Penulis : Mariati Impi, SKM *
Alumni WCWH

Secara harfiah, Dekadensi moral adalah kemerosotan atau turunnya nilai moral seseorang maupun kelompok terhadap norma norma dan budaya luhur yang berlaku di masyarakat secara turun temurun. 

Darurat Moral
Derasnya arus globalisasi teknologi dan informasi semakin kentara mengikis norma dan budaya masyarakat kita. Budaya sungkem dan ramah tamah kepada orang yang dianggap lebih tuapun kini sudah semakin langka dilakukan dan dijumpai dikehidupan masyarakat kita. 

Moral remaja dari tahun ketahun terus mengalami degradasi atau penurunan kualitas dalam segala aspek moral, mulai dari tutur kata, cara berpakaian, sikap dan lain lain. 

Beberapa tahun terakhir ini kita sering dibuat tercengang dengan berbagai kasus penghinaan ataupun pelecehan siswa terhadap gurunya. Hanya karena tidak terima ditegur guru, siswa nekat memukul dan membully guru di ruang kelas.

Kasus terkini  seperti yang dilansir oleh koran Sindo (11/02/2019) terjadi di SMP PGRI Wring Anom, Gresik Jawa Timur, seorang siswa berinisial AA, berani menantang gurunya karena tidak terima ditegur saat merokok di kelas. Sikapnya tersebut ditunjukan dihadapan rekan-rekan sekelasnya. AA bahkan berani memegang leher baju Sang Guru yang bernama Nur Khalim itu. Ironisnya siswa lain yang ada di kelas hanya menonton dan menertawakan.

Kita juga tentu belum lupa dengan tragedi yang sempat mengguncang dunia pendidikan Indonesia yaitu siswa yang menganiaya gurunya hingga tewas, yang pertama kalinya terjadi di Jawa Timur bahkan di Indonesia (TribunKalitim.Co,07/02/2018 ).

“Kasus meninggalnya guru Budi menjadi peringatan untuk negeri ini bahwa pelajar hari ini telah mencapai titik darurat moral dan karakter”, kata Ketua umum PW PII Jawa Timur Muhammad Hasbi al Haikal dalam keterangannya yang diterima di Jakarta, Ahad, (04/02/2018) Demikian dilansir Antara.

Tentu diluar kasus tersebut diatas masih banyak lagi kasus siswa yang berani melawan dan melakukan tindakan kekerasan kepada gurunya yang mungkin tidak tercium oleh media.  

Faktor Penyebab
Secara garis besar, faktor pertama yang menyebabkan siswa melakukan aksi kekerasan kepada gurunya sendiri itu bersifat psikologis. Yang bersangkutan cenderung berkepribadian impulsif dan acap kali kesulitan mengendalikan emosi. Kondisi psikis ini melengkapi faktor sosialisasi dan subkultur kekerasan yang berkembang dihabitat sosialnya. Harga diri yang terlalu tinggi ditambah kepribadian yang kurang matang, sering menyebabkan seseorang terpicu untuk melakukan aksi brutal dengan menganiyaya figur guru yang seharusnya dihormatinya meski karena hal sepele.

Faktor kedua, berkaitan dengan arah perkembangan iklim pembelajaran yang cenderung makin kompetitif, impersonal dan kurang membuka kesadaran siswa tentang arti penting solidaritas dan toleransi. Pendidikan karakter sering kali tidak dikembangkan dengan serius.

Faktor ketiga adalah kurang dikembangkannya proses pembelanjaran yang mampu menarik minat dan antusiasme siswa untuk terlibat aktif selama pelajaran berlangsung di kelas,  sehingga tidak heran jika ada sebagian siswa yang membunuh kejenuhannya dikelas dengan berulah yang macam macam yang terkadang keluar dari batas-batas etika.

Komisioner KPAI bidang pendidikan Retno Listyarti dalam keterangan tertulis yang diterima Okezone, Minggu (10/2/2019), mengatakan bahwa kemungkinan ada dua faktor yang menyebabkan kejadian tersebut, yaitu karakter siswa yang kurang terbina dengan baik, hal ini terkait dengan pola asuh yang dilakukan oleh orang tua di rumah. dan rendahnya kemampuan guru dalam mengelola pembelajaran peserta didik, terutama dalam penguasaan materi di kelas serta dalam menciptakan suasana belajar yang kreatif, menyenangkan dan menantang kreatifitas serta minat siswa.

Islam Mengajarkan
Konsep Islam yang mengajarkan akhlak al-karimah adalah satu hal yang ampuh dalam mengatasi kerusakan moral. Bahkan Rasulullah SAW mengatakan bahwa dirinya diutus untuk menyempurnakan Akhlak. 

Islam juga mengajarkan sebuah paradigma agung bahwa keimanan akan melahirkan akhlak mulia. Semakin beriman seseorang, semakin mulia akhlaknya. Rasulullah  bersabda, “Mukmin yang paling sempurna imannya adalah yang paling baik akhlaknya”, (Riwayat Abu Daud dan Ahmad). 

Kalau kita perhatikan di antara tujuan perintah-perintah beribadah adalah untuk menata akhlak. Dalam perintah shalat, misalnya, Allah SWT berfirman: “ Dan dirikanlah shalat, sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan-perbuatan) keji dan munkar. (Al-Ankabut: 45).

Dalam nilai –nilai islam, ada satu paket nilai penting yang harus diterapkan secara bersama-sama, yaitu ibadah, muamalah, dan adab. Namun demikian perlu diketahui, bahwa ibadah, muamalah, dan adab akan buruk apabila tidak didahului oleh akidah yang benar.

Jadi sudah semestinyalah para orang tua dan guru membekali anak anak yang merupakan cikal bakal generasi bangsa ini dengan akidah dan keimanan yang benar dan lurus demi melahirkan mental dan akhlak yang mulia. Wallahu a’lam bisshawab.
 
Top