Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

*Ibu Pencetak Generasi Peradaban*

Sunday, December 28, 2025 | Sunday, December 28, 2025 WIB Last Updated 2025-12-28T08:23:02Z


 



Oleh Ummi Nissa

Pegiat Literasi


Di balik setiap peradaban besar, selalu ada sosok ibu yang bekerja dalam sunyi, namun berdampak abadi. Islam menempatkan ibu pada kedudukan yang sangat mulia di sisi Allah. Bukan sekadar sebagai pendamping kehidupan di dalam rumah, tetapi sebagai pilar utama pembentuk masa depan umat. 


Sayangnya  realita hari ini menunjukkan terjadinya krisis generasi. Banyak anak tumbuh tanpa visi hidup, mudah terombang-ambing arus materialisme, takut kehilangan pengakuan atau validasi manusia, tetapi lalai dari takut kepada Allah Swt. 


Salah satu krisis generasi  terlihat dari meningkatnya gangguan kesehatan mental. Dari data yang dihimpun melalui lembaga kesehatan global menunjukkan adanya lonjakan signifikan dalam prevalensi gangguan kecemasan (anxiety) dan depresi mayor di kalangan generasi hari ini. Generasi Z yang lahir antara pertengahan 1990-an hingga awal 2010-an  menghadapi krisis kesehatan mental yang belum pernah terjadi sebelumnya. (rspp.co.id) 



 *Apa Penyebab Krisis Generasi Hari Ini*


Kondisi ini tidak lepas dari tata aturan kehidupan yang menjauhkan Ibu dari peran strategisnya sebagai pendidik utama generasi. Padahal ibu adalah madrasah pertama yang menanamkan kebenaran tauhid, isi akhirat, dan syariat.


Dalam sejarah Peradaban Islam, peran ibu ini tampak nyata. Ibunda Imam Syafi'i dalam keterbatasan ekonomi, namun dengan sisi keilmuan dan ketakwaan yang tinggi dia mampu mencetak seorang mujtahid besar. Ada juga Ibunda Imam Malik yang telah sukses menggiring  putranya sebagai ulama besar. Demikian pula ibunda Solahuddin Al-Ayubi yang telah menanamkan kecintaan pada jihad sejak kecil, hingga ia tumbuh menjadi pemimpin yang menggetarkan Eropa. 


Sungguh, mereka bukan hanya Ibu biologis, tetapi ibu ideologis yang sadar bahwa anak-anak mereka adalah calon pemimpin umat. Kesadaran politik yang lahir dari Islam dijadikan para ibu di era keemasan Islam mampu memberi nyawa pada peran keibuan. Mereka memiliki  cita-cita besar yakni memimpin dunia dengan Islam. Para ibu mendidik anak-anak agar takut hanya kepada Allah, berfikir visioner melampaui dunia dan siap memikul amanah besar. 


Sejarah ini menegaskan bahwa kebangkitan umat selalu berawal dari rahim para ibu. Mereka  memiliki kesadaran akan misi hidup dalam Islam, hingga berjuang mencetak generasi penakluk yang menjadikan surga sebagai tujuan tertinggi. 


 *Tantangan Ibu sebagai Pendidik Generasi* 


Pada era kapitalisme sekuler saat ini, umat Islam menghadapi serangan yang kompleks dari berbagai sisi, baik pemikiran, budaya, maupun ekonomi. Dari sisi serangan pemikiran dan budaya telah tersebar di tengah-tengah umat  paham yang bertentangan dengan prinsip dan nilai-nilai Islam seperti pemahaman kesetaraan gender, hak asasi manusia, dan moderasi beragama. Semua ini seolah positif, tetapi sejatinya membentuk pola pikir yang meniadakan peran dan tanggung jawab perempuan secara islami, sekaligus merusak pondasi spiritual masyarakat. Lingkungan yang terbentuk pun menjadi rapuh dimana nilai-nilai agama dan identitas kaum muslimin tersingkir secara perlahan. 


Selanjutnya, dunia digital menjadi medan baru serangan terhadap generasi muda. Media sosial, algoritma yang menyesatkan, dan konten hiburan yang bebas moral mempengaruhi pola pikir, perilaku, dan gaya hidup anak-anak muda. Paparan terus-menerus terhadap budaya asing di tengah pendidikan sekuler yang mereka tempuh di dunia nyata, menjadikan generasi penerus sulit menjaga nilai-nilai Islam dalam kehidupan sehari-hari. 


Selainitu, sistem ekonomi kapitalisme memperberat beban perempuan. Tekanan untuk berkontribusi secara finansial di luar rumah bersamaan dengan tuntutan domestik membuat perempuan menghadapi peran ganda yang melelahkan. Sistem ini menempatkan perempuan sebagai pekerja sekaligus pengurus rumah tangga tanpa memberikan ruang untuk pengembangan ruhiyah dan peran sosial di masyarakat. 


Oleh karena itu serangan pemikiran, budaya digital, dan ekonomi membentuk lingkungan yang menantang kaum muslimin terutama perempuan. Untuk itu kesadaran pendidikan dan penguatan nilai-nilai Islam menjadi kunci agar umat mampu menjaga identitas, peran dan kontribusinya dalam membangun masyarakat yang Islami. Peran ibu dalam kehidupan anak-anaknya saat ini tidak bisa dianggap remeh. Ibu memiliki tanggung jawab strategis dalam membentuk generasi berkualitas yang memiliki pemahaman ideologi. 


 *Frofil Ibu Ideologis Pelopor Kebangkitan* 


Dari pemaparan di atas sudah seharusnya ibu memiliki profil ideologis. Diantaranya pertama, ibu harus menetapkan misi pendidikan bagi anak-anaknya sebagai Abdullah (hamba Allah). Artinya setiap anak dididik untuk menjadi hamba Allah yang taat. Menjadi pemimpin yang mampu memakmurkan bumi dengan nilai-nilai Islam. Menjadi anggota masyarakat yang memberi manfaat bagi umat. Hal ini menjadi pondasi bagi seluruh proses pendidikan dan pembentukan karakter anak. Agar mereka tumbuh dengan kesadaran tinggi akan tanggung jawabnya di dunia dan akhirat. 


Kedua, ibu harus menjadi teladan bagi anak-anaknya. Segala ucapan sikap dan perilaku seorang ibu akan terekam kuat dalam kehidupan anak. Keteladanan ini meliputi kesabaran, kejujuran, ketaatan kepada Allah serta konsisten di dalam menjalankan ajaran Islam. Karena tanggung jawab seorang ibu dalam rumah tangga terutama dalam mendidik anak-anak memiliki konsepsi besar di hadapan Allah Swt. 


Ketiga, peran Ibu tidak cukup hanya dengan mendidik anak secara individual, tetapi juga harus diikuti dengan upaya mengubah sistem. Dari sistem kapitalisme sekuler yang lebih mengutamakan materi semata,  menindas kaum lemah terutama perempuan dan anak-anak, perlu diganti dengan sistem Islam yang menyejahterakan, adil, dan membangun manusia seutuhnya. 


Ibu yang sadar akan hal ini dapat menanamkan pemahaman Islam kafah sejak dini, sehingga anak-anak tumbuh menjadi generasi visioner, tangguh, dan penuh kesadaran ideologi. Dengan visi pendidikan yang jelas, keteladanan nyata, dan kesadaran sistem ibu akan mampu membentuk generasi yang tidak hanya sukses secara dunia tetapi juga diridhoi Allah dan bermanfaat bagi umat. Karena perannya dalam membangun peradaban membentuk generasi bertakwa.


Wallahualam bissawab.

No comments:

Post a Comment

×
Berita Terbaru Update