Perubahan Hakiki dalam Islam

Oleh : Dede Ummu Lulu 
Ibu Rumah Tangga 

Tahun 2019  sudah mau berakhir. Tak ada yang tersisa, kecuali berbagai cerita sedih yang melengkapi perjalanan berat umat dari tahun ke tahun tatkala hidup dalam sistem sekuler yang kian nyata rusak dan merusak.

Pihak penguasa memang nampak berusaha keras meyakinkan bahwa sepanjang tahun ini kondisi bangsa baik-baik saja. Bahkan nyaris setiap kementrian dan lembaga pendukungnya merilis laporan prestasi kerja mereka di sepanjang tahun 2019 yang semuanya dikesankan positif. 

Namun, rakyatlah yang menjadi hakim sebenarnya. Mereka justru merasakan bahwa apa yang disebut sebagai prestasi itu nyatanya adalah bohong besar. Bahkan di tahun 2018 rezim penguasa berhasil meneguhkan diri sebagai rezim gagal, pembohong, ingkar janji, antek asing dan represif anti Islam.

Sebutlah soal pertumbuhan ekonomi dan angka kemiskinan yang kondisinya selalu diklaim terus membaik. Nyatanya, semua hanya permainan angka-angka belaka. Tak ada hubungan antara naiknya angka pertumbuhan ekonomi dan turunnya angka kemiskinan dengan meningkatnya kondisi kesejahteraan masyarakat secara ril.

Bahkan siapapun akan mudah mendapati fakta, betapa kondisi ekonomi terasa makin sulit. Kebutuhan hidup semakin mahal dan sulit dijangkau. Apalagi banyak kebijakan zalim pemerintah yang terus memperberat beban dan mempersempit kehidupan rakyat. Misalnya kebijakan soal pajak, asuransi kesehatan dan ketengakerjaan, biaya pendidikan yang kian mahal, kenaikan berkala harga BBM dan listrik, serta kebijakan-kebijakan liberal anti rakyat yang lainnya.

Berbagai fakta pun menunjukkan, bahwa pemerintah kian terperosok dalam jebakan skenario asing, yang membuat masa depan negeri ini makin tergadai dan membuat penjarahan kekayaan alam milik rakyat oleh asing aseng berlangsung legal. Utang atas nama investasi asing pun makin menumpuk.

Di bidang politik, penerapan sistem demokrasi pun makin menampakkan wajah buruknya. Perselingkuhan penguasa-pengusaha makin telanjang. Kasus-kasus korupsi berjamaah terus mencuat ke permukaan. Intrik politik, termasuk politik pencitraan dan politik adu domba begitu kental terasa. Terlebih tahun 2018 dan 2019 adalah tahun politik.

Di tahun ini pula, kezaliman demi kezaliman dan kedurhakaan demi kedurhakaan terus terjadi. Persekusi ulama dan kriminalisasi ajaran Islam, terutama ide Khilafah berlangsung kian masif. Label radikal dan teroris dengan mudah dilekatkan pada mereka yang kerap mengkritisi pemerintah dan lantang menyerukan perubahan ke arah Islam.

Berbagai cara dilakukan agar suara-suara kritis dan seruan-seruan ke arah Islam ini hilang terbungkam. Mulai dengan cara halus membujuk mereka dengan harta dan kekuasaan. Hingga cara kasar berupa pembubaran paksa (seperti yang dialami HTI), pemboikotan dan ancaman hukum alias pemidanaan, dengan dalih membahayakan keutuhan negara dan eksistensi dasar negara pancasila. 

Namun demikian, semua yang terjadi ini sekaligus menunjukkan ketidakadilan hukum yang diberlakukan penguasa. Hukum hanya berlaku bagi umat dan tokoh Islam yang teguh memegang kebenaran. Sementara, betapa banyak kasus SARA yang tidak diselesaikan karena pelakunya diketahu pro penguasa. 

Jika dicermati secara mendalam, maka semua problematika ini, saling berkait satu sama lain. Namun ujung dari semuanya berakar pada satu sebab, yakni penerapan sistem sekuler demokrasi yang menafikan peran Allah SWT dalam kehidupan, serta memberikan hak membuat hukum pada akal manusia yang lemah dan terbatas.

Sangat terasa, di tahun-tahun ini kehidupan begitu jauh dari keberkahan. Alam seakan marah karena bangsa ini sudah begitu melewati batas. Hukum Allah dengan berani dicampakkan. Para ulama dan pengemban dakwahnya bahkan dilecehkan. Umat bahkan dijauhkan dari hakikat ajaran Islam yang benar dengan makar pengarusan ide-ide moderasi Islam pesanan Barat yang hakekatnya merupakan upaya deideologisasi dan liberalisasi Islam melalui berbagai program. Padahal ideologi Islamlah kunci utama kebangkitan Islam.
Mahabenar Allah dengan firman-Nya :

وَلَوْ أَنَّ أَهْلَ الْقُرَى آمَنُواْ وَاتَّقَواْ لَفَتَحْنَا عَلَيْهِم بَرَكَاتٍ مِّنَ السَّمَاءِ وَالأَرْضِ وَلَـكِن كَذَّبُواْ فَأَخَذْنَاهُم بِمَا كَانُواْ يَكْسِبُونَ
“Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri tersebut beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya.” (Qs. Al-A’raf: 96)

Semua realitas buruk ini tentu harus memicu keinginan kuat untuk melakukan perubahan, khususnya di tahun 2019 hingga ke depan. Dan perubahan dimaksud, tentu bukan sekedar perubahan parsial berupa pergantian rezim semata, tapi harus mengarah pada perubahan sistem. Yakni perubahan dari sistem sekuler demokrasi yang jahiliyah menuju sistem Islam yang dinaungi wahyu ilahiyah.
Bukankah fakta menunjukkan bahwa pergantian orang atau rezim sudah berkali-kali dilakukan? Namun tanpa mengubah sistem, kondisi terbukti tak pernah membaik. Dan itu dikarenakan kerusakan memang bukan sekadar ada pada orang, tapi ada pada sistem yang diterapkan. Yakni sistem sekuler demokrasi kapitalis neoliberal yang memang rusak sejak dari asasnya.

Oleh karena itu, sudah saatnya sistem batil ini dicampakkan. Dan umat Islam bersegera kembali menerapkan hukum-hukum Allah yang dipastikan akan membawa keberkahan. Yakni dengan berjuang menegakkan institusi penerap syariat Islam, yang tidak lain adalah sistem Khilafah.

Harapan dan peluang perubahan ke arah Khilafah sesungguhnya sangat besar. Momentum aksi bela Islam yang berjilid-jilid itu menunjukkan bahwa umat Islam sesungguhnya bisa dimobilisir dan disatukan oleh satu kekuatan pemikiran, perasaan.

Hanya saja, yang menjadi PR besar adalah, bagaimana agar kadar pemikiran umat akan Islam ini tidak parsial dan pergerakannya tidak pragmatis pada satu isu saja. Tapi kaffah dan fokus pada isu besar yakni ikhtiar menegakkan syariat Islam dalam naungan institusi Khilafah.
Wallahu’alam Bi Shawwab

Post a Comment

Previous Post Next Post