Oleh : Al Azizy Revolusi

Tak bisa dipungkiri, sebelum Ramadhan lalu, ukhuwah umat Islam seolah terkoyak, terutama sebelum dan setelah Pilpres. Rusaknya ukhuwah ini tentu karena dipicu oleh persaingan dua pasangan calon (paslon) dalam ajang Pilkada yang banyak menguras energi umat tersebut. Meski capres yang satu didukung ulama dan yang lain anti Islam, pada faktanya keduanya sama-sama memiliki pendukung dari kalangan umat Islam. Tak pelak, saling mengkritik, saling merendahkan, saling menghina bahkan saling menghujat antar para pendukung paslon—yang sebagian besarnya sama-sama Muslim—tak terelakkan, khususnya di media sosial. Sayangnya, kondisi ini masih terasa hingga saat ini. 

Di tengah persaingan dan perpecahan antarkubu para pendukung paslon, dimunculkanlah kembali istilah “radikal” versus “moderat”. Paslon tertentu—yang kebetulan penantang—dituduh didukung oleh kelompok radikal. Sebaliknya, paslon lain—yang kebetulan pertahaha—diklaim didukung oleh kelompok moderat. 

Jelas, semua ini hanyalah upaya adu-domba pihak luar untuk memecah-belah persatuan umat Islam.

Rekatkan Kembali Ukhuwah

Umat Islam jelas haram untuk saling bermusuhan karena permusuhan itu bisa menjadi penghalang kita untuk mendapatkan ampunan Allah SWT. Padahal bukankah selama ini kita sangat mengharapkan ampunan-Nya, khususnya pada bulan yang penuh berkah ini? Dalam hal ini Rasulullah saw. bersabda:

Semua hamba yang tidak menyekutukan Allah dengan apapun akan diampuni dosa-dosanya, kecuali seseorang yang antara dia dan saudaranya terjadi permusuhan. Lalu dikatakan, “Tundalah pengampunan terhadap kedua orang ini sampai keduanya berdamai!” (HR Malik dan Abu Dawud).

Karena itulah, pada akhir bulan Ramadhan hingga bulan Syawal ada tradisi di tengah-tengah sebagian kaum Muslim untuk saling meminta maaf. Ini adalah sebuah tradisi yang baik.

Mewujudkan Ukhuwah Hakiki

Allah SWT berfirman:
Sungguh kaum Mukmin itu bersaudara. Karena itu damaikanlah di antara saudara-saudara kalian (TQS al-Hujurat [49]: 10). 

Terkait ayat di atas, Imam Ali ash-Shabuni dalam Shafwah at-Taf√Ęsir antara lain menyatakan, “Persaudaraan karena faktor iman jauh lebih kuat daripada persaudaraan karena faktor nasab.”

Persaudaraan Muslim yang hakiki digambarkan oleh Rasulullah saw.:
Perumpamaan kaum Mukmin itu dalam hal kasih sayang, sikap welas asih dan lemah-lebut mereka adalah seperti satu tubuh; jika satu anggota tubuh sakit, anggota tubuh lainnya akan merasakan panas dan demam (HR Abu Dawud). 

Karena bersaudara, sesama Muslim haram saling mencela, menyakiti, apalagi saling membunuh. Baginda Rasulullah saw. bersabda:
Mencela seorang Muslim adalah kefasikan, sementara membunuhnya adalah kekufuran (HR al-Bukhari dan Muslim).

Haram pula di antara sesama Mukmin saling menzalimi dan saling tidak peduli. Sebaliknya, mereka wajib untuk saling membantu dan tolong-menolong dengan saling menghilangkan kesulitan, bahkan sekadar menutup aib saudaranya. Rasulullah saw. pernah bersabda, “Muslim itu saudara bagi Muslim yang lain. Ia tidak saling menzalimi dan saling membiarkan. Siapa saja yang menghilangkan suatu kesulitan dari seorang Muslim, maka Allah SWT akan menghilangkan kesulitan bagi dirinya di antara berbagai kesulitan pada Hari Kiamat kelak. Siapa saja yang menutupi aib seorang Muslim, Allah pasti akan menutupi aibnya pada Hari Kiamat nanti.” (Muttafaq a’laih).

Khilafah Mewujudkan Ukhuwah Hakiki

Persaudaraan Islam (ukhuwah islamiyah)—yang diikat dengan akidah yang sama, yakni akidah Islam—tentu bersifat global, tidak lokal; dalam arti lintas daerah, negara bahkan benua. Persaudaraan Islam juga bercorak universal yakni lintas etnik, suku/bangsa, bahasa, dll. Pada bulan Ramadhan ini, di tengah-tengah sebagian besar umat Islam menikmati makan sahur atau lezatnya makanan yang beraneka saat berbuka, sangat boleh jadi di sejumlah negeri lain—seperti di Palestina, Suriah, Myanmar, Xinjiang (Cina), dll—kaum Muslim dalam keadaan tetap menderita.

Sebagai wujud kepedulian kita kepada mereka sebagai saudara, tentu tak cukup kita sebatas mendoakan mereka karena faktanya mereka telah menderita cukup lama—tahunan (seperti Suriah dan Myanmar dll) bahkan puluhan tahun (seperti Xinjiang dan Palestina)—berada di bawah tekanan para rejim yang amat kejam. Kepedulian kita kepada mereka harus juga diwujudkan dengan upaya keras kita mewujudkan institusi Khilafah. Mengapa Khilafah? Pertama: Karena Khilafah adalah sistem pemerintahan yang bersifat global, yang akan menghilangkan sekat-sekat nasionalisme dan negara-bangsa yang selama ini menjadi faktor penghalang untuk mewujudkan ukhuwah yang hakiki, yang juga bersifat global. Kedua: karena Khilafahlah pengayom dan pelindung umat yang hakiki, sebagaimana sabda Rasulullah saw.:
Imam (Khalifah) adalah perisai; umat berperang di belakangnya dan dilindungi olehnya (HR Ahmad).

Karena itu membiarkan dunia tanpa Khilafah sama saja dengan: Pertama, membiarkan berbagai penderitaan umat akibat kezaliman para penguasa lalim yang didukung Barat tanpa satu pun penolong dan pelindung yang sanggup menolong dan melindungi mereka. Kedua, membiarkan tidak terwujudnya ukhuwah islamiyyah yang hakiki, yang bersifat global. 

Semoga bulan Ramadhan tahun ini adalah Ramadhan terakhir umat dan dunia tanpa Khilafah. Amin. []
 
Top