Oleh: Sofia Ariyani, S.S 
Member Akademi Menulis Kreatif

Bergulirnya pernyataan penghapusan pelajaran agama menuai polemik. Banyak masyarakat yang tidak setuju dengan wacana ini. Apa pasal? Ada pelajaran agama saja potret pendidikan saat ini begitu buramnya. Berbagai kasus mewarnai dunia pendidikan. Siswa menghajar guru, guru menghajar siswa. Murid dicabuli gurunya. Aksi gladiator menjadi ajang unjuk kekuatan. Jalanan menjadi wahana tawuran. Pelajar berkawankan miras dan narkoba. Dan sederet kasus yang mencoreng wajah pendidikan di negeri ini.

Pernyataan ini disampaikan oleh Setyono Djuandi Darmono yang notabene praktisi pendidikan. Meski demikian Darmono meluruskan pernyataannya bahwa pelajaran agama cukup diajarkan orangtua masing-masing dan komunitas umat beragama.
Darmono menganggap ada paham agama ekstrim yang bisa merusak kesatuan dan harmoni sosial masuk ke sekolah dan universitas yang harus menjadi perhatian. JPNN.com (5/7)

Agama apa yang dimaksudkan? Jika agama yang dimaksud adalah Islam maka rusaknya kesatuan negeri bukan berasal dari eksisnya agama (red. Islam), bahkan agama manapun. Dan adanya faham ekstrim dalam agama (Islam) bukan berasal dari agama itu sendiri.
Cap ekstrim sejatinya perekayasaan untuk mengotak-kotakkan Islam, memecah belah Islam. Bagi mereka yang taat perintah agama dan menginginkan aturan agama diterapkan pada lini kehidupan akan dicap ekstrimis, radikal, fanatik dan teroris. Dan sebaliknya bagi mereka yang menjalani agama biasa-biasa saja tidak full-taat, dicap moderat.


 Pelumpuhan Aqidah

Adalah bahaya jika agama (red. Islam) tidak eksis dalam kehidupan, maka tidak ada aturan yang mengarahkan aktivitas manusia, tidak ada batas-batas norma, dengan sesuka hati manusia akan berperilaku sekehendaknya. Jika dibiarkan maka akan merusak manusia itu sendiri dan tatanan kehidupan. Dan yang lebih bahaya ketika manusia tidak membutuhkan Tuhan (Allah). Inilah pengebirian fitrah.
Pengebirian fitrah terjadi akibat sistem sekularisme yang mencengkeram dunia. Karena jelas sekularisme menafikan kehadiran Tuhan (Allah Swt) pada ranah publik, agama cukup berada di rumah ibadah. Dengan demikian akidah yang pincang ini berimbas pada tataran kehidupan umat manusia.

 Pendidikan Agama adalah Penting

Dalam Islam menuntut ilmu adalah wajib bagi umatnya baik laki-laki maupun wanita, sedari dini hingga bertemu ajal.

طَلَبُ الْعِلْمِ فَرِيْضَةٌ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ وَمُسْلِمَةٍ
Artinya : ”Mencari ilmu itu adalah wajib bagi setiap muslim laki-laki maupun muslim perempuan”. (HR. Ibnu Abdil Barr)

Pendidikan (tsaqafah Islam) adalah hal yang penting demi menunjang kehidupan, karena tsaqafah menjadi tulang punggung keberadaan dan keberlangsungan umat. Di atas tsaqofahlah berdiri peradaban. Dan ini akan menjadi perhatian bagi negara.

Tsaqafah itu sendiri mencakup akidah dan segala sesuatu yang terpancar dari akidah, baik itu berupa hukum, berbagai solusi, sistem, serta ilmu pengetahuan yang dilandasi oleh akidah tadi, termasuk di dalamnya segala hal yang terkait dengan akidah tersebut seperti riwayat-riwayat dan sejarah umat. Apabila tsaqafah ini dihapuskan, tamatlah umat tersebut sebagai umat yang khas.


 Mengeksiskan Kembali Islam

Sejak keruntuhannya Islam mulai dijauhi oleh umat, tergantikan dengan fatamorgana kapitalisme. Islam tak lagi digdaya. Tak berdaya merengkuh anak-anaknya. Itu karena Islam dicabut dari benak kaum muslim hingga ke akar.
Dan kini Islam ada hanya di tataran ibadah ritual itu pun diusulkan ingin dihapus dari sekolah-sekolah. Ketika Islam hanya ada di ranah ritual maka dapat dilihat Islam tidak mampu mengatasi segala permasalahan. Justru umat Islam mengalami banyak kezaliman, dihinakan, dilecehkan, dianiaya, dibantai, bahkan diberangus dari muka bumi. Umat Islam begitu tertinggal dari umat lainnya, bodoh dan menjadi jongos peradaban kapitalisme yang serakah.

Sudah jutaan nyawa kaum muslimin melayang sia-sia, kelaparan melanda negeri-negeri muslim, kekayaan alamnya dikeruk habis oleh para perompak kapitalisme. Tak ada lagi kedigdayaan pada Islam.

Saatnya umat Islam bangkit dari keterpurukan ini. Mengembalikan Islam ke seluruh dunia. Menjadikan Islam sebagai kompas kehidupan, dalam tataran individu maupun bernegara, dalam ranah ritual hingga politik. Hanya dengan menjadikan Islam sebagai kepemimpinan berfikir maka umat akan selamat dunia dan akhirat.


مَنْ أَرَا دَالدُّنْيَا فَعَلَيْهِ بِا لْعِلْمِ، وَمَنْ أَرَادَالْاآخِرَةَ فَعَلَيْهِ بِالْعِلْمِ، وَمَنْ أَرَادَهُمَا فَعَلَيْهِ بِالْعِلْمِ
Artinya : ”Barang siapa yang menghendaki kehidupan dunia maka wajib baginya memiliki ilmu, dan barang siapa yang menghendaki kehidupan Akherat, maka wajib baginya memiliki ilmu, dan barang siapa menghendaki keduanya maka wajib baginya memiliki ilmu”. (HR. Turmudzi)

Wallahu a'lam bishawab.
 
Top