Penulis Ratna Ummu Rayyan
Turki pada hari Jumat mengumumkan bahwa mereka telah mengeluarkan surat perintah penangkapan terhadap perdana menteri zionis Benyamin Netanyahu, serta sejumlah pejabat tinggi rezim zionis lainnya. Mereka dituduh secara sistematis melakukan genosida dan kejahatan terhadap kemanusiaan di Gaza.
Sayangnya, beberapa negara justru mengambil langkah yang berlawanan. Kazakhstan misalnya, memutuskan bergabung dalam Abraham Accords, perjanjian normalisasi hubungan diplomatik dengan rezim zionis yang kemudian dikecam keras oleh Hamas karena dianggap sebagai pembenaran atas agresi zionis terhadap rakyat Palestina.
Sejak tahun 2020, Amerika Serikat meluncurkan proses normalisasi hubungan zionis Arab dengan menandatangani serangkaian dokumen yang dikenal sebagai Abraham Accords. Uni Emirat Arab, Bahrain dan Maroko menjadi negara pertama yang bergabung dalam kesepakatan tersebut. Kini gedung putih bahkan menargetkan lebih banyak negara Arab untuk menormalisasi hubungan dengan rezim zionis pada masa jabatan kedua presiden Trump.
Klaim bahwa normalisasi hubungan dengan rezim zionisme melalui Abraham Accords dapat melegalkan penjajahan atas Palestina bukan tanpa dasar. Berbagai pihak di Palestina termasuk Hamas menilai normalisasi ini digunakan oleh sekutunya rezim zionis terutama Amerika Serikat sebagai alat diplomatik untuk mengurangi tekanan internasional terhadap pendudukan yang mereka lakukan.
Sementara itu, Turki memang secara terbuka mengkritik agresi rezim zionis terhadap Gaza dan Palestina. Namun Ada sejumlah fakta yang menunjukkan bahwa hubungan Turki dan zionis tidak sepenuhnya terputus. Dibalik retorika keras Angkara, Turki tetap mempertahankan kerangka kerja sama ekonomi, energi, bahkan militer dengan rezim zionis. Fakta -fakta ini memperlihatkan bahwa, meski bersuara lantang menentang zionis, kepentingan geopolitik dan ekonomi membuat Turki tak sepenuhnya memutus hubungan dengan entitas tersebut. Bahkan presiden Recep Tayyip Erdogan sempat menyatakan bahwa Turki dan rezim zionis bisa bekerja sama dalam pengiriman gas alam ke Eropa melalui Turki.
Selain itu, Turki juga merupakan satu-satunya negara muslim anggota NATO, serta telah menandatangani puluhan perjanjian kerjasama dengan entitas zionis. Apa yang terjadi di Palestina hari ini jelas belum menjadi akhir dari penjajahan. Meski demikian senjatan telah disepakati dan sejumlah negara mengakui Palestina sebagai negara merdeka, akan tetapi rakyat Palestina tetap hidup dalam keterpurukan akses terhadap bantuan, pangan air dan listrik masih dibatasi. Kelaparan terus melanda dan penderitaan tak kunjung berakhir.
Faktanya, negeri-negeri Islam saat ini lebih banyak menjadi penonton. Mereka hanya mengutuk dan mengecam tanpa mengambil langkah nyata untuk membebaskan Gaza atau menghentikan agresi zionis. Padahal seluruh negeri muslim seharusnya bertindak tegas bukan hanya berbicara dalam forum diplomasi.
Krisis Gaza tak akan pernah berakhir selama para penguasa dunia Islam terutama para pemimpin Arab dan Turki masih tunduk pada kepentingan barat dan terhubung oleh ide nasionalisme sempit.
Sesungguhnya negeri-negeri muslim inilah yang justru menjadi penjaga eksistensi negara zionis di jantung dunia islam. Selama mereka tetap seperti ini, identitas Yahudi itu akan terus berdiri dan penderitaan rakyat Palestina akan terus berlanjut.
Sesungguhnya solusi tuntas atas penjajahan Palestina hanya akan terwujud dengan tegaknya kembali khilafah Islam. Hanya dengan khilafah persatuan umat Islam dapat terwujud. Kekuatan militer dan politik dapat diarahkan untuk membebaskan seluruh tanah Palestina. Dan sistem yang menindas umat Islam dapat dihentikan dari akarnya.
Khilafah akan menerapkan sistem Islam dalam seluruh aspek kehidupan dan mencabut penjajahan hingga akar akarnya dari bumi Palestina. Untuk menghilangkan penjajahan yahudi ini tidak ada cara lain kecuali dengan perang jihad fi sabilillah.
Untuk itu kewajiban utama jihad ini ada pada pundak penguasaan negeri-negeri Islam dan para panglima perang yang memiliki tentara yang terlatih. Peralatan tempur, pesawat-pesawat tempur dan persenjataan yang lebih dari cukup.
Kewajiban kaum muslimin untuk jihad fisabilillah ketika diperangi musuh telah tercantum dalam firman Allah subhanahu wa ta'ala dalam Quran surah Al Baqarah ayat 191yang artinya: “Perangilah mereka di mana saja kalian menjumpai mereka dan usirlah mereka dari tempat mereka telah mengusir kalian.”
Pada masa Rasulullah kaum Yahudi di Madinah juga diusir dari Madinah setelah mereka melakukan pengkhianatan terhadap negara Islam dan kaum muslim. Kaum Yahudi Bani Qainuqa diperangi dan diusir oleh Rasulullah saw setelah mereka melecehkan kehormatan seorang muslimah dan membunuh seorang laki-laki pedagang muslim yang membelanya. Bani nadhir pun diusir setelah mereka berkhianat dan bersekongkol untuk membunuh Rasulullah saw ketika beliau datang meminta bantuan sesuai perjanjian. Adapun Bani Israil diperangi oleh kaum muslim karena mereka bersekongkol dengan kaum musyrik Quraisy dalam upaya membunuh nabi saw pada perang ahzab.
Oleh sebab itu Palestina hanya bisa dibebaskan jika Khilafah berdiri untuk melindungi tanah yang Allah berkahi tersebut. Khilafah akan mengusir para penjajah dari dunia islam. Karena itulah eksistensi khilafah islamiyah adalah vital dan wajib bagi kaum muslim. Karena ia akan menjadi pelindung umat. Khilafah adalah perisai yang melindungi umat sehingga mereka merasa aman dan nyaman. Dengan khilafah, harta darah dan jiwa umat tidak akan tumpah sia-sia.

No comments:
Post a Comment