Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Fenomena Takut Nikah, Hilangkan dengan Islam Kafah

Saturday, December 13, 2025 | Saturday, December 13, 2025 WIB Last Updated 2025-12-13T00:25:22Z




Narti Hs

Pegiat Literasi


Beberapa pekan lalu, media sosial Threads diramaikan dengan pembahasan terkait anak-anak hari ini yang lebih merasa takut miskin daripada takut tidak menikah. Dan unggahan tersebut viral hingga disukai lebih dari 12.500 orang, dan ditayangkan ulang oleh lebih dari 207.000 pengguna lainnya. Artinya, pendapat tersebut banyak disukai dan disetujui. (Kompas.com, 22 November 2025)


Masih dari laman yang sama, Indonesia yang sudah berusia 80 tahun bahkan telah bergonta-ganti pemimpin, nyatanya jumlah penduduk miskin tidak berganti ke level sejahtera melainkan tambah meningkat. Menurut Bank Dunia, per 2024 masih 199,4 juta jiwa atau 68,2 persen dari total populasi.


Meskipun Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan pendapatan per kapita Indonesia tahun 2024 naik menjadi Rp68,62 juta per tahun (Rp6,55 juta per bulan), namun biaya kebutuhan hidup juga tinggi. 

Misalnya di Jakarta, BPS menyebutkan bahwa biaya hidup di kota ini termasuk paling tinggi. Biaya hidup per bulan mencapai sekitar Rp14,88 juta untuk rumah tangga yang terdiri dari 2 hingga 6 orang. Sementara penduduk lajang di kota ini pada 2025 berkisar Rp4,5 sampai Rp6 juta (sewa tempat tinggal, transportasi, makan, utilitas, dan hiburan).


Tidak bisa dimungkiri bahwa situasi dunia memang selalu dinamis dalam membentuk pola pikir dan tindakan setiap generasi manusia. Wajar saja jika muncul opini takut miskin karena melihat fakta pada sebagian besar masyarakat. 


Belum lagi, warga di Indonesia saat ini didominasi oleh Gen Z yakni 74,93 juta jiwa berdasarkan sensus penduduk 2020. Sedangkan Gen Milenial sekitar 69,38 juta jiwa; yang gaya hidup mereka sering dianggap mencerminkan hedonisme, konsumtif, dan impulsif.


Mereka menilai bahwa kemapanan dan kestabilan ekonomi lebih penting daripada segera segera menikah. Bagi kaum muda, kekhawatiran untuk menikah dipengaruhi banyak faktor. Pemicunya biasanya dari fakta pernikahan yang berujung perceraian. 


Termasuk di dalamnya pertimbangan ekonomi berupa harga berbagai kebutuhan pokok,  biaya hunian, dan ketatnya persaingan kerja, menjadi alasan utama bahwa biaya memasuki jenjang pernikahan cukup besar. Sehingga muncul narasi 'marriage is scary' (pernikahan itu menakutkan). Ketakutan ini memunculkan juga perilaku “childfree”. Sebuah sikap yang menggambarkan bahwa punya anak akan menambah beban rumah tangga dan besarnya tanggung jawab orang tua terhadap masa depan anak.  


Narasi takut miskin hingga menunda untuk menikah sebetulnya bermuara dari sistem yang diterapkan hari ini, yakni kapitalisme sekuler. Gambaran menikah sebagai aktivitas sunnah Nabi saw tidak lagi menjadi motivasi ibadah. Justru hidup mewah dan sejahteralah yang lebih menarik bagi kawula muda di era saat ini. Maka alih-alih mengumpulkan bekal dan ilmu untuk menikah mereka malah memilih meniti karir dan status sosial.


Selain karena sistem kapitalisme sekuler yang memicu sikap takut menikah, peran negara sebagai pelayan masyarakat pun tidak ada. Tanggung jawab dalam bentuk jaminan kebutuhan pokok dan kolektif seperti kesehatan, pendidikan serta keamanan tidak pernah dirasakan rakyat. Pun dengan lapangan pekerjaan. Hampir semua lini dikuasai oleh segelintir kapital baik lokal ataupun asing, termasuk tenaga kerjanya. 

Padahal, sektor-sektor ril untuk merekrut tenaga kerja lokal cukup besar seperti sektor industri, pertanian dan pertambangan. 


Namun, karena semua sektor tersebut tidak dikelola oleh negara, kesempatan warga lokal mendapatkan pekerjaan makin sulit. Negara hanya berfungsi sebagai  regulator dan fasilitator kapital ketimbang masyarakat.

Inilah fakta dimana manusia benar-benar merasakan kesempitan hidup dan menggeser fitrah mereka untuk menikah bahkan untuk aktivitas ibadah lainnya. Dunia terus dikejar sedangkan urusan akhirat ditinggalkan.


Dengan demikian, tidak ada pilihan lain selain kembali pada syariat. Jika sistem kapitalisme hari ini menampakkan kerusakan dan membuat umat terhimpit beban hidup, Islam justru berbeda. Di samping menguatkan akidah umat, Islam memaksa negara untuk mewujudkan maksud-maksud syariat. Bukan hanya diterapkan tapi juga memastikan kemaslahatannya dirasakan umat.


Terkait menikah Allah Swt. telah berfirman dalam QS An-Nur ayat 32 yang artinya:

“Dan nikahkanlah orang-orang yang masih membujang di antara kamu, dan orang-orang yang layak (menikah) dari hamba-hamba sahayamu yang lelaki dan hamba-hamba sahayamu yang perempuan. Jika mereka miskin, Allah akan memberi kemampuan kepada mereka dengan karunia-Nya. Dan Allah Maha luas (pemberianNya) lagi Maha Mengetahui.” 


Dalam sistem Islam, menikah bukanlah persoalan yang mesti ditakutkan. Motivasi ibadah dan pahala dari dan setelah menikah justru lebih dikedepankan dibanding masalah ekonomi. Karena negara akan menjamin kebutuhan dasar rakyat dan membuka lapangan kerja yang luas melalui penerapan sistem ekonomi Islam. Termasuk pengelolaan milkiyah ammah (kepemilikan umum) oleh negara, menjadi poin penting kesejahteraan masyarakat adalah suatu keniscayaan. 


Selain urgensi dan tanggung jawab negara, sistem pendidikan pun berkontribusi membangun dan mengokohkan akidah serta taraf berpikir umat. Sehingga menghasilkan  generasi berkarakter dan bersakhsiyah Islam. Tidak terjebak pada kehidupan hedonisme dan materialisme. Generasi muda justru mampu menjadi penyelamat umat. Diperkuat dengan institusi keluarga, dengan mendorong pernikahan sebagai ibadah dan penjagaan keturunan.


Demikianlah sistem Islam apabila diterapkan dan menjadi naungan kehidupan hari ini, maka terutama generasi muda tak akan terbersit pemikiran takut untuk menikah. Maka saatnya wujudkan sistem kepemimpinan Islam kafah, karena dengannya akan terwujud pula keberkahan hidup.


Wallahu a'lam bissawwab

No comments:

Post a Comment

×
Berita Terbaru Update