Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Pesantren Pelopor Wujudkan Peradaban Emas, Mungkinkah?

Friday, October 17, 2025 | Friday, October 17, 2025 WIB Last Updated 2025-10-17T00:13:08Z
Nur Fitriyah Asri

Oleh Nur Fitriyah Asri
Penulis Opini Ideologis


Musabaqah Qira'atil Kutub (MQK) Nasional dan Internasional, digelar di Pesantren As'adiyah Wajo, Sulawesi Selatan, pada 2 Oktober 2025. Dibuka oleh Menteri Agama (Menag) Nasaruddin Umar. Dalam sambutannya, Menag mengajak seluruh komponen pesantren untuk menjadikan MQK ini sebagai anak tangga pertama menuju kembalinya The Golden Age of Islamic Civilization (Zaman Keemasan Peradaban Islam).

Menag menegaskan untuk kembali ke peradaban emas harus dimulai dari pesantren. Seperti pada masa Baitul Hikmah di Bagdad di bawah kepemimpinan Harun Al-Rasyid. Hal itu bisa tercapai karena adanya integrasi ilmu. Bahwa ulama pada saat itu tidak hanya mahir dalam kitab kuning (ilmu agama) saja, tetapi juga mahir dalam kitab putih (ilmu umum) seperti yang berbahasa Inggris, tentang masalah sosiologi, kitab politik, dan kitab-kitab sains, tegas Menag.

Menurut Menag, kuncinya pondok pesantren jangan membatasi diri pada satu jenis keilmuan. Sebab, perkawinan antara kitab kuning dengan kitab putih inilah yang akan melahirkan insan kamil. Apalagi pondok pesantren, adalah benteng Islam Indonesia. Oleh karena itu, pondok pesantren harus menjadi pelopor kebangkitan menuju kembalinya The Golden Age of Islamic Civilization (Zaman Keemasan Peradaban Islam) yang dimulai dari Indonesia, pungkasnya. (kemenag.go.id, 2/10/2025)

Pidato Menag tersebut, sejatinya erat sekali dengan program Fullbright. Sebelumnya Menag Nasaruddin Umar dan Duta Besar Amerika untuk Indonesia, Kamala Shirin Lakhdhir, pada tanggal 8 Januari 2025, menandatangani nota kesepemahaman (MoU) bekerja sama di bidang pendidikan di bawah naungan Kementerian Agama. Dalam semangat moderasi beragama dan toleransi global yang bertujuan untuk meningkatkan mutu pendidikan di pesantren dengan standar internasional Cambridge. Agar santri unggul dalam dunia ilmu agama sekaligus mampu bersaing di dunia global.

Utopis dalam Sistem Demokrasi

Tampaknya tujuan "Menjadikan Pesantren Sebagai Pelopor Kebangkitan Islam Menuju Indonesia Emas," sepintas sangatlah menarik dan memberikan harapan. Namun, faktanya sulit diwujudkan selama negara ini membebek pada sistem Barat, yakni demokrasi sekuler. Sebab, sekularisme inilah yang menyebabkan negeri-negeri Islam termasuk Indonesia mengalami kemunduran dan keterpurukan di semua aspek kehidupan. 

Semua itu akibat pemisahan agama dari kehidupan, baik dalam bermasyarakat maupun bernegara. Termasuk adanya pemisahan kurikulum pendidikan agama (pesantren) dengan kurikulum pendidikan umum. Akibatnya di Indonesia sulit untuk mencetak generasi yang berkepribadian Islam. Masalahnya, produk pendidikan agama (pesantren) hanya mumpuni di bidang agama saja. Sedangkan  pendidikan umum minus dalam sisi agama.

Mengokohkan Sekularisme dan Liberalisme

Apalagi untuk memperbaiki kualitas pendidikan di pesantren dengan cara menggandeng Amerika. Justru, akan melahirkan santri moderat sebagaimana yang dikehendaki Barat. Padahal, jika ditelisik ada agenda terselubung yang membahayakan akidah dan menjauhkan umat dari agamanya.

Pasalnya, Lembaga Amerika Foreign Policy Council secara terang-terangan menyebut bahwa Fullbright sebagai bagian dari solf power diplomasi Amerika untuk menanamkan nilai-nilai demokrasi liberal dan memperluas pengaruh budaya Amerika di dunia Islam. Artinya, program tersebut bertujuan untuk membentuk cara pandang umat Islam agar selaras atau mengikuti ideologi sekuler liberal Barat. Inilah taktik dan strategis Amerika sebenarnya. Yaitu untuk menghancurkan pesantren yang merupakan benteng utama Islam di Indonesia.

Karena itulah, berbagai program masuk ke pesantren untuk
menanamkan nilai-nilai sekuler dan liberal (kebebasan) melalui kurikulum pendidikan pesantren. Seperti ide kesetaraan gender, HAM, pluralisme, dan ide-ide lainnya yang bertentangan dengan Islam. Serta memperluas pengaruh ideologisnya di dunia Islam. Maka tidak heran jika pesantren dijadikan target utama dalam proyek moderasi agama dan counter ekstremis ala Barat. 

Nilai-nilai sekuler dan liberal yang bertentangan dengan Islam secara perlahan akan menggeser jati diri pesantren. Pesantren yang semula menjadi pusat kaderisasi umat, bergeser menjadi santri-santri moderat yang menerima ide-idenya dan tunduk pada sistem Barat. Bahkan menjadi antek, pengkhianat dan penghancur peradaban Islam itu sendiri.

Sebenarnya, proyek pendidikan Amerika di pesantren, adalah strategi panjang yang tercantum dalam laporan resmi Amerika. Seperti Bureau of Counter Terorism, yang menyatakan "Indonesia sebagai mitra untuk mempromosikan Islam Moderat." Ironisnya, banyak ulama suu' (ulama jahat) yang justru menjadi agen dan kaki tangan Barat. 

Allah Swt. berfirman, "Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil teman kepercayaan dari orang-orang di luar kalangan (agama)-mu (karena) mereka tidak henti-hentinya mendatangkan kemudaratan bagimu. Mereka menginginkan apa yang menyusahkanmu. Sungguh, telah nyata kebencian dari mulut mereka dan apa yang mereka sembunyikan dalam hati lebih besar. Sungguh, Kami telah menerangkan kepadamu ayat-ayat (Kami), jika kamu berpikir." (QS. Ali Imran: 118)

Tolak Kerja Sama 

Sayangnya, umat saat ini mengalami kemerosotan berpikir sehingga lebih mempercayai ulama suu' (ulama jahat) dari pada peringatan Allah. Padahal faktanya telah nyata terbuka berdasarkan pernyataan mereka. 

Menerima kerja sama dengan Barat, artinya mengokohkan sekularisme dan liberalisme di dunia pesantren dengan mendistorsi posisi strategis pesantren sebagai pusat pencetak ulama dan pemimpin peradaban Islam. Oleh karena itu, pesantren harus selektif dan kritis berani menolak kerja sama internasional yang membawa misi sekuler dan liberal.

Seharusnya pesantren hadir sebagai benteng yang melindungi umat dari pelemahan ideologi Barat. Melalui Pendidikan Islam berbasis Al-Qur'an dan Sunnah, dengan membekali tsaqofah Islam, serta ilmu kehidupan (sains teknologi) dan keahlian yang memadai. Maka akan melahirkan generasi yang bersyaksiyah Islamiyah (berkepribadian Islam). Para santri menjadi generasi tangguh, berilmu, berakhlak, berketrampilan, serta siap terjun dalam masyarakat. Lebih dari itu siap  berdakwah membimbing masyarakat agar tidak tercerabut identitas keislamannya.

Sistem Islam Kembalikan Peradaban Emas

Hanya pendidikan dalam sistem Islam yang dapat mewujudkan kembalinya The Golden Age of Islamic Civilization (Zaman Keemasan Peradaban Islam). Sebab, dalam sistem pendidikan Islam berlandaskan akidah Islam, tidak mengenal pemisahan antara ilmu agama dan ilmu kehidupan. 

Sebagai contoh, Rasulullah saw. panutan kita. Beliau tidak saja menjadi Nabi dan Rasul, akan tetapi juga sebagai kepala negara, ahli strategi perang, mahir dalam perdagangan, dan lainnya. Begitu juga dengan ulama-ulama setelahnya. Hal ini telah terbukti selama 13 abad, bahwa ulama (ahli ilmu) di masa Rasulullah, para sahabat, tabi'in, tabi'ut tabi'in dan pada kejayaan Islam bahwa mereka tidak hanya mumpuni di bidang agama saja. Namun, juga terampil di bidang kehidupan, yakni menguasai Ilmu Pengetahuan Teknologi (IPTEK) dan Keahlian.

Tidak seperti ulama sekarang umumnya hanya mumpuni di bidang agama saja, tetapi kering di bidang kehidupan. Atau sebaliknya, para teknokrat pandai di bidang kehidupan, tetapi minus dalam ilmu agama. 

Sejatinya pesantren, adalah salah satu komponen untuk mewujudkan kembali peradaban emas. Namun, pada hakikatnya dibutuhkan peran negara yang menerapkan syariat Islam secara kaffah. Dengan demikan, maqashid syariah Islam yang bertujuan melindungi konsep dasar kehidupan terwujud. Seperti melindungi agama, harta, jiwa, kehormatan, keturunan, akal, dan negara. Alhasil The Golden Age of Islamic Civilization (Zaman Keemasan Peradaban Islam) hanya terwujud dalam sistem Khilafah, bukan sistem demokrasi, dan sistem yang lainnya. 

Wallahualam bissawwab.

No comments:

Post a Comment

×
Berita Terbaru Update