Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Muhasabah, Tahun Baru Hijriyah

Tuesday, July 01, 2025 | Tuesday, July 01, 2025 WIB Last Updated 2025-07-06T09:35:53Z



Oleh Isma Humaira

Ibu Rumah Tangga

Tahun kembali berganti. Sebagai seorang muslim yang cerdas tentu tidak menyambut kehadiran Tahun Baru Hijrah ini dengan kegiatan seremonial belaka tapi dibarengi dengan muhâsabah. Setiap Muslim penting untuk melakukan evaluasi. Bukan hanya terhadap diri sendiri, melainkan juga terhadap kondisi umat ini. Apakah betul umat ini telah meraih kedudukan selaku khayru ummah (umat terbaik)? Ataukah umat hari ini sebenarnya masih terpuruk? Jika masih terpuruk, tentu penting untuk mencari jalan kebangkitan hakiki agar mereka kembali meraih predikat ’khayru ummah’ (umat terbaik).


Muhâsabah hukumnya fardhu atas setiap Muslim. Ini, antara lain, berdasarkan firman Allah SWT:

Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah. Hendaklah setiap orang memperhatikan apa yang telah dia perbuat untuk Hari Esok (Akhirat). Bertakwalah kepada Allah. Sungguh, Allah Mahatahu atas apa yang kalian kerjakan (TQS al-Hasyr [59]: 18). 


Siapa saja yang obyektif mengevaluasi keadaan umat pada hari ini akan menyaksikan betapa mereka hari ini sangat terpuruk. Jauh dari predikat ’umat terbaik’. Hampir dalam semua hal kaum Muslim terbelakang, tertinggal dan tertindas oleh umat-umat lain.


Secara ekonomi, menurut Laporan Bank Dunia tahun 2000, banyak negara Muslim, terkategori miskin. Padahal sebagian besar negeri Muslim kaya akan sumber daya alam. Indonesia, contohnya, kaya dengan tambang mineral seperti nikel dan emas. Ironinya, Bank Dunia melaporkan bahwa 60,3% penduduknya miskin. 


Di luar negeri, yang paling memilukan, darah umat dengan amat murah ditumpahkan oleh kaum kuffâr. Hari ini di Gaza, jumlah korban meninggal akibat genosida Zionis Yahudi sudah tembus di atas angka 55 ribu jiwa. Ratusan ribu anak-anak cacat. Lebih dari dua juta penduduk terancam kelaparan akibat blokade kaum zionis. Derita juga dialami Muslim India, Myanmar, Xinjiang dan Yaman. Mereka hidup dalam tekanan para penguasa setempat. Terdiskriminasi. Kehilangan tempat tinggal. Dipisahkan dari keluarga. Teraniaya. Bahkan mengalami pembunuhan. Yang lebih menyedihkan, tak ada pembelaan nyata dari sesama negeri Muslim. 


Alih-alih bersatu dan memberikan pertolongan, para penguasa Muslim malah bersekutu dengan imperialis Barat dan Zionis Yahudi. Mereka berkhianat. Mereka malah memfasilitasi kebutuhan AS dan Zionis Yahudi untuk menyerang Palestina dan Iran. Tidak ada lagi persatuan. Umat terpecah-belah.


Maka penting bagi umat ini merefleksikan kondisi sekarang dengan sejarah mereka. Tentu agar umat menemukan jalan keluar dari keterpurukan ini. Dulu Rasulullah saw. hijrah setelah 13 tahun teraniaya di Mekah menuju Madinah. Di sana beliau menegakkan tatanan masyarakat yang islami dalam sebuah negara, mereka berubah menjadi umat yang mulia, kuat dan disegani.


Pembentukan negara yang berdaulat dan disegani serta memberikan perlindungan bagi umat adalah makna “Sulthân[an] Nashîra” (kekuasaan yang menolong). Kekuasaan ini telah diberikan oleh Allah SWT kepada Nabi saw. dalam bentuk negara, sistem dan kekuasaan Islam (Negara Islam). Negara Islam inilah yang benar-benar menolong dan memenangkan Islam dan kaum Muslim. Pasca Nabi saw., Negara Islam ini—yang kemudian disebut dengan Khilafah Islam—menjadi negara adidaya di seluruh dunia sepanjang empat belas abad.


Wahai kaum Muslim! Apakah Anda tidak menyadari bahwa musibah demi musibah yang deras menimpa umat terjadi akibat ketiadaan kekuasaan Islam yang menolong umat ini? Penguasanya orang-orang fâjir, boneka Barat dan menerapkan aturan hidup yang batil. Mereka mengajak umat untuk berpaling dari Islam menuju aturan hidup jahiliah: sistem demokrasi, paham nasionalisme dan ideologi sekularisme-kapitalisme. 


Karena itu mari kita ikuti apa yang telah dilakukan penghulu umat ini, Rasulullah saw., bersama para Sahabatnya yang mulia. Mereka hanya melaksanakan dan menerapkan syariah Islam dalam institusi kekuasaan Islam. Setelah itu Allah Swt. telah berjanji akan memberi keberkahan dari langit dan bumi.

WalLâhu a’lam bi ash-shawâb.

No comments:

Post a Comment

×
Berita Terbaru Update