, membatasi suplai produk dan kompetisi. Kartel muncul dari kondisi oligopoli, di mana di dalam pasar terdapat sejumlah produsen dengan jenis produk yang homogen. Alasan dari dilakukannya kerjasama dalam bentuk kartel adalah agar produsen selaku pelaku usaha dapat memperoleh kekuatan pasar. Mengapa kekuatan pasar penting? Kekuatan pasar memungkinkan produsen untuk mengatur harga dengan cara membuat kesepakatan pembatasan ketersediaan produk di pasar, membatasi produksi, dan membagi wilayah penjualan. Ketersediaan produk yang terbatas dapat menyebabkan kelangkaan, sehingga produsen dapat menaikkan harga untuk menghasilkan tingkat keuntungan yang lebih tinggi. (SimulasiKredit.com).

Mengapa pada kenyataannya praktik-praktik kartel begitu banya terjadi di negara kita? Padahal hukum aturan yang ada menyatakan larangan terhadap kartel-kartel yang semakin tumbuh subuh hampir menguasai 100%. Hukum positif juga menjelaskan praktik kartel dalam UU Anti-Monopoli No 5 tahun 1999. Perjanjian yang bersifat kartel dilarang menurut UU. Hal yang diatur adalah pelaku usaha dilarang membuat perjanjian, dengan pelaku usaha saingannya, yang bermaksud memengaruhi harga dengan mengatur produksi dan atau pemasaran suatu barang dan atau jasa, yang dapat mengakibatkan terjadinya praktik monopoli dan atau persaingan usaha tidak sehat.

Praktik monopoli untuk menaikkan harga dan mengambil keuntungan dari kenaikan itu disebut ikhtikar. Praktik ikhtikar dilarang dalam Islam. Sebabnya, monopoli jenis ini mempermainkan barang yang dibutuhkan oleh umat dan menjualnya dalam keadaan mahal dan umat amat membutuhkannya. Dasar pelarangan ini adalah hadis Nabi SAW, "Tidaklah orang melakukan ikhtikar kecuali ia berdosa." (HR Muslim, Abu Dawud, at-Tirmidzi, dan Ibnu Majah). Dalam riwayat yang lain Rasulullah SAW bersabda, "Barang siapa memonopoli bahan makanan selama empat puluh hari, maka sesungguhnya ia telah berlepas diri dari Allah dan Allah berlepas diri darinya." (HR Ahmad)., maka yang pertama Bulog bakal stuck," jelasnya.

Inilah ironi yang terjadi hari ini. Menjalankan pemerintahan tanpa peduli apa yang dirasakan rakyatnya. Ingin terlihat wibawa tanpa melihat kondisi (ekonomi) rakyatnya yang sempoyongan. Ingin terlihat gagah dan disegani dengan mencukupi hidangan para tamu undangan (kesenjangan sosial). Sementara itu, rakyatnya untuk menelan air liur saja terasa berat (kemiskinan dan beban ekonomi. Ini pulalah gambaran pemerintahan yang rusak dibawah sistim kalpitalisme dimana rakyat bukanlah yang nomor satu untuk diri'ayah bagi pemerintah namun mereka lebih mementingkan hal hal yang dapat menguntungkan mereka  walau harus mengorbankan ummat.
Wallahu’alam Bi Shawwab.

Post a Comment

Previous Post Next Post