Penulis : Fadhilah Ummu Khalifah

Pada penetapan Presiden dan wakil presiden periode 2019-2024  minggu lalu, Joko widodo-ma'ruf Amin memberikan pidato sambutan atas kemenangannya. Dalam pidatonya, presiden baru tersebut menyampaikan, bahwa dirinya dan pasangannya akan berjuang sekuat tenaga, membawa Indonesia menjadi negara yang maju dan bermartabat, sejajar dengan negara-negara lain. “Saya dan KH Ma’ruf Amin meng­ucapkan terima kasih atas kepercaya­an yang diberikan oleh rakyat kepada kami berdua untuk melanjutkan tugas sejarah, mengemban amanat keper­cayaan rakyat membawa seluruh rak­yat Indonesia menuju Indonesia maju yang bermartabat, sejajar dengan ne­gara-negara lain di dunia.” (Sumber: Koran Jakarta- senin,1/7/2019)

Menjadikan Indonesia negara maju, tak semudah membalikkan telapak tangan. Butuh kekuatan sistem politik, ekonomi, dan kepemimpinan yang mumpuni. Indonesia adalah negara dengan sumber daya alam yang melimpah, yang tersebar dari sabang sampai merauke. Namun ekonominya, jauh dibawah negara-negara yang minim sumber daya alam. Indonesia juga negara, yang jumlah penduduknya terbesar ke-4 di dunia. Akan tetapi, belum nampak kepemimpinan Indonesia dimata dunia. Tentu mengherankan, jika negara yang dijuluki surga dunia karena kekayaan alamnya ini terbelit hutang yang jumlahnya triliunan. Sistem politik bebas-aktif yang diterapkan di Indonesia, justru menjadikan negara ini terjebak dalam keran liberalisasi dan investasi asing. 

Akibatnya, Indonesia menjadi negara pengekor yang mengikuti perubahan politik dunia, tanpa bisa menentukan kebijakannya sendiri dan terkungkung dengan kebijakan kapitalisme global.

Menurut sistem internasional, negara di dunia dibagi menjadi dua; negara price center  yakni negara yang membuat kebijakan, dan negara price taker  yakni yang menerima kebijakan internasional. Negara-negara price center saat ini adalah Amerika Serikat, sebagian negara di Eropa barat, hingga Cina, Korea selatan, dan India. Sedang negara-negara price taker adalah semua negara di dunia ketiga, termasuk Indonesia. 

Oleh karena itu, kebijakan dan politik luar negerinya tidak mandiri, dan mengikut pada sistem kapitalisme global yang dianut oleh negara price center, yakni Amerika serikat yang membuat kebijakan internasional, dan memiliki pengaruh utama dalam konstelasi politik internasional.

Negara-negara yang menganut ideologi kapitalisme memang terlihat maju, jika dilihat dari taraf hidup dan teknologinya. Namun nyatanya mereka juga menyimpan  banyak problematika, seperti kemiskinan, kerusakan moral, hingga kesejahteraan. Karena sistem kapitalisme didasarkan pada asas manfaat, dan kekuasaan ada ditangan pemilik modal. Ini tentu bertentangan dengan Islam, yang segalanya harus disandarkan pada al-quran dan assunnah. Karena Allah lah pencipta sekaligus pengatur manusia, yang mengetahui kekurangan dan kelebihan manusia.
 
Top