Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Krisis Moral Digital: Pelajar Terjerat Pinjol dan Judol, Negara Abai?

Saturday, November 08, 2025 | Saturday, November 08, 2025 WIB Last Updated 2025-11-08T11:36:41Z
Diyanatul Izzah

Oleh Diyanatul Izzah


Pinjol atau aktivitas pinjaman online menjadi suatu hal yang menggiurkan bagi mereka yang sudah ketagihan. Ketika mendapatkan bonus yang besar, pinjol seakan memberikan efek candu sehingga susah untuk melepaskan. Sebagian besar aktivitas ini mungkin dilakukan oleh mereka yang berumah tangga, namun, siapa sangka siswa yang berstatus masih pelajar juga merasakan candunya. Hal ini tak terlepas dari akses pinjol yang begitu mudah. 


Di kabupaten Bogor misalnya, siswa SMK merasa ketagihan dalam bermain pinjol karena merasa mendapatkan untung besar. Ia pun tidak bisa melepaskannya sampai bercecok besar dengan keluarganya. Saat duduk di bangku kelas 3 SMK, ia merasa bahwa ia harus melepaskan aktivitas pinjol karena banyak tanggungan yang harus ia dapatkan. Namun, ia mengakui bahwa keinginan untuk pinjol selalu muncul karena melihat iklan pinjol yang berseliweran di sosial media, ditambah aksesnya yang begitu mudah.


Bedanya di Kulon Progo, yaitu siswa SMP yang tidak hanya kecanduan pinjol, namun, juga kecanduan judol. Disebutkan, bahwa ia sampai tidak masuk sekolah selama 1 bulan. Ia malu kepada teman - teman yang ia mintai uang untuk membayar tanggungannya di pinjol dan judol, ia tak masuk sekolah karena ia tak kuat membayar. Menurut kompas.com, bahkan uang yang ia minta kepada temannya kisaran sampai 4 juta. Itupun ia gunakan untuk membayar tanggungannya di pinjol dan judol.


Lemahnya Pengawasan


Saat membuka sosial media, tidak sedikit diantara kita yang selalu menemukan iklan pinjol atau judol. Bahkan, iklan ini masuk ke aplikasi seperti game sampai alat pengedit. Leluasanya iklan - iklan ini membuat banyak anak pelajar yang tergiur, melihat hadiah yang di paparkan begitu besar. Pinjol dan judol inipun bisa disebut sebagai lingkaran setan. Saat anak kalah dalam bermain judol, maka ia akan mencari pinjaman di website pinjol. Begitu seterusnya hingga tanggungan yang didapatkan begitu besar. 


Lemahnya pengawasan orang tua menjadi salah satu bagian dari munculnya kasus ini. Saat orang tua memberikan kebebasan 100% sosial media ke anak, tanpa bimbingan dan tuntunan, maka anak akan bisa mengakses segalanya salah satunya pinjol dan judol. Sekolah juga tak terlepas dari perhatian ini, ketika sekolah tidak memberikan arahan dalam menggunakan digital dengan bijak, maka anak akan merasa bebas dalam menggunakan handphone yang ia pakai. Padahal, seharusnya anak diberikan pemahaman tentang aktivitas mana yang bisa ia lakukan atau tidak. 


Hal ini sejalan dengan statement My Esti Wijayanti selaku Wakil Ketua Komisi X DPR RI  yang menilai munculnya kasus siswa SMP terjerat pinjol dan judol disebabkan oleh kesalahan pendidikan saat ini. (Sc : Kompas.com)


Negara juga pioner penting dalam tersebarnya iklan pinjol dan judol. Ketika negara tidak menutup akses kejahatan ini, padahal negara mempunyai kuasa dalam hal itu, maka seterusnya akan ada muncul rakyat - rakyat lain yang menjadi korban seperti fakta di atas. Selama tidak ditutupnya akses pinjol dan judol hingga lemahnya pengawasan negara dalam memahamkan rakyatnya, maka selama itu pula akan ada korban - korban lagi. Bahkan, bisa dengan tanggungan yang lebih berat hingga berujung pada kematian yaitu bunuh diri. 


Penyebab Generasi Instan


Dengan berkembangnya teknologi hingga banyak informasi yang masuk, salah satunya hidup dengan kemewahan dan kemudahan. Di sisi lain, terbentuknya sistem bahwa tolak ukur aktivitas adalahi untung secara materi. Menimbulkan generasi hari ini menjadi generasi yang instan. Muncul cara berfikir rusak dikalangan anak muda bahwa kaya bisa didapatkan dengan cepat dan kerja keras. Akibatnya, banyak anak muda yang ingin mendapatkan banyak uang dengan giuran iklan judol atau pinjol.


Di sisi lain, Kapitalisme memberikan ruang yang begitu lebar kepada narasi bahwa sukses adalah mereka yang memiliki banyak harta. Iklan judol atau pinjol pun diberikan banyak tempat di sosial media. Hasilnya, generasi muda yang lemah dan tidak mau bekerja keras karena terbiasa dengan aktivitas instan. Hingga narasi Indonesia Emas 2045 hanya menjadi ilusi melihat generasi muda hari ini yang mengkhawatirkan.


Ini Yang Dibutuhkan!


Sebagai negara dengan mayoritas Islam terbesar, melihat kasus ini seharusnya dipandang sebagai keseriusan. Aspek rumah, sekolah bahkan negara seharusnya bekerja sama memahamkan generasi muda tentang bahanya judol atau pinjol. Bahkan, dalam Islam aktivitas ini adalah haram. 


Sebagaimana firman Allah dalam Qur'an Surat Al - Maidah ayat 90. Allah berfirman yang artinya, "Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya (meminum) khamar, berjudi, (berkorban untuk) berhala, dan mengundi nasib dengan panah adalah perbuatan keji (dan) termasuk perbuatan setan. Maka jauhilah perbuatan-perbuatan itu agar kamu beruntung." 


Dalam aspek pendidikan, maka penting menggunakan pendidikan Islam dalam kurikulumnnya. Menjadikan akidah Islam sebagai landasan yang membentuk generasi kepribadian Islam, yaitu berpola pikir Islami dan berpola sikap Islami. Landasan pendidikan dalam Islam langsung bersumber pada wahyu, aturan dari pencipta manusia. Dengan ini, generasi akan punya arahan dalam bertindak yang menjadikan halal - haram sebagai tolak ukurnya, tidak sekedar pendidikan berkarakter.


Tidak cukup dengan itu, negara juga berperan besar dalam menanugi rakyatnya. Sebab, pendidikan yang baik tidak terlepas dari penjagaan negara yang baik pula. Maka, dibutuhkan negara yang menerapkan syariat Islam secara Kaffah sehingga membentuk masyarakat yang shaleh. Hal ini tidak diragukan lagi, dengan bukti sejarah kegemilangan Islam dalam membentuk generasi.


Negara dalam Islam juga memiliki kebijakan untuk menutup segala akses aktivitas judol maupun pinjol. Bahkan lebih dari itu, negara juga menutup akses - akses website atau informasi yang bertentangan dengan Islam. Dengan ini, masyakarat akan terjaga dan kebatilan tidak tersebar leluasa. Wallahu A'lam bisshawab []

No comments:

Post a Comment

×
Berita Terbaru Update