Oleh: Nur Elmiati 
(Aktivis Dakwah Kampus dan Member Akademi Menulis Kreatif)

Pacaran merupakan sebuah aktivitas yang telah mewabah dikalangan milenial dan dijadikan sebagai ajang untuk mencari pasangan. Ditambah pula menjadi jalan untuk saling mengenal dan saling mencari kecocokan antara satu sama lain. Apabila sudah saling mengenal dan ada kecocokan antara keduanya maka hubungan berlanjut ke arah yang lebih serius dan berlanjut sampai pernikahan. Tetapi jika tidak ada kecocokan di antara keduanya maka kandas ditengah jalan, begitulah sistematika pacaran.

Pandangan milenial sekarang meyakini benar bahwa pacaran  mempunyai banyak manfaat. Selain menjadi jalan untuk mencari pasangan hidup, pacaran juga bisa menghadirkan kebahagiaan, dapat meningkatkan semangat dalam beraktivitas, memotivasi belajar, ada teman ngobrol dan curhat, mengisi waktu luang, agar tidak ketinggalan jaman, agar tidak dikatakan jomblo dan banyak hal positif  lainnya.

Padahal realita tak seindah ekspetasi, aktivitas pacaran tidak hanya menyuguhkan persoalan kebahagiaan semu semata melainkan menambah problematika baru yang akan dihadapi oleh para pelakunya. Hal ini terjadi akibat penerapan paham liberalisme yang membuat para milenial bebas melakukan apa saja dengan berdalih “HAM”. Tidak hanya itu, paham liberalisme juga semakin masif di galakkan melalui tayangan-tayangan film bioskop. Diantaranya Dilan, Dua garis biru dan The santri yang akan segera ditayangkan.

Disamping adanya penerapan paham liberalisme melalui dunia perfilman seperti ini, maka potret buram masa depan milenial saat ini akan semakin terpampang nyata di depan mata. Hal ini ditandai dengan munculnya berbagai macam persoalan yang membelit milenial sekarang seperti kekerasan seksual, kriminalitas, maraknya pergaulan bebas, narkoba, miras, melakukan perzinahan hingga hamil, pembunuhan pada janin yang tidak berdosa (aborsi), hilangnya keperawanan perempuan, dan banyak hal lainnya.

Inilah akibat bercokolnya sekulerisme yaitu pemisahan agama dari kehidupan, sehingga tidak ada andil agama dalam mengatur kehidupan salah satunya mengatur pergaulan antara laki-laki dan perempuan. Seolah-olah agama tidak boleh dikorelasikan dengan kehidupan. Mereka berdalih bahwa urusan kehidupan bukan domainnya agama. Tidak heran apabila banyak kerusakan-kerusakan generasi bangsa akibat tidak menjadikan agama sebagai pengatur kehidupan.

Sungguh menyayat hati bila melihat kondisi-kondisi milenial yang semakin cacat dan rusak, akhirnya berbagai solusipun dirumuskan oleh pemerintah dan diterapkan ditengah-tengah masyarakat. Alhasil dari tahun ke tahun angka kerusakan generasi bangsa makin bertambah. Pasalnya  solusi yang dirumuskan hanya solusi parsial dan itupun hanya bisa menyelesaikan permasalahan-permasalahan cabangnya sedangkan problematika pokoknya tidak bisa diselesaikan.

Maka dari itu milenial harus segera sadar dan bangkit dari kondisi ini, bahwasanya pacaran merupakan buah penerapan dari sekulerisme dan liberalisme. Serta eksistensi dari sekularisasi liberasime itu sendiri akan merusak akidah  dan citra generasi bangsa. Oleh karena itu kedua pemahaman tersebut harus dibumihanguskan sebab hanya mengundang duka lara bagi generasi bangsa.
Disamping itu juga milenial harus feadback ke islam, sebab islam mampu memberikan solusi tuntas atas semua problematika kehidupan yaitu dengan penerapan syariah dan penegakan khilafah. Kenapa khilafah? Karna khilafah akan menerapkan  peraturan-peraturan atau syariat islam secara kaffah di segala lini kehidupan. Termasuk mengatur tata cara pergaulan antara laki-laki dan perempuan, kemudian mengatur bagaimana seharusnya laki-laki dan  perempuan berpakaian dan mengatur bagaimana seharusnya pemenuhan gharizah (naluri) nau-nya laki-laki dan perempuan yaitu ditempuh dengan jalan ta’aruf menuju pernikahan. Bukan hanya itu kebutuhan milenial juga akan terjamin dalam naungan khilafah salah satunya pendidikan, ekonomi, dan banyak hal lainnya.

Wallahu a’lam bi ash-shawab
 
Top