Oleh: Heriani*
*(Pena Ideologis Maros)*
Setiap umat muslim tentunya sangat mendamba-dambakan momen saat menjalankan rukun Islam yang kelima yaitu berhaji bagi yang mampu, sebagai pelengkap dari rukun agama Islam yang agung. Dalam hal ini, segala cara apapun akan dilakukan demi meluruskan niat untuk menjadi tamu Allah agar terealisasi dalam kehidupan, meskipun demikian melewati persyaratan panjang seperti bersabar menunggu antrian pemberangkatan selama bertahun-tahun.
Namun tahun ini, momen kebahagiaan keberangkatan haji seketika menjadi momen pahit bagi salah seorang calon jamaah haji reguler asal Bandung, yang bernama Heri Risdyanto bersama istrinya dan kedua orang tuanya. Momen pahit itu bermula ketika pesawat yang ditumpanginya mendarat di Bandara Jeddah, kemudian Heri dinyatakan tidak lolos pemeriksaan. Padahal saat itu semua dokumen telah lengkap.
Dikutip dari republika.co.id, Semua dokumen lengkap, termasuk visa, paspor, ID jamaah, tiket pulang-pergi dan uang untuk living cost. Bahkan, nama Heri dan keluarganya tercatat sebagai jamaah yang akan menerima fasilitas hotel di Makkah. Namun saat melalui pemeriksaan imigrasi Bandara Jeddah, Heri dinyatakan tidak dapat melanjutkan perjalanan ke hotel, padahal istri dan kedua orang tuanya tidak mengalami masalah.
Sampai kemudian kekecewaan yang teramat mendalam dirasakan oleh Heri, ketika petugas bandara menyatakan bahwa Heri dilarang melaksanakan haji dan harus kembali ke Indonesia. Lebih mirisnya lagi, Heri digelandang ke tangga pesawat, ia sempat meminta izin mengambil koper untuk mengganti baju, tapi ditolak. Ia hanya dibekali tiket pesawat Saudia Airlines tujuan Jeddah-Jakarta pukul 08.35-22.45 WIB.
“Dengan perasaan sedih dan hancur, Heri masuk pesawat hanya dengan kain ihram yang melekat ditubuhnya. Ia tertunduk di kursi, dan masih belum percaya apa yang menimpanya” ujar Mustolih selaku Ketua Komnas Haji, kepada Republika, Senin (2/6/2025).
Kejadian menyedihkan ini seolah-olah membuka pandangan kita bahwa ini merupakan bentuk ketidakbecusan pemerintah yang tidak bertanggung jawab dalam mengurus dan melayani ibadah haji rakyatnya. Karena itu, kesalahan ini bukan hanya sekedar masalah teknis, namun ini sudah termasuk persoalan sistematis yang berpangkal pada kebobrokan sistem yang dijalankan pada hari ini.
*Kebobrokan Nyata*
Perlu diketahui bahwa negara yang berlepas tangan dari tanggung jawab dan pelayanan tidak memadai ini, tidak lain merupakan buah dari sistem kapitalisme yang dijalankan negara sampai pada hari ini. Dalam sistem kapitalisme, segala sesuatu pastinya akan di kapitalisasi dengan melakukan segala cara untuk mendapatkan keuntungan materi, meskipun hal itu mengorbankan rakyat dan tidak mempedulikan kemaslahatan masyarakat.
Maka tidak heran, jika ada rakyat sebagai calon jamaah haji menjadi korban dari tidak becusnya sistem hari ini dalam mengurus dan melayani kepentingan umat. Kebobrokan sistem kapitalisme membuat negara lumpuh dalam meri’ayah kemaslahatan umat, bahkan sistem ini secara terang-terangan berlepas dari tanggung jawab yang menetapkan haji adalah bagian dari rukun Islam, yang diwajibkan bagi seluruh umat muslim yang terkategori mampu menunaikan ibadah haji.
Karena akibat dari sistem kapitalisme yang segala apapun di kapitalisasi, alih-alih mempermudah jamaah dalam menjalankan ibadah haji, akan tetapi justru malah dipersulit dan terkesan diacuhkan. Inilah kebobrokan nyata dari sistem kapitalisme. Oleh karena itu, sudah seharusnya umat melek dan sadar betapa buruknya sistem kapitalisme dalam memimpin kehidupan.
Sungguh tidak akan ada jalan lain untuk mencapai kemaslahatan hakiki kecuali mencampakkan sistem rusak kapitalisme dan beralih kepada sistem alternatif yang sudah terbukti menjamin kemaslahatan umat dan membawa berkah serta rahmat bagi seluruh alam.
*Sistem Alternatif*
Beda halnya dengan sistem rusak kapitalisme yang merupakan akar seluruh permasalahan, sistem Islam justru adalah satu-satunya sistem alternatif dan solutif dalam kehidupan. Sebab Islam bukan hanya sekedar agama, tetapi juga adalah pandangan hidup yang berfokus pada titik membawa rahmat untuk seluruh alam. Sebagaimana Firman Allah SWT dalam QS. Al-Anbiya 107.
وَمَآ أَرْسَلْنَاكَ إِلَّآ رَحْمَةً لِلْعَالَمِينَ.
Artinya: “Dan kami tidak menciptakan engkau (Muhammad) melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi seluruh alam.
Disini dapat dilihat secara fakta bahwa, sistem kapitalisme sama sekali tidak membawa kemaslahatan sedikitpun melainkan hanya terlihat acuh dan abai terhadap urusan rakyat. Hal ini sangat kebanting dengan sistem Islam yang menjamin secara sempurna dalam mengatur dan melayani urusan umat demi mencapai kemaslahatan hakiki.
Termasuk terkait persoalan pelayanan ibadah haji, negara Khilafah akan memberi layanan paripurna dan memuaskan untuk umat dalam menunaikan rukun Islam yang mulia ini. Sebagai bentuk pelayanan sempurna dari Khilafah, antara lain seperti menyiapkan mekanisme terbaik, birokrasi terbaik dan fasilitas layanan premium bagi para tamu Allah.
Semua pengurusan dan pelayanan super nyaman ini, tak lepas dari tanggungan negara Khilafah Islamiyyah, yang dengan menerapkan metode ekonomi, keuangan dan moneter sesuai dengan aturan Islam, sehingga inilah yang membuat harta Baitulmal negara akan melimpah ruah dari sumber-sumber pendapatan sangat besar dan beragam.
Demikianlah gambaran jaminan hakiki ketika menjalankan sistem Islam di bawah naungan Khilafah. Sungguh hanya dengan Khilafah seluruh umat akan senantiasa merasakan ri’ayah dengan sangat sempurna dan paripurna. Oleh karena itu, satu-satunya cara untuk kembali merasakan rahmat Islam yang luas ini, umat mesti bersatu dan membentuk kesatuan dalam menegakkan daulah Islam kemudian mencampakkan sistem kapitalisme di dunia ini.
Wallahu’Alam Bisshawab.

No comments:
Post a Comment