Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Gen Z, Aktivisme Digital, dan Krisis Arah Perubahan

Monday, December 22, 2025 | Monday, December 22, 2025 WIB Last Updated 2025-12-22T07:25:03Z





Oleh Aizarafafa 

Penggiat Literasi


Viral tagar #KaburAjaDulu bukan sekadar tren media sosial, melainkan sinyal keras dari kegelisahan Gen Z terhadap sistem yang mereka anggap gagal menjamin masa depan mereka. Sulitnya lapangan kerja, mahal­nya pendidikan, dan rapuhnya jaminan hidup mendorong lahirnya wacana pelarian individual sebagai solusi.

Alih-alih menuntut perubahan sistem, masalah struktural justru direspons dengan keputusan personal: pergi, menghindar, dan menyelamatkan diri sendiri. Fenomena ini mencerminkan cara berpikir pragmatis yang tumbuh subur di ruang digital sekuler, cepat instan, dan minim orientasi perubahan mendasar.

Pola serupa tampak dalam aktivisme media sosial.

Boikot, petisi online, dan cancel culture mudah viral, mengumpulkan simpati dalam hitungan jam, tapi cepat pula menghilang tanpa dampak nyata. Aktivisme direduksi menjadi tekanan moral dan opini publik, bukan perjuangan ideologis yang menuntut perubahan aturan dan sistem. Ruang digital membentuk generasi yang lantang bersuara, tetapi rapuh dalam konsistensi dan arah perjuangan.

Fakta lain, maraknya konten tren self-diagnosis dan kesehatan mental  memperlihatkan krisis yang lebih dalam: krisis makna diri. Banyak Gen Z mulai memahami dirinya melalui label psikologis populer yang beredar di media sosial. 

Tanpa kerangka iman dan tujuan hidup yang jelas, problem eksistensial direduksi menjadi sekadar persoalan emosi dan perasaan. Manusia dipahami sebatas makhluk psikis, terlepas dari dimensi ruhiyah dan misi kehidupannya.

Kelelahan terhadap tekanan algoritma, validasi sosial, dan standar hidup semu melahirkan tren digital detox dan zero post.

Sebagian Gen Z memilih menghapus jejak digital dan menjauh dari media sosial. Namun langkah ini cenderung reaktif, bukan solutif. Menarik diri dari ruang digital tidak serta-merta menyelesaikan persoalan, karena akar masalahnya bukan sekadar platform, melainkan ideologi yang menguasai ruang tersebut.

Seluruh fenomena ini menegaskan satu hal: Gen Z bukan generasi apatis, tetapi generasi yang sedang mencari arah. Energi kritis mereka besar, tapi terseret oleh paradigma sekuler-kapitalis yang melahirkan aktivisme instan, personal, dan kehilangan visi perubahan sistemis. Tanpa perubahan paradigma berpikir, kegelisahan hanya akan terus berulang dalam bentuk tren viral sesaat, lalu hilang tanpa jejak perubahan hakiki.

Islam memandang bahwa persoalan yang dihadapi Gen Z tersebut bukan sekadar masalah teknologi, mental health, atau budaya media sosial, melainkan masalah paradigma berpikir. Selama ruang digital dikendalikan oleh nilai sekuler-kapitalis, yang memisahkan agama dari kehidupan dan menjadikan materi, popularitas, serta validasi sebagai standar nilai, maka keresahan generasi muda akan terus berulang tanpa penyelesaian mendasar.

Karena itu, langkah utama dalam konstruksi Islam adalah mengubah paradigma berpikir sekuler menjadi paradigma berpikir Islam. 

Islam memposisikan manusia sebagai hamba Allah sekaligus khalifah di bumi, yang hidup dengan tujuan jelas dan terikat pada hukum syariat. Dengan paradigma ini, kegelisahan hidup tidak direduksi menjadi sekadar persoalan emosional, dan aktivisme tidak berhenti pada pelampiasan perasaan atau tren viral.

Dalam kerangka Islam, aktivisme bukan sekadar ekspresi protes, tetapi bentuk amar makruf nahi mungkar yang terarah. Perjuangan tidak cukup bersifat simbolik dan pragmatis, melainkan harus menyasar perubahan sistem yang melahirkan ketidakadilan. Aktivisme Gen Z perlu diarahkan untuk memahami akar persoalan, membangun kesadaran ideologis, dan menawarkan solusi yang bersifat menyeluruh.

Konstruksi Islam juga menegaskan pentingnya sinergi keluarga, masyarakat, dan negara dalam menjaga dan membina generasi. Keluarga berperan menanamkan akidah dan kepribadian Islam, masyarakat menjadi ruang penguatan nilai dan kontrol sosial, sementara negara bertanggung jawab menciptakan sistem pendidikan, ekonomi, dan media yang selaras dengan Islam. Tanpa peran negara, upaya penyelamatan generasi akan selalu bersifat defensi dan parsial belaka.

Dengan konstruksi Islam inilah, potensi besar Gen Z dapat diarahkan menjadi kekuatan perubahan yang sahih dan berkelanjutan. Bukan aktivisme yang sekadar viral, tetapi perjuangan yang berakar pada iman, berpijak pada ideologi, dan berorientasi pada perbaikan sistem kehidupan secara menyeluruh.

No comments:

Post a Comment

×
Berita Terbaru Update