Oleh : Riska Adeliana
(Pemerhati generasi)        

Belum selesai polemik film “Kucumbu Tubuh Indahku” yang di boikot oleh beberapa pemerintah kota. Kini muncul petisi untuk film “Dua Garis Biru” yang belum tayang di bioskop.

Petiisi digagas oleh gerakan profesionalisme mahasiswa keguruan Indonesia (garagaraguru) di change.org. mereka menilai ada beberapa scene di trailer yang menunjukkan situasi pacaran remaja yang melampaui batas menurut mereka. Tontonan tersebut dapat mempengaruhi masyarakat, khususnya remaja untuk meniru apa yang di lakukan di film.

Beberapa scene di trailer menunjukkan proses pacaran sepasang remaja yang melampau batas, terlebih ketika menunjukkan adengan berduaan di dalam kamar yang menjadi rutinitas mereka. Scane tersebut tentu tidak layak di pertontonkan pada generasi muda. Penelitian ilmiah telah membuktikan bahwa pengaruh manusia untuk meniru dari apa yang telah di tonton, isi dari petisi, dilihat DETIK HOT, Rabu(1/5/2019)

Meski tak terlihat ada adengan yang melanggar undang-undang, mereeka menyebut ada pesan implist yang ingin disampaikan lewat film “Dua Garis Biru” pesan tersebut di kawatirkan dapat merusak generasi muda Indonesia.

Segala tontonan yang menjerumuskan generasi kepada pelaku amoral sudah sepatutnya di lawan (bukan tentang film dua garis biru, melainkan semua film secara umum) karena kunci pembangunan negara ada pada manusianya. Mustahil apabila kita ingin Indonesia Emas 2045, namun generasi muda masih sering di suguhkan tontonan yang menjerumuskan kepada perilaku amora” tulis mereka”.

Hingga Rabu (1/5) pukul 07.40 WIB, petisi tersebut telah di tanda tangani oleh 158 orang, sejumlah netizen menayangkan adanya petisi, padahal film belum di tayangkan. Sehingga tidak bisa melihat secara utuh pesan yang ingin di sampaikan.
“Satu lagi film Indonesia yang menjadi korban petisi dari netizen sementara filmnya belium di tayangkan di bioskop manapun. Padahal “Dua Garis Biru” dirancang untuk mengedukasi generasi muda dari perihal bahaya seks di luar nikah. Ada apa dengan manusia-manusia di negeri ini? Kata @Taris Solis di twitwer.

 Sungguh miris, melihat kenyataan bahwa ada hal yang membahayakan di depan mata, jusru di biarkan bahkan di bela. Dengan alasan edukasi seks, film ini bahkan mendapat dukungan dari BKKBN.

Di puti Bidang Keluarga Berencana dan Kesehatan Reproduksi BKKBN Dwi Listyawardani mengatakan bahwa film tersebut bisa menjadi edukasi kesehatan reproduksi kepada remaja yang menontonya.Film itu mengambarkan realita bahwa anak remaja sedikit sekali mengetahui resiko-resiko yang bisa terjadi akibat perkawinan muda.

Film tersebut memberi pesan bahwa remaja harus memiliki rencana kehidupan sejak awal hingga kelak membangun rumah tangga. Dua Garis biru mengambarkan pernikahan di usia muda bisa merusak masa depan dan memupuskan berbagai cita-cita. Kata Dwi (ANTARA NEWS. Com 11/7/2019)

Pertanyaanya, apakah akan menjamin bahwa pesan “baik” yang di sampaikan dalam film tersebut akan di terima dan merubah masyarakat, sementara ia di bungkus dengan adengan yang tak mendidik.?

Manakah yang akan melekat di inggatan penonton? Dampak atau adengan yang dalam film tersebut? Malah fakta yang kita lihat hari ini kebanyakan dari penonton yaitu meniru adengan romantis yang tidak mendidik.Tentu kita sebagai seorang muslim harus semakin kritis terhadap penayangan film yang akan merusak masyarakat khususnya remaja. 

Di era globalisasi hari ini, dengan kecanggihan teknologi semua bisa diakses. Sehingga hari ini banyak terjadi kerusakan pada remaja di akibatkan karena salah dalam mengunakan dan memanfaatkan kecangihan teknologi hari ini. Juga bentuk dari penjajahan Barat melalui pemikiran. Karena mereka tau umat Islam hanya bisa di hancurkan, hanya dengan mencabut pemikiran Islam dari benak kaum muslim sampai keakar-akarnya. Yaitu dengan tontonan yang bisa merusak pemikiran umat.

Maraknya film yang bebas tak lain di sebabkan karna system Kapitalis Liberalisme yang telah merasuk kehidupan masyarakat. Sistem ini selalu mengagung- agungkan kebebasan, pembuatan film selalu di nilai bisnis yang menguntunggkan, selama ada manfaat disana mereka akan membuat judul dan trailer yang “menjual” tak peduli dampak buruk film itu bagi masyarakat.

Sayangnya negara hari ini tak berdaya mengendalikan arus liberalisme yang menghancurkan generasi muda. Malah negara mengapresiasi dengan alasan demi karya anak bangsa.

Lalu adakah solusi yang tuntas atas permasalahan ini?
Bagaimana Islam Menuntaskan Permasalahan Ini?
Sek’s education dalam perpektif Islam

1. Menanamkan rasa malu pada anak
Rasa malu harus ditanamkan sejak anak usia dini dan membiasakan anak untuk selalu menutup auratnya ketika keluar rumah.

2. Menanamkan jiwa maskulinitas pada anak laki-laki dan jiwa feminitas pada anak perempuan.
Berikan pakaian yang sesuai dengan jenis kelamin anak, sehingga mereka terbiasa untuk berprilaku sesuai dengan fitrahnya. Mereka juga harus di berlakukan sesuai dengan jenis kelaminnya. Ibnu Abbas ra. Berkata:Rasulullah saw. melaknat laki-laki yang berlagak wanita dan wanita yang berlagak meniru laki-laki. (HR.Bukhari)

3. Memisahkan tempat tidur mereka
Pemisahan tempat tidur merupakan upaya untuk menanamkan kepada anak tentang eksistensi dirinya maka dengan pemisahan tempat tidur akan menumbuhkan kesadaran tentang eksistensi perbedaan jenis kelamin.

4. Mengenalkan waktu berkunjung  
Dengan ini maka anak akan menjadi anak yang memiliki rasa sopan santun dan etika yang luhur.

5. Mendidik dan menjaga kebersihan alat kelamin dan mengajari anak tentang najis.

6. Mengenalkan mahramnya. 
Tidak semua perempuan bisa dinikahi oleh seorang laki-laki. Siapa saja yang haram ia nikahi dan yang dihalalkan itu udah di atur oleh syariat Islam. Dan dengan itu di upayakan anak dapat menjaga pergaulan  sehari-hari dengan wanita selai yg bukan mahramya. Inilah hal yang penting untuk pendidikan seks anak.

7. Mendidik anak agar selalu menjaga pandangan mata dari hal-hal yang bisa merusak 

8. Mendidik anak agar tidak melakukan iktilat( campur baur antara laki-laki dan perempuan)

9. Mendidik anak agar tidak melakukan khalwat ( berdua-duan antara laki-laki dan perempuan di suatu tempat)

10. Mendidik anak tentang etika berhias agar tidak berlebih-lebihan.

11. Ihtilam dan haid. Dengan ini mereka harus diajarkan untuk kewajiban mandi. Yang paling penting harus ditekankan bahwa kini mereka sudah menjadi muslim dan muslimah dewasa yang wajib terikt dengan semua ketentuan syariat. Artinya, mereka harus bertanggung jawab atas hidupnya sebagai hanba Allah yang taat.

Inilah yang harus diberikan kepada anak yang bisa dilakukan sebagai pembiasaan sehari-hari tanpa harus memberi tontonan yang jusru menjerumuskan kepada pergaulan bebas. Ini hanya bisa dilakukan oleh negara Islam yaitu Daulah Khilafah yang pernah Berjaya selama 13 abad lamanya. Islam pada saat itu menjadi mecusuar bagi negara lain.
 
Top