Oleh : Iin Parlina
Ibu Rumah Tangga
Seorang ibu hamil asal kampung Hobong, Distrik Sentani, Kabupaten Jayapura, Papua, bernama Irene Sokoy dilaporkan meninggal dunia dengan bayi dalam kandungan akibat ditolak sejumlah Rumah Sakit saat akan melahirkan pada selasa(18/11/2025). Dari keterangan keluarga, Irene dibawa oleh keluarga sekitar pukul 03.00 pagi dari kampung kensio dengan speed boat menuju RS Yowari untuk melahirkan. Namun, saat tiba di RS Yowari tidak dapat dilayani dengan alasan berat bayi dalam kandungan mencapai 4 kilogram sehingga harus menjalani operasi. Irene pun dirujuk ke RSUD Abepura. Namun, saat keluarga tiba di RS Abepura, korban tak dilayani dan dirujuk ke Rumah Sakit Dua Harapan. Tapi, lagi-lagi irene tak dilayani dan kembali dirujuk ke RS Bhayangkara. Saat sampai tiba di RS Bhayangkara, pihak Rumah Sakit meminta keluarga menyediakan uang sebesar RP 8 juta untuk biaya operasi persalinan. Namun, karena tak memiliki dana sebesar itu keluarga pun membawa irene ke RSUD Jayapura. Kematian seorang ibu&bayi dalam kandungannya setelah ditolak empat Rumah Sakit di Jayapura memicu reaksi Gubernur Papua, Mathius Derek Fakhiri, untuk mengultimatum semua fasilitas kesehatan di provinsi tersebut. Mathius bilang, semua fasilitas kesehatan di provinsi papua tidak boleh menolak dalam kondisi apapun, termasuk pasien yang tidak memiliki kemampuan finansial. Bagi fasilitas kesehatan yang menolak pasien, sanksi tegas akan diberikan.Mathius mengaku kasus kematian irene sokoy adalah cerminan dari kondisi pelayanan kesehatan di papua yang bobrok. Mathius juga membuat janji bahwa dirinya akan membenahi pelayanan kesehatan di Propinsi Papua.
Apapun bidangnya, sudut pandang bisnis menjadi watak kapitalisme, tidak terkecuali bidang kesehatan. Sejak kemunculannya, kesemrawutan BPJS Kesehatan tidak pernah hilang. Mulai dari ruwetnya administrasi, ribetnya prosedur pelayanan, hingga terlantarnya pasien lantaran di tolak Rumah Sakit. Apalagi yang tidak mempunyai BPJS seperti ibu irene sokoy, yang mempunyai BPJS juga sering ditolak RS alasanya ruangan penuh dsb. Apalagi yang tidak mempunyai BPJS seperti ibu irene ini orang yang tidak mampu karena dalam sistem kapitalisme bisa dibedakan yang mempunyai uang banyak dan yang tidak mempunyai uang, seperti berobat umum fasilitasnya dipermudah beda sama yang BPJS mandiri padahal BPJS mandiri bayar pakai uang sendiri.
Dalam Sistem Islam, kesehatan adalah kebutuhan asesi masyarakat. Tidak boleh dikapitalisasi atau dijadikan ladang bisnis meraup keuntungan sebanyak-banyaknya. Negara adalah penyelenggara dan penanggung jawab dalam menyediakan sistem, layanan, dan fasilitas kesehatan untuk rakyat. Tidak ada pungutan dalam memenuhi kesehatan ini. Bahkan, negara harus memberikannya secara gratis kepada seluruh lapisan masyarakat.
Hal ini sudah pernah diterapkan pada masa khilafah.
Bukhari dan Muslim meriwayatkan dari Anas ra. Yang menuturkan bahwa rombongan orang dari kabilah urainah masuk islam. Mereka lalu jatuh sakit di madinah. Rasulullah saw. Selaku kepala negara lalu meminta mereka untuk tinggal dipenggembalaan unta zakat yang dikelola baitulmal didekat quba. Mereka diperbolehkan minum ais susunya secara gratis sampai sembuh. Khalifah Umar selaku kepala negara islam juga telah menjamin kesehatan rakyatnya secara gratis, dengan cara mengirimkan dokter kepada rakyatnya yang sakit tanpa meminta sedikit pun imbalan dari rakyatnya. Pada era itu, sudah ada kebijakan khilafah dengan RS keliling. RS seperti ini masuk dari desa ke desa. Khilafah saat itu benar-benar memberikan perhatian dibidang kesehatan dengan layanan nomor satu, tanpa membedakan lingkungan, strata sosial, ataupun tingkat ekonomi.
Penerapan Sistem Kesehatan Islam yang ditopang sistem pemerintahan yang amanah, penguasa yang meriayah, dan tenaga kesehatan yang profesional, akan mewujudkan layanan kesehatan yang berkualitas. Tidak akan ada pandangan bisnis dan profit dalam pelayanan kesehatan sebagaimana berlaku dalam kapitalisme.
Hanya Sistem Islam kaffah dalam naungan khilafah yang mampu menjawab kesemrawutan kesehatan saat ini. Penerapannya sudah terbukti selama 13 abad.
wallahu'alam bisshawab.

No comments:
Post a Comment