Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Perundungan Sangat Membahayakan

Wednesday, November 19, 2025 | Wednesday, November 19, 2025 WIB Last Updated 2025-11-19T12:14:50Z


Penulis Ratna Ummu Rayyan 


Kasus perundungan atau bullying di lingkungan pendidikan baik di bangku sekolah maupun perguruan tinggi masih terus terjadi hingga saat ini. Terbaru adalah kasus meninggalnya mahasiswa Universitas Udayana (Unud), bernama Timothy Anugerah Saputra. Kematian pemuda berusia 21 tahun itu tak lepas dari dugaan perundungan (bullying). (cnnindonesia.com, 25-10-25)


Perundungan demi perundungan masih menjadi bahaya laten dalam pergaulan terutama di dunia pendidikan. Dugaan perundungan terhadap Timothy adalah satu kasus kecil di antara banyak kasus bullying yang terjadi di Indonesia.


Pada 2024 lalu, publik dikejutkan kasus perundungan yang dialami mahasiswi kedokteran spesialis Aulia Risma di Ponegoro universitas (Undip) di Semarang. Perlindungan yang diduga tersistematis dalam program Pendidikan dokter spesialis atau ppds tersebut dinilai sangat menekan korban hingga diduga memilih mengakhiri hidupnya .


Salah satu penyebab utama munculnya perundungan di kalangan pemuda adalah karena masyarakat saat ini banyak terpengaruh oleh ide sekularisme, yaitu paham yang memisahkan agama dari kehidupan. Akibatnya banyak orang tidak lagi memahami agama secara menyeluruh, agama hanya dipandang sebatas ritual. Mereka merasa bebas melakukan apa saja tanpa mau pertimbangkan halal dan haram.


Ada yang membalas dendam kerana pernah dibully, ada pula yang melampiaskan masalah pribadi dengan merundung orang lain di dunia maya. Mereka mengira bisa berbuat sesuka hati tanpa ada yang mengetahui, padahal ide sekuler seperti inilah yang membuat manusia kehilangan rasa kemanusiaan dan rasa takut kepada allah.


Selain itu, sistem kapitalisme juga turut menyuburkan praktik bullying. Pola pikir kapitalistik menjadikan manusia berorientasi pada materi dan penampilan. Orang dianggap hebat bila kaya, cantik dan popular. Akibatnya banyak yang berusaha keras untuk terlihat 'eksis' baik di dunia nyata maupun dunia maya. Bahkan sebagian rela menyakiti orang lain demi mendapatkan pengakuan dan perhatian.


Inilah wujud penyakit manusia saat ini yang kehilangan arah karena mengejar eksistensi duniawi semata. Mirisnya pemikiran sekuler dan kapitalis ditanamkan dalam sistem pendidikan yang sedang berlangsung. Tak heran praktek bullying juga marak terjadi di dunia pendidikan meskipun mereka telah memiliki satgas dan semacamnya.


Ditambah lagi media massa kini pun yang memiliki peran besar dalam memperburuk keadaan . Tayangan , webtoon maupun media sosial seringkali sarat dengan kekerasan dan hinaan . korban semacam itu dapat menyempitkan empati dan menormalisasi kekerasan. Ditambah lagi negara belum memiliki aturan yang tegas untuk menghukum pelaku bullying. 


Berbeda dengan islam sebagai sistem kehidupan yang mengarahkan manusia untuk hidup sesuai dengan tujuan penciptaannya, yakni beribadah kepada Allah, menjadi hamba yang bertakwa . Dengan pandangan hidup yang benar ini, manusia akan mengikat seluruh aktivitasnya pada aturan Allah baik dalam kehidupan pribadi, bermasyarakat maupun bernegara.


Selain itu, masyarakat islam juga memainkan peran penting dalam melakukan kontrol sosial melalui dakwah. Setiap individu memiliki tanggung jawab untuk saling menasehati dalam kebaikan dan mencegah kemungkaran. Dengan begitu perilaku menyimpang seperti bullying atau cyber bullying dapat dicegah sejak dini. Karena masyarakat berfungsi aktif menjaga agar seluruh anggotanya tetap berada dalam ketaatan kepada Allah.


Sebaliknya islam memberikan pandangan yang sangat jelas. Seorang muslim yang menyadari jati dirinya sebagai hamba Allah tidak akan berani melakukan bullying. Ia memahami bahwa setiap perbuatannya baik di dunia nyata maupun di dunia maya akan dimintai pertanggungjawaban di hadapan Allah.


Allah berfirman dalam Quran surah Fussilat ayat 22 yang artinya :" Dan kamu tidak dapat bersembunyi dari kesaksian pendengaranmu, penglihatanmu, dan kulitmu terhadapmu, bahkan kamu mengira Allah tidak mengetahui banyak tentang apa yang kamu lakukan". Kerana itu seorang muslim harus selalu merasa diawasi oleh Allah SWT di manapun dan kapanpun ia tidak akan berbuat sewenang-wenang apalagi berbuat zalim terhadap sesama.


Rasulullah SAW bersabda:" Seorang muslim adalah saudara bagi muslim lainnya dia tidak boleh menyakiti dan tidak boleh pula membiarkan yang disakiti". HR. Bukhari.


Namun kesadaran semacam ini sulit tumbuh dalam sistem kehidupan yang jauh dari nilai-nilai islam. Hanya dalam sistem islam yakni khilafah, pendidikan rakyat dibangun diatas akidah islam sehingga melahirkan pribadi-pribadi yang berkepribadian islami. Mereka berpikir dan bertindak berdasarkan pandangan hidup islam bukan hawa nafsu atau dorongan materi. Mereka berlomba menjadi pribadi taat dan bermanfaat bagi umat bukan sekadar ingin dikenal dan dipuji manusia.


 Dalam sistem islam, media juga memiliki fungsi yang mulia. Media digunakan untuk menumbuhkan ketakwaan, menyebarkan ilmu dan membentuk karakter umat yang kuat dan beradab. Tidak ada tempat bagi konten yang berusaha merusak moral dan menebar permusuhan.


Selain itu islam juga memiliki sistem sanksi yang tegas terhadap perlakuan maksiat termasuk yang melakukan bullying. Hukuman tersebut menimbulkan efek jelas sekaligus menjadi bentuk penebusan dosa bagi pelaku sehingga ia tidak akan dihukum lagi di akhirat.


Sungguh hanya sistem islam yang mampu menjaga manusia dari kezaliman dan kerusakan moral seperti bullying, sayangnya sistem mulia ini telah runtuh sejak tahun 1924 M. Namun Rasulullah telah memberi kabar gembira bahwa khilafah akan kembali tegak di tengah umat.

No comments:

Post a Comment

×
Berita Terbaru Update