Gawai, Antara Manfaat dan Mudharat

Oleh : Tatiana Riardiyati Sophia


Gawai, benda satu ini sudah dua dekade begitu populer di kalangan masyarakat baik tua maupun muda, dari bayi sampai lansia. Dengan fungsinya yang beragam untuk memudahkan urusan kehidupan sehari-hari. Gawai, jika digunakan dengan benar, akan membawa manfaat yang banyak, sebaliknya jika salah maka akan menjerumuskan penggunanya pada kemudharatan. Banyak kebaikan yang bisa dilakukan dengan menggunakan gawai, contohnya : berdakwah melalui media sosial, menulis konten-konten pendidikan, keterampilan, dll. Demikian juga gawai pun bisa digunakan untuk bermaksiat yaitu dengan menyebarkan konten-konten negatif, asusila, kekerasan, dll.

Sayangnya, saat ini gawai juga sering digunakan oleh anak-anak, bahkan bayi pun sudah diperkenalkan dengan gawai, baik gawai milik orang tuanya ataupun gawai milik anak itu sendiri yang difasilitasi orang tuanya. Dengan alasan untuk sarana belajar, melek teknologi dan meningkatkan kecerdasan si anak, orang tua tak segan-segan menyediakan gawai bahkan yang canggih sekalipun tanpa khawatir dengan efek negatif dari gawai tersebut. Faktanya anak zaman sekarang sudah pintar menggunakan gawai tanpa diajari lebih dahulu.

Padahal, gawai, selain memiliki dampak positif  ada juga beberapa dampak negatif pada anak yang selalu menggunakan gawai secara berlebihan, diantaranya yaitu :

1. Kecanduan, anak yang kecanduan gawai dapat menyebabkan gangguan pada kejiwaannya. Kecanduan akan gawai bahkan di klaim lebih berbahaya daripada kecanduan narkoba karena menyebabkan otak di bagian lobus frontal tidak berkembang yang berakibat sulitnya dalam mengambil keputusan di kemudian hari.
Seperti yang terjadi di Jawa Barat, beberapa anak dirujuk untuk ditangani oleh rumah sakit jiwa akibat kecanduan gawai, dengan keluhan anak tersebut menjadi agresif, marah-marah dan menyakiti dirinya hanya karena gawai yang sedang lowbatt. Hal yang sama terjadi di Bondowoso beberapa waktu yang lalu. 

2. Hambatan perkembangan. Penggunaan gawai yang berlebihan menyebabkan anak cenderung untuk malas bergerak yang berakibat pada fisik dan motoriknya, dimana kedua hal tersebut mempengaruhi perkembangan kecerdasan yang optimal pada anak. 

3. Obesitas, karena terlalu asyik bermain gawai menyebabkan anak kurang bergerak dan berpotensi mengalami obesitas.

4. Pengaruh buruk lainnya, seperti kurang bersosialisasi, efek radiasi, kepikunan dini, dsb.

Orang tua zaman sekarang yang sibuk bekerja ingin cara praktis buat sarana anaknya bermain yang mengasyikkan. Anak yang rewel dibujuk dengan permainan di gawai ataupun menonton video-video yang berisi konten khusus anak-anak. Tidak seluruhnya salah memang, akan tetapi orang tua tetap harus mendampingi anak ketika bermain dengan gawai dan membatasi waktunya. Tidak menjadikan gawai sebagai alat supaya anak bermain dengan tenang dalam waktu yang cukup lama sementara orang tuanya mengerjakan pekerjaan yang lain.

Dalam hal ini orang tua harus membuat aturan pembatasan penggunaan gawai, misalnya 1-2 kali sepekan dengan durasi maksimal 1-2 jam. Atau orang tua bisa berkreasi dengan menciptakan permainan-permainan yang mengasyikkan. Orang tua harus menyediakan waktu untuk ikut bermain bersama anak, sehingga anak yakin permainan tersebut mengasyikkan, menantang dan menyehatkan. Menurut pakar parenting dan psikolog Wasmin Al Risyad dan Lilis Komariah permainan anak untuk mengalihkan dari gawai harus memenuhi unsur 3 M, yaitu : menarik, mudah dan murah. Berbagai kegiatan dapat dilakukan, misalnya : membaca buku, bermain sepeda, mengajak ke dapur dan membantu kegiatan memasak untuk anak perempuan, bermain boneka, mobil-mobilan ataupun memelihara hewan kesayangan, dll. Kegiatan ini mengasyikkan bagi anak dan juga menyehatkan karena seluruh indera perkembangannya terstimulasi dengan baik.

Masih menurut keduanya, orang tua harus menyediakan waktu bagi anak untuk off screen activity, artinya meniadakan segala bentuk yang berhubungan dengan layar, bukan hanya gawai tetapi juga televisi, untuk memberi kesempatan pada anak untuk bermain dengan teman-temannya dan menghilangkan kecanduannya pada gawai.

Adapun negara disini berperan dalam mengatur konten dalam media sosial dan informasi yang bakal dikonsumsi oleh masyarakat, terutama anak-anak. Mengawasi dengan ketat konten apa saja yang pantas ditonton oleh anak-anak dan menindak tegas oknum yang menyebarkan konten-konten negatif seperti : pornografi, pornoaksi, kekerasan, dan hal-hal yang tidak bermanfaat lainnya. Sayangnya, saat ini negara lalai melakukan hal itu. Konten-konten negatif, pornografi dan  pornoaksi masih saja berseliweran di dunia maya. Hukum pun tidak menjadikan efek jera bagi pelakunya. Dari tahun ke tahun kasus-kasus seperti ini masih terus ada. Mudahnya mengakses situs-situs porno meningkatkan korban pornografi dan kejahatan online pada anak. Ini bukti bahwa negara lalai dalam mengurus rakyatnya. Alih-alih mengurus rakyat, baru-baru ini menteri keuangan malah menganjurkan memberikan gawai pada anak.

Di dalam Islam, penggunaan teknologi sah-sah saja dilakukan selama tidak melalaikan seseorang akan kewajibannya baik ibadah maupun kegiatan pribadi, seperti : makan, mengurus diri, belajar, bekerja dan istirahat, serta tidak menggunakan gawai untuk melakukan kemaksiatan dan dosa. Seperti firman Allah SWT dalam surah an-Nisa ayat 9 yang artinya : " Dan hendaklah orang-orang takut kepada Allah bila seandainya mereka meninggalkan anak-anaknya dalam keadaan yang lemah....". Keadaan lemah disini artinya bukan hanya lemah fisik, jiwa ataupun ekonomi, tetapi juga menyangkut aqidah, ilmu pengetahuan dan life skill. Kecanduan terhadap gawai bisa menyebabkan munculnya generasi yang lemah seperti yang telah dijelaskan diatas. Kecanduan gawai bisa menyebabkan anak malas sekolah, malas belajar yang pada akhirnya lemah dalam segala sisi kehidupan. Oleh karena itu orang tua harus bijak menyikapi penggunaan gawai oleh anak-anaknya dengan cara menciptakan permainan yang mengasyikkan dan suasana yang menyenangkan dengan keterlibatan orang tua langsung dalam aktifitas bermain anak-anaknya.
Wallahu a'lam bi ash shawab.

Post a Comment

Previous Post Next Post