Menuju Kesejahteraan Yang Haqiqi

Oleh : Dede Arnisah 
(Aktivis Dakwah Lubuk Pakam)

Apa kabar negara Indonesia tercinta? 
Akhir-akhir ini negara kita sangat ramai pemberitaan dengan berbagai masalah, diantaranya aksi mahasiswa, aksi para pelajar, kerusuhan di Wamena, Papua hingga bencana asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Lagi-lagi negara tidak lepas dari masalah karena akarnya (sistemnya) telah bermasalah. 

Presiden Mahasiswa Trisakti, Dinno Ardiansyah mengatakan, Aliansi Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Seluruh Indonesia akan melanjutkan aksi demo di depan Gedung DPR pada Senin (30/9/2019).

Masalah kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan di Riau selalu terulang setiap tahunnya.

Beberapa hari terakhir, kabut asap pekat kembali melanda Pekanbaru. Kompas.com, Kamis (12/9/2019), akibat kabut asap yang pekat di Riau, jarak pandang bahkan hanya berkisar 800 meter.

Ketua Dewan Pertimbangan MUI Prof M. Din Syamsuddin menyampaikan keprihatiannya atas jatuhnya korban jiwa dan luka-luka di Kota Wamena, Kabupaten Jayawijaya, Provinsi Papua. 

“Kita semua yang memiliki hati nurani sangat sedih mengetahui terjadinya tindak kekerasan di Wamena yang menimbulkan puluhan korban tewas mengenaskan dan ratusan lain mengalami luka-luka berat dan ringan,” ungkap Din, seperti disampaikan pada PWMU.CO, Sabtu (28/9/19) siang.

Saatnya berubah. Tidakkah cukup dengan membaca sederatan berita diatas untuk membuka mata hati kita ? bahwa Indonesia sedang tidak dalam keadaan yang baik baik saja. Siapapun dia,pasti tidak ingin larut dalam masalah. Mereka pasti ingin segera keluar dari masalah itu. Perubahan akhirnya menjadi tujuan. Namun, berubah untuk tetap berada pada zona yang sama, maka hasilnya nol. Sama halnya dengan keadaan ini.

Mahasiswa, pelajar hingga masyarakat berbondong-bondong untuk menuntut keadilan. Guna untuk menuntut perubahan. Namun sangat disayangkan ketika perubahan tetap kearah (sistem) yang sama. Padahal mereka tahu semakin buruknya arah pemerintahan saat ini.

Jalan perubahan tidak akan tercapai jika masih melalui jalan demokrasi. Demokrasi  sesungguhnya adalah topeng bagi penjajah asing yang senantiasa bermain dibalik layar untuk memperalat orang-orang elit yang dihantui pemikirannya dengan kapital. Orang-orang yang disebut sebagai wakil rakyat nyatanya menjadi penghianat rakyat. Mereka bekerja bukan untuk rakyat, melainkan untuk kepentingan segelintir orang.

Tidak heran berbagai masalah tidak pernah absen untuk singgah dinegeri ini. Dimulai dari puncak korupsi, hingga masalah diskriminasi selalu menghiasi. Perputaran masalah silih berganti tiada henti. Hal ini dikarenakan tidak adanya kesadaran akan sistem yang diterapkan pada saat ini. Sistem yang peraturannya (UU) dibuat oleh manusia untuk mengatur manusia. 

Bagaimana mungkin peraturan (UU) yang dirancang untuk kepentingan mereka dapat mensejahterakan seluruh rakyat?  Bagaimana mungkin manusia dapat mengatur hidup manusia? Lantas apakah ada bukti kesejahteraan yang melekat disetiap jiwa selama peraturan (UU) yang mereka terapkan dijalankan? Apakah kesejahteraan atau kesengsaraan yang nyata? 

Lain halnya ketika islam diterapkan. Islam dapat menuntaskan berbagai masalah. Karena islam mengatur berbagai urusan. Sehingga semua berjalan sesuai aturan. Misalnya, untuk menghindari zina, maka islam memerintahkan wajibnya menutup aurat. Sehingga mata-mata manusia lebih terjaga dalam pandangan dan telah menutup satu pintu zina. Untuk menghindari kemiskinan, islam dapat mengatasinya dengan pengelolaan samber daya alam (SDA) yang hasilnya akan dikembalikan lagi kepada rakyat bukan kepada asing. Sehingga kesejahteraan merata.  Untuk menghindari pencurian/korupsi, islam menerapkan hukum potong tangan Sehingga mencegah para koruptor untuk eksis dengan kebiasaan buruknya. Masih banyak lagi cara islam dalam menuntaskan berbagai masalah yang sesuai dengan fitrah manusia. 

Tidakkah kita merindukan sistem yang dapat menyelesaikan semua masalah?  Tidakkah kita ingin terlepas dari  jeratan kebodohan? Tidakkah kita merindukan kembalinya islam didalam kehidupan? Marilah bangkit menuju perubahan hakiki dengan menerapkan syariah didalam kehidupan. Karena kesempurnaan islam tiada yang menandingi dan kembalinya islam juga tidak ada yang bisa menghalangi. Wallahu A`lam Bishowwab.

Post a Comment

Previous Post Next Post