Zina Makin Liar, Buah Kapitalisme Sekular

Penulis : Trisnawaty Amatullah 
(Aktivis Dakwah Kota Makassar)

Sudah menjadi suguhan setiap hari fakta pergaulan bebas. Baik melalui media cetak maupun media online. Berita sepasang dua sejoli dalam ikatan haram tertangkap mesum bukan hal baru.  Berujung pada kehamilan yang tak diinginkan. 

Dan  hasilnya  aborsi meningkat. Zina merajalela tak pandang usia. Tak pula mengenal tempat. Sepasang insan dapat dengan mudah melampiaskan hasrat di manapun mereka suka, tanpa lagi merasa malu. Termasuk di tempat yang seharusnya mereka menuntut ilmu (sekolah). Masih segar dalam ingatan video mesum sepasang pelajar di SMK Sulawesi Selatan menghiasi sosmed. Seorang remaja berinisial SNI di Balikpapan dengan tega membunuh bayi hasil zinanya lantaran belum siap menikah dan punya anak. Sungguh fenomena ini menambah daftar panjang kasus perzinaan di Indonesia. Negeri yang penduduknya mayoritas muslim, namun aturannya jauh dari islam. 

Zina Makin Liar, Buah Kapitalisme Sekuler
Fenomena zina yang makin liar di negeri ini adalah akibat kapitalisme sekular liberal. Kapitalisme sekular bagaikan racun ular berbisa yang mengalir dalam darah dan merusak tubuh manusia. Bisa melumpuhkan hingga mematikan. Sebuah pandangan hidup yang memisahkan agama dari kehidupan. Agama cukup mengatur urusan privat individu. Haram mengatur pengurusan urusan publik. Perilaku zina dilindungi atas nama liberalisme (kebebasan).  Pelakunya bebas melenggang atas nama HAM. Hal ini diperparah dengan adanya legalitas oleh negara dengan memfasilitasi tempat-tempat perzinaan. 

Bagi negara, tidak ada istilah halal atau haram. Yang ada adalah manfaat. Baru-baru ini publik dikejutkan disertasi Abdul Aziz. Seorang mahasiswa pasca sarjana UIN Yogyakarta dengan merujuk pada pemikiran tokoh liberal asal Suriah, Muhammad Syahrur. Abdul Aziz berupaya menghalalkan hubungan intim nonmarital (di luar nikah) alias zina di dalam disertasinya. Parahnya, predikat disertasinya diganjar ‘sangat memuaskan’ oleh Tim Penguji. Padahal isinya terang-terang menyerukan legalisasi dan perlindungan terhadap perzinaan. Sangat jelas mereka adalah pemuja kapitalisme sekuler liberal. Berlindung dibalik tameng karya ilmiah. Dalam masyarakat sekular-liberal, kebebasan seksual (hurriyatul jinsiyah) wajib untuk dipertahankan bahkan dikampanyekan dibawah payung undang-undang.

Khilafah Mengatasi Zina
Zina dalam islam dipandang sebagai tindak kejahatan (jarimah). Dasarnya firman Allah SWT yang artinya : Janganlah kalian mendekati zina. Sungguh zina itu tindakan keji dan jalan yang buruk (TQS al-Isra [17] : 32). Kejahatan seperti ini bisa terjadi baik karena faktor internal maupun eksternal. Secara internal, faktornya boleh jadi karena lemahnya pondasi agama. Khususnya ketakwaan kepada Allah SWT. Secara eksternal, adanya simulasi dari  luar baik tontonan, pergaulan, lingkungan masyarakat dan sistem yang rusak. Kedua faktor ini saling berkaitan satu sama lain. Untuk meyelesaikan persoalan zina, semua faktor tersebut harus diselesaikan. Imam al-Ghazali menuturkan, “Agama adalah pondasi dan kekuasaan adalah penjaga. Sesuatu tanpa pondasi, pasti runtuh. 

Sedangkan sesuatu tanpa kekuasaan, pasti hilang”. Aqidah jelas merupakan pondasi kehidupan (negara). Baik bagi individu, masyarakat maupun negara. Negara yang dimaksud adalah khilafah. Dalam negara khilafah,  halal-haram menjadi standarisasi dalam kehidupan. Barang dan jasa yang diproduksi, dikomsumsi dan didistribusikan ditengah masyarakat adalah barang dan jasa yang halal. Tidak boleh ada barang dan jasa yang haram diproduksi dan didistribusikan di tengah masyarakat.  Dari sini, gambar, VCD, DVD, situs, majalah, tabloid, acara televisi dan semua barang yang berbau porno tidak akan ditemukan. Karena memproduksi, mengkonsumsi dan mendistribusikannya jelas merupakan tindakan kriminal. Hal yang sama juga berlaku untuk jasa. Jasa yang boleh diproduksi, dikonsumsi dan didistribusikan di tengah masyarakat adalah jasa halal. 

Semua jasa haram tidak boleh. Sehingga  memproduksi, mengkonsumsi dan mendistribusikannya dianggap sebagai tindakan kriminal. Karenaya, jasa seks komersial, pornoaksi, dll tidak akan ditemukan. Selain faktor barang dan jasa, islam menetapkan kehidupan pria dan wanita terpisah. Pada saat yang sama, masing-masing pria dan wanita wajib menutup auratnya. Para wanita diharamkan tabarruj. Tidak hanya itu, pria dan wanita sama-sama diperintahkan untuk menundukkan pandangannya terhadap lawan jenis. Semua ini untuk memastikan agar pergaulan pria dan wanita dalam kehidupan individu, masyarakat, dan negara benar-benar sehat. Tidak memicu terjadinya tindak kriminal. 

Islam akan menutup rapat-rapat  semua pintu yang mendorong terjadinya kejahatan seksual mulai hulu hingga hilir. Islam menetapkan sanksi yang keras dan tegas kepada siapa saja yang melanggarnya. Khilafah tidak akan mentoleransi sedikitpun tindak kejahatan ini. Dalam Islam, pelaku zina akan dikenai sanksi tegas sebagai wujud tindakan kuratif negara. Sanksi yang dijatuhkan adalah berdasarkan pada sabda Rasulullah saw sebagai berikut:
“Perawan dengan perjaka (jika berzina) maka dicambuk 100 kali dan diasingkan setahun. Duda dengan janda (jika berzina) maka dicambuk 100 kali dan dirajam.” (HR. Muslim no. 1690). 

Begitulah cara Islam (khilafah) menjaga suasana islam di tengah-tengah masyarakat agar tetap berada dalam dekap ridaNya. Dan sudah saatnya kita campakkan kapitalisme sekular dengan menggantinya dengan islam.  Cukuplah menjadi renungan bagi kita semua apa yang disabdakan Rasulullah Saw. Imam al-Hakim mengeluarkan sebuah hadits marfu’ yang diriwayatkan oleh Ibnu Abbas bahwa Rasulullah saw bersabda:
إذا ظهر الزنا والربا في قرية ، فقد أحلوا بأنفسهم عذاب الله
“Apabila zina dan riba telah tampak nyata dalam suatu kaum, maka mereka benar-benar telah menghalalkan adzab Allah terhadap diri mereka”. (Al-Hakim menyatakan bahwa hadits ini isnadnya shahih, Adz-dzahabi berkomentar dalam At-Talkhish, shohih). Wallahu ‘allam

Post a Comment

Previous Post Next Post