Oleh Ati Gumati
Viral di media sosial, seorang guru SMK di Jambi dikeroyok oleh muridnya. peristiwa ini memicu keprihatinan publik sekaligus membuka kembali persoalan serius tentang arah dan kualitas pendidikan hari ini.
Menurut keterangan guru, kejadian bermula saat ia menegur siswa di kelas, namun teguran itu dibalas dengan sikap tidak sopan dan kata-kata kasar. Di sisi lain, sebagian siswa mengaku bahwa guru tersebut kerap berbicara kasar, merendahkan, bahkan melabeli murid dan orang tua dengan sebutan melukai.
Koordinator Nasional JPPI, Ubaid Matraji, menilai kasus ini sebagai pelanggaran hak anak untuk mendapatkan pendidikan yang aman dan bebas dari kekerasan, sebagaimana dijamin dalam Undang-Undang Perlindungan Anak.
Namun, kasus ini bukan sekedar konflik individu antara guru dan murid. Ia adalah cermin rusaknya relasi pendidikan. Hubungan yang seharusnya dibangun diatas penghormatan, keteladanan, dan kasih sayang justru berubah menjadi relasi penuh ketegangan, luka psikologis dan kekerasan.
Di sisi lain, murid menunjukkan krisis adab: melawan, kasar, dan kehilangan rasa hormat kepada guru. Di sisi lain, sebagian guru pun terjebak dalam pola komunikasi yang merendahkan dan menyakiti. Ketika adab hilang, konflik menjadi tak terhindarkan.
Fenomena ini tidak lahir dari ruang kosong. Ia merupakan buah dari sistem pendidikan yang menyingkirkan nilai agama., yang menempatkan kecerdasan dan prestasi di atas pembinaan akhlak dan kepribadian.
Dalam Islam, pendidikan bukan sekedarencetak manusia pintar, tetapi membentuk insan beriman dan beradab. Rasulullah SAW diutus untuk menyempurnakan akhlak manusia. Dalam tradisi Islam, adab didahulukan sebelum ilmu. Murid diajarkan untuk memuliakan guru, sementara guru diwajibkan untuk mendidik dengan kasih sayang, kesabaran, dan keteladanan bukan hinaan dan kekerasan verbal.
Negara pun memiliki peran besar untuk memastikan kurikulum berlandaskan nilai Islam, membentuk karakter, serta menciptakan lingkungan pendidikan yang aman, bermartabat dan manusiawi.
Kasus guru dikeroyok murid ini seharusnya menjadi alarm keras bagi dunia pendidikan. Jika pembinaan akhlak terus diabaikan, maka kekerasan, konflik, dan hilangnya rasa hormat akan semakin sering terjadi.
Sudah saatnya pendidikan dikembalikan pada tujuan sejatinya; membentuk manusia berilmu, beriman, dan beradab, bukan sekadar terampil namun miskin akhlak.
WAllahu' alam bishawab
No comments:
Post a Comment