Hari Ibu di Tengah Malangnya Nasib Seorang Ibu

Oleh : Rahmawati Rahman
(IRT dan Pemerhati Sosmed)


Kata mereka diriku selalu dimanja
Kata mereka diriku selalu ditimang
Oh, bunda ada dan tiada
Dirimu 'kan selalu ada di dalam hatiku
(Bunda by Potret)

Sepenggal lirik lagu  Bunda yang di nyanyikan Potret memang memiliki magnet tertentu di kalangan penikmat  lagu bergenre pop.  Liriknya yang menyentuh Lubuk hati terdalam membuat lagu ini sukses tanpa henti. Pun ketika menyanyikan lagu ini kita akan dibawa untuk mengenang  memori bersama Ibu. Suka maupun duka.

Ibu, dialah orang pertama yang telah merawat kita sampai sekarang. Jika bukan perjuangan seorang ibu, mungkin kita tidak akan ada di dunia ini. Seorang ibu adalah penerang dunia bagi setiap anak yang terlahir di dunia ini.

Pengorbanan yang tidak bisa dibayangkan bagaimana ibu selama sembilan bulan mampu membawa kita  kemanapun ia berada, meski kita berada diperut beliau. Di dalam rahim yang hangat dan nyaman.

Pada fitrahnya ibu merupakan sosok yang lembut, penuh kasih sayang, sabar dan bertanggung jawab. Kalaupun ada peristiwa ibu menyiksa anaknya, memukuli sampai tega membuangnya hingga membunuhnya. Itu semua karena ibu sudah menyalahi fitrahnya dan terseret dalam lingkungan dan pergaulan yang salah. 


Ia terjebak dengan gaya hidup yang bertentangan dengan norma masyarakat dan agama. Misalnya pergaulan bebas, menghasilkan anak yang tidak diinginkan. Akhirnya anak tersebut dibuang. Atau karena permasalahan dengan suami, KDRT juga berujung pada penyiksaan dan pemukulan pada anak. Dan permasalahan lainnya sehingga menyeret sang ibu untuk melakukan perbuatan yang tidak dibenarkan agama. 

Maraknya ibu yang bunuh diri juga karena mendapat tekanan sosial dan kesulitan ekonomi. Lihat saja harga kebutuhan pokok yang meroket tajam. Untuk membeli lauk lengkap dengan sayur dan buah uang tiga puluh ribu pun tidak cukup dibawa ke pasar.

Betapa ibu harus memutar otak agar dapurnya berasap, mencukupkan kebutuhan hidup dari gaji suami. Memberikan makanan yang halal dan thoyyib bagi keluarganya. Beras 20.000 ton yang terancam dibuang membuat luka tersendiri bagi ibu yang mengabdikan dirinya sebagai IRT.  Mengoyak hati  para ibu kuli panggul beras. Betapa buliran beras yang terjatuh mereka kumpulkan hingga cukup untuk dibawa pulang. 

Inilah Ironi negeriku. Semboyan negeri gemah ripah loh jinawi tapi pada kenyataannya  ayam mati di lumbung padi.

Post a Comment

Previous Post Next Post