Penulis : Hany Handayani Primantara, S.P. 
(Member Revowriter) 

Adakah yang mengenal peristiwa 03 Maret 1924? Peristiwa lebih kurang sembilan puluh lima tahun yang lalu, hampir satu abad berlangsung. Tak menutup kemungkinan dengan lamanya waktu yang telah lewat, maka ada sebagian dari kita yang tak tau apa gerangan yang terjadi pada tanggal tersebut. 

Wajar, hal yang biasa bahkan. Karena sejatinya sejarah saat ini pun banyak yang dipelintirkan, sesuai dengan beragam kepentingan. Berhati-hatilah dalam mencari sumber. Jangan sampai termakan isu yang pada akhirnya buat diri ini lesu memperjuangkan kebenaran.

03 Maret 1924 adalah tanggal dimana Khilafah diruntuhkan. Bertepatan pada lahirnya sebuah negara baru, Republik Turki. Dalam dekapan sang laknatullah Mustafa Kemal. Dikenal sebagai bapak pembaharu Islam, nyatanya justru seorang eksekutor ulung. 

Allah timpakan azabnya di dunia saat meninggalnya. Agar manusia lain tahu dan mengambil pelajaran atas bagaimana sikap buruknya terhadap Islam saat ia hidup di dunia. Begitu dahsyat hingga saat ini bumi pun tak rela jadi tempat terakhirnya. Lantaran satu sebab, ialah dalang utama dari runtuhnya Khilafah.

Siapa tak kenal istilah Khilafah? Khilafah maupun Imamah adalah bagian dari ajaran Islam. Saat ini opini Khilafah dan NKRI harga mati seakan tak pernah sepi jadi bahan benturan oleh pihak-pihak tak bertanggung jawab. Mereka sengaja menghembuskan nuansa permusuhan agar para pejuang Khilafah dan pembela NKRI bisa saling sikut satu sama lain.

Padahal sejatinya mereka sesama muslim. Mereka pun sama-sama ingin melindungi Indonesia ini dari keterpurukan. Namun ada aroma adu domba yang sengaja dimunculkan. Agar mereka sama-sama sibuk dengan opini yang memperkuat wadah gerakan atau golongan ketimbang esensi tujuan sebuah gerakan itu sendiri.

Dimata para pembela NKRI, berbagai golongan yang menyerukan opini khilafah itu bagaikan musuh yang hendak merusak rumah mereka. Rumah yang selama ini menaungi berbagai suku, budaya serta beragamnya agama. Rumah yang dapat menyatukan masyarakat yang bersifat heterogen. Rumah yang pada saat ini dijadikan contoh bagi Barat sebagai rumah yang berhasil. 

Berhasil menjadi contoh Islam moderat. Diantara keberhasilannya dapat menyatukan berbagai perbedaan dalam sebuah rumah yang disebut Negara Kesatuan Republik Indonesia. Serta berhasil mensinergikan antara ide-ide Barat, yang selama ini diadopsi dengan Islam sebagai agama yang dianut oleh sebagian besar rakyat Indonesia. 

Namun bukan hal yang salah pula jika ada sebagian masyarakat Indonesia yang menjadi bagian dari para pejuang Khilafah. Mereka bukan bermaksud memecah belah NKRI, justru mereka ingin menyatukan. Mereka pun bukan bertujuan membuat negara dalam sebuah negara. Melainkan ingin menyelamatkan negara yang sudah terbentuk ini dari keterpurukan.

Bukankah sebuah kewajiban bagi kaum muslim untuk bisa berislam secara Kaffah. Diterapkannya aturan Allah dalam setiap lini kehidupan adalah manifestasi dari Islam Kaffah. 

Allah subhanahu wata'ala sendiri yang menjamin bahwa jika manusia di muka bumi ini senantiasa tunduk dan patuh terhadap aturan Allah subhanahu wata'ala. Maka Allah turunkan berkah dari langit dan bumi.

Maka percuma saja kalian yang berusaha meredam opini khilafah. Apa yang kalian lakukan justru lebih melebarkan opini khilafah. Membumikan Khilafah ke seantero negeri. Tak jarang justru memperbanyak bibit-bibit yang rela berjuang demi tegaknya Khilafah. Memusuhi Khilafah itu berarti memusuhi Islam. 

Mempropaganda negatif tentang Khilafah tanda bahwa kalian benci terhadap sistem Allah subhanahu wata'ala. Menjatuhkan Khilafah sama saja dengan menjatuhkan Islam. Padahal kalian merupakan bagian dari Islam, namun apa yang kalian lakukan justru bertolak belakang dengan Islam itu sendiri. Masih layaknya kalian menyebut diri kalian muslim jika begitu?

Tulisan ini hadir bukan dalam rangka untuk merayakan, namun lebih kepada pengingat diri. Sudah sejauh apakah langkah kita dalam mewujudkan Islam Kaffah. Islam dalam naungan Khilafah. Islam yang mampu menebar rahmah bukan malah dihukumi sebagai dalang penyebab masalah. Seberapa jauh kita membumikan istilah Khilafah? Maka sejauh itulah langkah kita menuju surga.
Wallahu a’lam Bishowab.
 
Top