Telisik Peran Negara Terhadap Wamena

Oleh : Rheiva Putri R Sanusi
Alumni SMAN 1 Rancaekek

Akhir-akhir ini negeri Indonesia sedang dilanda banyak sekali peristiwa, tak hanya peristiwa kecil tapi peristiwa yang menggemparkan seluruh negeri. Kemarin terjadi aksi yang dilakukan para mahasiswa se-Indonesia yang mulai menunjukan sikap tidak setuju terkait RUU KUHP. Masalah RUU KUHP belum selesai Indonesia dilanda kembali permasalahan yaitu adanya konflik di Wamena, Kabupaten Jayawijaya. Sebenarnya konflik ini sudah pernah terjadi di tahun 2000 yang namanya Wamena Berdarah, dimanadidalamnyaterjadj konflik antara pendatang dengan pribumi. Kejadian tahun 2000 itu menelan korban 7 orang Papua dan 24 pendatang. Untuk konflik yang sekarang kembali melanda Wamena, sudah sekitar 10.000 warga yang mendaftar untjk dievakuasi ke Jayapura.

Sungguh benar-benar perbuatan yang keji, biadab. Sederet kata yang mungkin belum mewakili kondisi Wamena saat ini. Tidak hanya rasa geram yang menyesakkan dada, tapi juga rasa sedih yang mendalam, khususnya bagi warga Bugis dan Minang yang tercatat 33 korban yang tewas. Tragedi ini seharusnya dapat membuka alam sadar kita, bahwa Papua yang penduduknya mayoritas non Islam dan memilih petahana nyatanya tak pernah berhenti bergejolak. Bentrokan terjadi dimana-mana, bahkan sadisnya tragedi brutal pembakaran dan pembantaian.

Bukankah hal ini tak seharusnya terjadi? Konflik yang pernah terjadi sekitar belasan tahun yang lalu kini terjadi kembali. Disini perlu kita tanyakan peran negara dalam menyelesaikan akar konflik Papua, yang hingga kerusuhan terus berlanjut di Wamena dan memakan banyak korban serta berbuntut pengusiran warga non Papua. Padahal peran negara sangat diperlukan dalam mengatasi konflik ini. Makar asing yang bermain di Papua melalui isu rasial dan pemisahan ini membuat negara lemah tak bisa dan tak punya solusi tuntas untuk menyelesaikan masalah ini.

Saat ini benar-benar peran negaralah yang mampu menyelesaikan konflik ini. Namun hingga saat ini tak ada sikap negara yang akhirnya mampu menyelesaikan kasus ini. Buktinya setelah beberapa lama konflik ini terjadi suasana belum membaik. Penguasa malah sibuk mengurusi kepentingan pribadinya daripada mendahulukan kepentingan rakyatnya. Alih-alih bergerak cepat untuk mengakhiri konflik dan memulihkan kondisi di Wamena, publik malah dibuat geram dengan tingkah penguasa yang sibuk meminta pelantikannya diajukan. Ditambah lagi sikap penguasa yang begitu represif terhadap aksi aktivis mahasiswa, semakin menjadi bukti bahwa negara gagal dalam meriayah rakyatnya. Negara gagal dalam melindungi rakyatnya.

Satu-satunya kepemimpinan yang mampu menyatukan Papua hanyalah Islam. Buktinya ketika Negara Islam yaitu Khilafah tegak, Khilafah mampu menyatukan 2/3 dunia dalam satu negara. Dan keadilan yang diberikan negara membuat keberagaman menjadi hal biasa namun tak pernah menjadi masalah. Umat beragama pun bisa hidup berdampingan meskipun aturan Islam yang diterapkan, itu karena Islam memang memiliki aturan sempurna yang memang sesuai untuk semua umat manusia

Kepemipinan Islam pun tak hanya mampu menyatukan Papua, tapi juga mampu menyelesaikan akar masalah Papua yakni makar asing. Dimana seluruh masalah yang terjadi saat ini tak lepas dari keterlibatan asing terhadap negara kita. Dimana saat ini asing memiliki pengaruh besar dalam kenegaraan kita. Yang akhirnya negara kita menjadi negeri boneka yang saat ini sedang diacak-acak oleh asing agar mereka mudah mengendalikan negeri kiita. Disinilah Islam hadir untuk menyatukan umat, agar mampu menghadapi musuh sebenarnya dan agar konflik yang terjadi di Wamena tak terjadi kembali.

Wallahu’alam Bi Shawwab.

Post a Comment

Previous Post Next Post