Penulis : Sri Murwati

Penderitaan yang tiada akhir bagi muslim di Ghaza.  Belum lama ini dua menteri sayap kanan Israel mendesak agar pengeboman di jalur Ghaza ditingkatkan setelah serangan udara balasan terhadap roket Hamas.  Adalah Menteri Pendidikan Naftali Bennet dan Menteri Kehakiman Ayelet Shaked yang telah menyerukan pengeboman tersebut.  Heyemin Hehadash juga menyerukan militer Israel untuk meningkatkan serangan terhadap kantong-kantong Ghaza yang dikepung,  dikutip dari Middle East Monitor,  26 Maret 2019. Dilaporkan tujuh orang Israel terluka setelah sebuah roket dari Ghaza menghantam utara Tel Aviv.

Di tempat lain,  kasus pembantaian sadis terjadi menimpa  salah satu etnis.  Kali ini etnis Fulani menjadi korban pembantaian sekelompok orang yang diduga dari kelompok Dogon di Mali,  Republik Mali,  Afrika Barat. Serangan oleh sekelompok bersenjata itu terjadi pada Sabtu, 23 Maret 2019. Beragam motif penyerangan diantaranya mulai dari rebutan lahan, hewan ternak, air hingga menuduh etnis Fulani menyembunyikan para ekstremis Islam di desanya,  dimana tuduhan tersebut dibantah keras oleh Fulani. Hingga saat ininkurang lebih 160 orang korban tewas akibat serangan tersebut.  Diantaranya ada warga sipil,  anak-anak dan juga ibu hamil.  Mereka kebanyakan dari kalangan petani dan penggembala. Mereka tidak hanya dibunuh bahkan ada yang dibakar hidup-hidup. 

Realitas di atas semakin menambah daftar panjang penderitaan kaum muslim di belahan dunia. Mereka menangis,  menjerit ketakutan meminta pertolongan. Namun dimanakah pertolongan itu akan datang?. Padahal sebagai sesama muslim,  kita wajib membantu mereka,  melindungi dan menyelamatkan mereka.  Sayangnya saat ini tak seorangpun pemimpin negeri muslim yang mau dan berani mengirim pasukan untuk menolong mereka,  karena tersekat oleh Nasionalisme negara bangsa. Yang mana rasa Nasionalisme hanya akan muncul ketika ada ancaman di dalam negeri mereka,  sedangkan jika terjadi ancaman di negeri lain mereka anggap itu bukan urusannya walaupun menimpa sesama muslim.  

Makanya ikatan ini sangat lemah tidak dapat mempersatukan umat manusia.  Hanya demi secuil bantuan dan legalitas kekuasaan mereka rela menggadaikan harga diri mereka.  Kehinaan mereka tampakan manakala mereka berdiam diri melihat saudara-saudara mereka dibantai,  padahal mereka mempunyai kekuatan. Semua itu adalah akibat pemikiran yang masih sekuler (memisahkan agama dari kehidupan), memisahkan agama dari politik. Sehingga para penguasa muslim menganggap itu semua meeupakan urusan politik dalam negeri mereka.  Yang pada akhirnya mereka tidak bergerak dan peduli untuk menolongnya. 

Dari situlah kita dapat belajar bahwa,  kepemimpinan sekuler demokrasi telah mencampakkan persaudaraan karena iman.  Padahal kaum muslim itu bersaudara. Bahwa paham Nasionalisme serta konsep negara bangsa telah melemahkan dan memutilasi tubuh umat ini hingga kehilangan rasa persaudaraan hakiki dibawah akidah Islam. Paham negara bangsa telah menjadi penghalang terbesar untuk melaksanakan kewajiban mewujudkan ukhuwah Islam yang sesungguhnya. Karena sekat-sekat Nasionalisme telah membatasi arah politik mereka. 

Oleh karena itu kita sebagai umat muslim harus membuang jauh-jauh paham Nasionalisme Sekulerisme beserta turunannya yang membuat umat muslim terkotak-kotak.  Dan sebaliknya kita harus mendakwahkan kepada umat dan memperjuangkan persatuan umat di seluruh dunia melalui sebuah institusi yang akan menjaga umat Islam. Institusi itu adalah Khilafah Islamiyah. Nabi SAW bersabda: "Sesungguhnya imam (Kholifah) itu laksana perisai. Kaum muslim akan berperang dan berlindung di belakangnya" (HR Bukhari Muslim). 

Khilafah akan menghilangkan sekat-Nasionalisme dan mampu mengakhiri seluruh penderitaan kaum muslim,  menjamin keselamatan,  menjaga kehormatan dan menghimpun kekuatan umat hingga ditakuti musuh-musuhnya. 
Wallahu a'lam bi aah-shawab

0 komentar:

 
Top