Oleh: Nur Fitriyah Asri
Penulis Opini Akademi Menulis Kreatif

Alasan Prabowo melakukan rekonsiliasi bahwa "Bermain Catur itu Harus Benar dan Bersih."
Saudara-saudara, para pendukungku, Pilpres sudah berlalu dua bulan yang lalu dengan berakhirnya sidang MK. Hasilnya sudah kita ketahui semua. Walau pun terasa banyak yang ganjil. Walaupun terasa masih jauh dari asas jujur dan adil. 

Tapi ini realitas politik yang kita hadapi dan mau tidak mau kita harus terima. Dari sana kita belajar bahwa begitu banyak aturan yang dibuat semau-maunya yang membuat negeri ini menjadi semrawut,  termasuk aturan Pemilihan Umum dan Aturan Penyelesaian Perselisihan Pemilihan Umum.
Bukannya saya tidak mau mengambil jalan pintas, melawan kecurangan ... Bukan... !
Bukannya saya tidak bisa melakukan gerakan seperti yang saudara-saudara katakan sebagai people power ...  Bukan...!
Bukannya saya tidak mau melakukan protes masal terhadap indikasi ketidak jurdilan proses Pilpres kemarin ... Bukan ...!

Tapi saya sangat mengetahui akibat yang akan timbul bila hal itu kita lakukan bersama adalah darah saudara-saudara akan tertumpah dimana-mana. Mayat- mayat bisa berserakan,  banyak nyawa akan dikorbankan. Bukan itu yang saya mau ....

Dan yang paling celakanya negeri ini akan terkoyak-koyak, tercerai-berai .... Keadaan inilah yang memang dikehendaki oleh pihak asing yang memang ingin menguasai negeri kita sejak lama ...Ini yg harus kita hindarkan. (Dilansir oleh Portal Islam, 27 Juli 2019).

Manuver politik yang  diambil Prabowo untuk rekonsiliasi apapun alasannya, ternyata sangat menyakitkan hati jutaan umat yang mendukung dan memilihnya. Benar-benar menyakitkan dan  menyakiti hati rakyat terutama ijtima' ulama. Prabowo dianggap dan dicap sebagai pengkhianat.

Anehnya, jatuh di lubang yang sama. Perjuangan dan perlawanan yang dilakukan selalu berakhir dengan kegagalan. Ironi sekali, tidak bisa mengambil hikmahnya.
Mereka sebenarnya tahu bahwa negara Indonesia sedang dalam bahaya besar. Neo Imperialisme dan Neo Liberalisme telah mencengkeram negeri ini. Menjajah di semua lini kehidupan, tanpa bisa melakukan perlawanan dan perubahan. Karena jalan untuk melakukan perlawanan dan perubahan salah total.

Semua itu disebabkan karena sistem yang dianut negara ini adalah sekularisme. Paham yang menafikan agama. Agama tidak boleh mengatur kehidupan, hanya mengurusi ibadah ritual semata.

Sekularisme inilah yang menyebabkan pintu masuk penjajahan. Melalui demokrasi, aturan dibuat oleh sekelompok manusia yang mengatasnamakan wakil rakyat. Aturan yang dibuat hanya untuk melanggengkan kekuasaannya, untuk kepentingan individu, golongan dan partainya. Bahkan terjadi kongkalikong/kompromi dengan korporasi hanya demi komisi, sehingga mengobral aset-aset negara. Bebas melakukan korupsi dengan menggarong uang rakyat dan jual beli jabatan serta menjual keadilan.

Sistem demokrasi sekularisme itulah yang menyebabkan negeri ini semrawut dan amburadul. Akan sia-sia jika ingin melakukan perubahan jalannya masih sama yaitu melalui sistem demokrasi. 

Bukankah demokrasi adalah sistem kufur yang bertentangan dengan Islam?  

Demokrasi disebut sistem kufur karena yang paling kontradiksi dengan Islam adalah konsep demokrasi itu sendiri. Dimana kedaulatan di tangan rakyat artinya yang berhak membuat hukum adalah rakyat. Padahal menurut akidah Islam, yang berhak membuat hukum hanya Allah Swt, bukan manusia (QS al-An'am:  57). 
Allah Swt berfirman:

قُلْ إِنِّي عَلَىٰ بَيِّنَةٍ مِنْ رَبِّي وَكَذَّبْتُمْ بِهِ ۚ مَا عِنْدِي مَا تَسْتَعْجِلُونَ بِهِ ۚ إِنِ الْحُكْمُ إِلَّا لِلَّهِ ۖ يَقُصُّ الْحَقَّ ۖ وَهُوَ خَيْرُ الْفَاصِلِينَ

 Arti: Katakanlah, "Sesungguhnya aku berada di atas hujjah yang nyata (Alquran) dari Tuhanku, sedang kamu mendustakannya.Tidak ada padaku apa (azab) yang kamu minta supaya disegerakan kedatangannya. Menetapkan hukum itu hanyalah hak Allah. Dia menerangkan yang sebenarnya dan Dia pemberi keputusan yang paling baik."

Sebab, memberi hak kepada manusia untuk membuat hukum adalah suatu kekufuran (QS al-Maidah: 44). 

Menurut Abdul Qadim Zallum, ada empat hal yang menjadikan kontradiksi-kontradiksi antara demokrasi dan Islam, yaitu:

1. Dari Segi Sumber: Demokrasi berasal dari manusia dan merupakan produk akal manusia. Sebaliknya, Islam berasal dari Allah Swt, melalui wahyu yang diturunkan kepada Rasul-Nya Muhammad Saw.

2. Dari Segi Asas: Demokrasi asasnya adalah sekularisme (pemisahan agama dari kehidupan). Sedangkan Islam asasnya Akidah Islam yang mewajibkan penerapan syariah  secara kaffah (menyeluruh) dalam segala bidang kehidupan (QS al-Baqarah: 208).

3. Dari Segi Standar Pengambilan Pendapat: Demokrasi menggunakan standar mayoritas. Ada pun dalam Islam, standar yang dipakai tergantung materi yang dibahas. Rinciannya sebagai berikut:
a. Jika materinya menyangkut status hukum syariah, standarnya adalah dalil syariah terkuat, bukan suara mayoritas.

b. Jika materinya menyangkut aspek-aspek teknis dari suatu aktivitas, standarnya suara mayoritas.

c. Jika materinya menyangkut aspek keahlian, standarnya adalah pendapat yang paling tepat, bukan suara mayoritas.

4. Dari Segi Ide Kebebasan: Demokrasi menyerukan 4 jenis kebebasan (kebebasan berakidah, kebebasan bertingkah laku, kebebasan berpendapat dan kebebasan berkepemilikan). Kebebasan adalah tidak adanya keterikatan dengan apapun pada saat melakukan aktivitas. Sebaliknya, Islam tidak mengakui kebebasan ala Barat. Justru, mewajibkan keterikatan manusia dengan syariah Islam.

Itulah jawabannya, mengapa perjuangan melalui demokrasi selalu mengalami kegagalan. Saatnya kita tinggalkan demokrasi beralih pada perjuangan melalui Islam

Sistem demokrasi nyata-nyata sistem kufur dan telah terbukti tidak bisa menyejahterakan rakyatnya. Justru, malah menyengsarakan, merusak dan menzalimi  rakyatnya. Ini  disebabkan karena sistemnya yang rusak dan merusak serta batil.

Oleh sebab itu, memperjuangkan kebenaran melalui sistem yang rusak dan batil, tidak mungkin akan berhasil. Karena pada dasarnya kebaikan/kebenaran tidak bisa dikompromikan dengan kebatilan.

Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman:

 وَلَا تَلۡبِسُواْ ٱلۡحَقَّ بِٱلۡبَـٰطِلِ وَتَكۡتُمُواْ ٱلۡحَقَّ وَأَنتُمۡ تَعۡلَمُونَ

Artinya: “Janganlah kalian campuradukkan antara kebenaran dan kebatilan, dan kalian sembunyikan yang benar padahal kamu mengetahuinya." (TQS. al-Baqarah [2]: 42).

Termasuk dalam kategori penjelasan ayat ini, larangan mencampuradukkan antara perkara halal dan haram.

Larangan ini merupakan larangan yang besar dan serius. Hal ini karena hak menentukan halal dan haram adalah ketentuan Allah dan semata-mata haknya Allah.

Karena itu Allah mengecam mereka yang mencampuradukkan antara yang haq dan yang batil, antara kebenaran dan kebohongan. Sebab dengan cara-cara itulah, tangan-tangan kotor mereka telah menyebabkan hukum Allah bercampur aduk antara larangan dan suruhan.

Ayat tersebut, juga ditujukan kepada orang yang mengetahui sesuatu ilmu yang baik, tapi menyembunyikan. Misalnya, menegakkan khilafah hukumnya wajib, tetapi menyembunyikannya bahkan justru mengkriminalisasi demi untuk kepentingan duniawi. Padahal mereka tahu akan keagungan khilafah, bahwa khilafah adalah sistem pemerintahan Islam. Ironi sekali, mereka lebih memilih menjadi golongan yang keji di sisi Allah. Mereka mengacaukan pandangan masyarakat tentang agama samawi yang benar. Sejatinya mereka adalah penista agama.

Semoga kita dapat mengetahui dan mengikuti yang benar adalah benar, dan berlindung dari yang salah adalah salah.

اللهُمَّ أَرِنَا الحَقَّ حَقّاً وَارْزُقْنَا التِبَاعَةَ وَأَرِنَا البَاطِلَ بَاطِلاً وَارْزُقْنَا اجْتِنَابَهُ

Artinya: “Ya Allah, tunjukkanlah kepada kami yang benar itu benar, dan berikanlah kami kekuatan untuk mengikutinya, serta tunjukkanlah kami yang batil itu batil dan berikanlah kami kekuatan untuk menjauhinya.” (H.R. Bukhari dan Muslim).

Perjuangan dan perubahan bisa terjadi hanya melalui Islam dengan mengikuti metode perjuangan Rasulullah Saw yaitu mendakwahkan Islam Kaffah. Bukan dengan jalan kompromi, bukan melalui demokrasi. Demokrasi sistem kufur harus diganti dengan sistem Islam yaitu khilafah ala minhajjin nubuwwah, maka rahmatan lil alamin akan terwujud. Itulah perjuangan hakiki.

Wallahu a'lam bishshawab.
 
Top