Mahasiswa, "agent of change"

Oleh : Ismawati 
(Aktivis Dakwah Muslimah Palembang)

Mahasiswa merupakan “agent of change”. Kekayaan intelektual seorang mahasiswa diharapkan selalu menjadi ujung tombak perubahan negeri kearah yang lebih baik. Dalam sejarah bangsa Indonesia, suara mahasiswa sering kali menjadi sorotan karena telah aktif menyuarakan kritik terhadap kebijakan pemerintah yang dinilai telah “menyelingkuhi” amanat rakyat. Sebut saja saat menumbangkan rezim orde baru pada tahun 1998, ketika kondisi perekonomian Indonesia sedang diterpa krisis akhirnya memutuskan memaksa Soeharto untuk mengundurkan diri.
Namun, pada tahun 2019 ini suara mahasiswa telah dibungkam rezim, meski telah melakukan demo mahasiswa pada tanggal 23 September 2019 dengan agenda menolak pengesahan Revisi UU KUHP, RUU KPK, RUU Pertahanan, RUU Minerba, RUU Ketenagakerjaan, serta RUU Sumber Daya air yang telah dinilai mencederai demokrasi. 

Disisi lain Menteri Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi Mohammad Nasir mewanti wanti rektor bisa disanksi bila mengerahkan mahasiswa untuk demo. Dia mengatakan demikian setelah menemui Presiden Joko Widodo di Istana Negara pada Kamis 26/9/2019. “Kalau dia mengerahkan [mahasiswa untuk demo], ya kami beri sanksi keras. Ada dua, bisa dalam hal ini peringatan : SP1,SP2,” Ujar Nasir. (tirto.id)

Seperti yang telah kita ketahui gerakan mahasiswa pada 1998 merupakan lahirnya gerakan reformasi. Sayangnya pasca refromasi kondisi Indonesia hingga sekarang malah semakin memprihatinkan. Kedzoliman atas kebijakan penguasa kian digencarkan. Mahasiswa yang aktif menyuarakan kritik terhadap kebijakan dianggap sebagai ancaman. Mahasiswa yang lantang menyuarakan perubahan kini suara mereka dibungkam. Terbukti tatkala Mentri Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Menristekdikti) Mohammad Nasir mengatakan menggiring dosen hanya mendiskusikan masalah secara akademik. (kemenristekdikti)

Sesungguhnya kritik terhadap penguasa merupakan hal yang disyariatkan didalam islam. Karena merupakan bagian amar ma’ruf nahi munkar dan termasuk kewajiban kaum muslimin. Seperti dalam Firman Allah SWT. “Kalian adalah umat terbaik yang dilahirkan diantara manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah.” (QS. Ali Imron : 110) maka seorang muslim wajib mengoreksi penguasa dengan terang-terangan bahkan apabila kedzoliman telah nyata ditampakkan, dan kebijakan yang tidak pro rakyat diterapkan Karena Rasulullah SAW pun secara khusus telah memuji aktivitas mengoreksi penguasa yang zalim . “Sebaik-baik jihad adalah perkataan yang benar kepada pemimpin yang dzalim.” (HR. Ahmad, Ibn Majah, Abu Dawud, Al-Nasa’I, al-Hakim dan lainnya).  

Didalam islam hakikat penguasa adalah periayah (pengurus) rakyat dan sejatinya penguasa butuh nasehat agar terhindar dari perbuatan dzalim. Muhasabah kepada penguasa dilakukan tatkala kebijakan yang diberlakukan dinilai mencederai rakyat. Seperti yang tertulis dalam sejarah peradaban islam bahwasanya Khalifah Umar bin Khathtab ra. Pernah dikritik seorang muslimah tatkala membatasi pemberian mahar dengan berkata. “ Sesungguhnya kalau ada seseorang yang memberikan atau diberi mahar lebih banyak dari mahar yang diberikan Rasulullah SAW pastilah aku ambil kelebihannya untuk Baitul mal.” Kemudian seorang muslimah tersebut menyampaikan kritik dengan mengutip ayat Allah. “Dan jika kamu ingin mengganti istrimu dengan istri yang lain, sedangkan kamu telah memberikan kepada seseorang diantara mereka harta yang banyak, maka janganlah kamu mengambil kembali dari padanya barang sedikit pun.” (QS. An-Nisa’ : 20). Khalifah Umar menyadari kekhilafannya kemudian tanpa merasa malu, ia membenarkan ucapan seorang muslimah tersebut dengan mengakui kesalahannya.

Maka, wahai mahasiswa jadilah pejuang dalam perubahan. Jadilah pemimpin yang terdepan memimpin negeri dengan mengerahkan segala kemampuan. Yang berani mengkritisi kebijakan-kebijakan dzalim penguasa, berani menyuarakan kebenaran, berani menyampaikan hukum islam sebagai moto perubahan, dan berani menjalankan visi perjuangan untuk keberlangsungan peradaban islam. Berjuanglah! Sesungguhnya negeri ini butuh suara kalian sebagai motor perubahan. Berjuanglah atas dasar kesadaran yang benar karena landasan ideologi islam yang hanya layak diterapkan bukan perjuangan instan dan terkesan gaya-gayaan. 

Wallahua’lam Bis-showab.

Post a Comment

Previous Post Next Post