Penulis : Rosmita (Pemerhati Generasi)

Hari ini kita lihat bagaimana sistem pendidikan sekuler telah menghasilkan generasi yang lemah imannya, bobrok akhlaknya, dan minim ilmu agamanya. Sehingga kerusakan demi kerusakan terjadi tanpa bisa dihindari. Mulai dari tawuran pelajar, seks bebas, narkoba, sampai kriminalitas dikalangan remaja sudah menjadi tren generasi di negeri ini. 

Komnas Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) berkoordinasi dengan Kementerian Kesehatan melakukan survei di berbagai kota besar di Indonesia menyatakan sebuah data, "62,7% remaja di Indonesia melakukan hubungan seks di luar nikah." (Kompasiana.com)

Sedangkan dalam kasus narkoba, KPAI mencatat dari 87 juta populasi anak di Indonesia, sebanyak 5,9 juta diantaranya menjadi pecandu narkoba. (Detik.com)

Apa yang salah dan menyebabkan semua ini terjadi? Tak lain dan tak bukan adalah karena sistem pendidikan sekuler yang diterapkan oleh negeri ini. Sistem sekuler adalah sistem yang memisahkan agama dari kehidupan, sistem ini telah berhasil menjauhkan generasi muslim dari nilai-nilai Islam. 

Selain itu faktor kelalaian orang tua, lemahnya kontrol masyarakat, serta abainya peran negara turut menyebabkan kerusakan generasi saat ini.

Dalam sistem sekuler agama hanya dijadikan alat untuk mengatur urusan akhirat (ibadah) sedangkan dalam urusan dunia (muammalah) manusia dilarang bawa-bawa agama. Contoh, dalam Islam Allah telah mengatur bagaimana sistem pergaulan antara laki-laki dan perempuan yaitu dengan perintah menundukkan pandangan, perintah menutup aurat, larangan ikhtilat, larangan khalwat, sampai larangan mendekati zina.

Tapi dalam sistem sekuler yang berasaskan pada kebebasan (liberalisme) termasuk kebebasan berpendapat, dan kebebasan berperilaku. Sehingga seseorang bebas melakukan apa saja selama tidak merugikan orang lain, seperti orang mau pacaran silahkan bahkan berzina sekalipun asal suka sama suka dan tidak ada pihak yang melapor karena dirugikan maka orang tersebut tidak dihukum.  

Belum lagi kurikulum pendidikan dalam sistem sekuler  yang berantakan dan tidak berdasar pada aqidah Islam membuat remaja tidak memiliki iman yang kuat, padahal iman adalah benteng perlindungan yang kokoh bagi seseorang, sehingga tidak mudah hanyut dalam arus globalisasi zaman. Dalam sistem pendidikan sekuler pendidikan agama bukanlah prioritas utama sehingga hanya diberikan  waktu seminggu sekali dan itupun hanya satu jam saja. Sehingga para siswa tidak punya tsaqofah Islam yang luas dan mumpuni membuat remaja tidak faham dengan ajaran agamanya sendiri.

Ditambah kurangnya perhatian pemerintah terhadap kualitas dan kuantitas guru, bahkan nasib guru terutama guru honorer masih jauh dari kata sejahtera. Hal ini  membuat guru tidak fokus dalam mengajar dan mendidik muridnya. Guru hanya sekedar mentransfer ilmu tanpa bersungguh-sungguh dalam mendidik dan membimbing muridnya. 

Fasilitas pendidikan yang  diberikan pemerintah juga belum merata, buktinya masih banyak sekolah-sekolah yang tidak layak digunakan untuk belajar bahkan ada yang sampai roboh dan membahayakan keselamatan para siswa.

Hal ini berbanding terbalik 180 derajat dengan sistem pendidikan Islam. Dalam sistem pendidikan Islam Aqidah Islam menjadi landasan kurikulum pendidikan yang bersumber kepada Al-qur'an dan As-sunah. Ilmu agama (tsaqofah Islam) menjadi prioritas utama tanpa mengesampingkan ilmu pengetahuan lainnya seperti sains dan teknologi. Sehingga sistem pendidikan Islam menghasilkan generasi yang kokoh imannya, bagus akhlaknya, dan luas ilmu pengetahuannya (terutama dalam tsaqofah Islam).

Dalam pendidikan Islam kualitas dan kuantitas guru sangat diperhatikan,  begitu pula dengan kesejahteraan guru  makanya guru diberikan gaji yang besar. Bila guru sejahtera maka dia akan fokus mendidik dan membimbing murid-muridnya tanpa harus sibuk mencari penghasilan tambahan karena gaji yang diberikan sudah lebih dari cukup untuk menghidupi diri dan keluarganya.

Islam juga sangat memperhatikan fasilitas pendidikan dengan menyediakan sarana dan prasarana sekolah yang memadai, sehingga para siswa dapat belajar dengan nyaman dan tenang tanpa takut sekolahnya akan roboh.

Dan pendidikan tersebut diberikan secara gratis kepada seluruh rakyat tanpa membedakan kaya atau miskin, baik muslim maupun non muslim (kafir dzimni). Sehingga tidak ada lagi anak-anak putus sekolah. 

Begitulah ketika Islam diterapkan maka akan menghasilkan generasi yang cemerlang. Sejarah mencatat bagaimana di era kejayaan Islam telah lahir ilmuwan ilmuwan hebat dan paling berpengaruh di dunia. Seperti, Ibnu sina ilmuwan kesehatan, Khawarizmi ilmuwan matematika, Ibnu Hayyan ilmuwan Kimia, Al-Jazari ilmuwan robotika, Ibnu Nafis ilmuwan astronomi, dan masih banyak lagi.

Itulah bedanya sistem pendidikan sekuler dengan sistem pendidikan Islam, karena jika sistemnya baik maka akan melahirkan generasi yang baik pula. Namun jika sistemnya rusak sudah pasti rusak pula generasinya. Wallahu a'lam bishowab.
 
Top