Buzzer Dalam Kubangan Demokrasi

Oleh: Analisa 
(Muslimah Peduli Generasi)

Sedang viralnya para buzzer yang bekerja untuk mempropoganda lawan politik serta memenangkan bosnya. Dengan bayaran yang berbagai macam bisa di bawah UMR bahkan diatas UMR sesuai dengan tugas dan kinerja mereka masing-masing. 

Buzzer merupakan profesi yang semakin sering dibincangkan karena aktivitas mereka di media sosial yang bertujuan mempengaruhi persepsi publik terhadap sebuah persoalan. Melalui tulisan-tulisan mereka, para buzzer berusaha memenangkan persaingan. Jasa mereka semakin mencuat dalam kontestasi politik era digital. Masyarakat pun tak semua melek digital dan memiliki literasi yang cukup, sehingga buat mereka buzzer semakin subur. Bahkan tak sedikit yang memandangnya dengan negatif.

Seolah masih fresh karena memang Al-Quran dan Hadits senantiasa relevan, sesuai dengan kemajuan zamannya. Ada sebuah riwayat hadits yang perlu jadi bahan perhatian, dan membuat kita benar-benar dalam menyikapinya.

Dari Ka’ab bin Ujrah ia berkata, “Rasulullah SAW pernah keluar atau masuk menemui kami, ketika itu kami berjumlah sembilan orang. Dan di antara kami ada bantal dari kulit. Baginda lalu bersabda: “Sesungguhnya akan ada setelahku para pemimpin yang berdusta dan dzalim. Barangsiapa mendatangi mereka kemudian membenarkan kebohongan mereka, atau membantu mereka dalam kezalimannya, maka ia bukan dari golonganku dan aku bukan dari golongannya. Serta ia tidak akann minum dari telagaku. Dan barangsiapa tidak membenarkan kebohongan mereka dan tidak membantu mereka dalam berbuat kezaliman, maka ia adalah dari golonganku dan aku adalah dari golongannya. Dan kelak ia akan minum dari telagaku.” (HR Ahmad No: 17424), Status Hadis Sahih

Perlu kita cermati bahwasannya para buzzer membantu dan tolong menolong dalam kezhaliman dan mendapat pekerjaan dan gaji dari perbuatan yang tidak halal, karna sudah tertutupnya hati mereka dengan materi yang cukup menggoda.

Bukti bobroknya sistem dari adopsi kafir penjajah yang melahirkan pemikiran dari hawa nafsu dan menjadikan segala  perbuatan berstandarkan kepuasaan kekuasaan saja. Sehingga rakyat yang terbius dengan mudahnya menjadi agen buzzer dengan kinerja kepalsuan dan kebohongan.

Jauh berbeda dengan Islam
seorang khalifah mendapatkan kekuasaan semata-mata dari umat melalui bai’at. Bahkan Rasulullah saw, meskipun beliau berkedudukan sebagai rasul, tetap saja mengambil baiat dari umat, baik dari laki-laki maupun perempuan. Demikian juga yang dipraktikkan oleh al-khulafâ’ al-râsyidun. Mereka semua menjadi khalifah setelah mendapatkan baiat dari umat.

Ketentuan baiat tersebut menunjukkan bahwa Islam telah menjadikan kekuasaan di tangan umat. Sehingga umat berhak mengangkat siapa saja yang mereka pilih dan mereka baiat untuk menjadi khalifah. Dalam akad baiat tersebut, kekuasaan yang dimiliki umat itu diserahkan kepada khalifah untuk mengatur urusan rakyat berdasarkan Kitabullah dan Sunnah Rasul-Nya. Dalam hal ini, khalifah merupakan wakil umat untuk menjalankan hukum Islam (kedaulatan syara’) dalam kehidupan bernegara, bukan untuk menjalankan kedaulatan rakyat sebagaimana sistem sekular-demokrasi.

Sebagai pemimpin yang telah dibaiat oleh umat, mereka memiliki kekuasaan yang wajib ditaati.

Pemilihan pemimpin dalam Islam berbiaya murah, namun efektif menghasilkan output yang berkualitas. Serta tanggungjawab dengan tujuan kepemimpinannya
Islam secara mendasar telah mendudukkan kepemimpinan sebagai amanah. Beratnya amanah menjadikan pemimpin tak berani bertindak sesuka hati. Dia akan selalu bersandar pada aturan Ilahi karena takut atas pertanggungjawaban di akhirat. Orang yang maju menjadi calon pemimpin bukanlah figur gila jabatan, tapi orang yang terdepan dalam kebaikan. Maka kecurangan telah dicegah sejak masih berupa niat di dalam hati. Sosok bertakwa akan membersihkan hatinya dari niat jahat, termasuk niat untuk berbuat curang.

Saatnya umat cerdas kembali kepada hukum Allah segala yang diatur oleh Allah dengan menerapkan Al quran dan As sunnah diatas hukum manusia dalam naungan Khilafah Islamiyah.

Wallahu a'lam bisowab.

Post a Comment

Previous Post Next Post