Oleh : Siti Rukayah, S.P
Pelatihan Bina Mental dan Fisik telah diselenggarakan selama 3 (tiga) hari penuh oleh pihak Kodam VI Mulawarman. Acara tersebut dihadiri oleh Peserta Didik Kelas XI teruntuk Pengurus OSIS di Kota Balikpapan, yang berlokasi di Depo Pendidikan dan Kejuruan (Dodikjur) Rindam VI/Mulawarman, Jl. Mulawarman, No. 30, Manggar Baru.
Penyelenggaraan tersebut ditujukan sebagai bentuk implementasi Visi Kalimantan Timur tahun 2025-2030, yaitu "Kaltim Sukses Menuju Generasi Emas", sebagaimana dengan Misi Pertama Pemerintah Provinsi, yakni "Mewujudkan sumber daya manusia yang unggul dan sejahtera."
"Kegiatan Pelatihan Bina Mental dan Fisik yang kalian ikuti hari ini bukan sekadar pelatihan biasa. Ini adalah bagian dari pembentukan karakter, pembinaan kepemimpinan, dan pembangunan kecakapan hidup (life skills), yang sangat penting sebagai bekal kalian dalam menjalani peran sebagai pemimpin muda, baik di lingkungan sekolah, masyarakat, maupun bangsa", ujar Plt. Kadis Ir. Rahmat Ramadhan, S.T., M.M, selaku Gubernur Kaltim.
Program Gerakan 7 Kebiasaan Anak Indonesia Hebat dari Kemendikdasmen juga selaras dengan pelatihan tersebut, seperti bangun pagi, beribadah, berolahraga, makan sehat dan bergizi, gemar belajar, bermasyarakat, dan tidur tepat waktu. Dimana kebiasaan tersebut nantinya berguna sebagai pondasi penting dalam membentuk generasi yang tangguh secara mental dan sehat secara fisik.
Pelatihan ini diharapkan agar peserta didik mampu mengelola emosi dengan baik, membangun resilience atau ketahanan mental dalam menghadapi tantangan, dapat meningkatkan pola pikir positif dan berkembang (growth mindset).
Meningkatkan kebugaran jasmani untuk mendukung kualitas hidup yang lebih baik, membiasakan hidup sehat dan aktif, serta meningkatkan keterampilan sosial dan kepemimpinan sebagai pengurus OSIS.
"Kami percaya, 88 peserta didik kelas XI dari berbagai SMK di Kota Balikpapan yang hadir di sini adalah kader-kader pemimpin masa depan Kaltim. Kalian adalah agent of change, pembawa semangat baru untuk kemajuan daerah ini," ujar Plt. Kadis.
Mengamati fakta tersebut, tentunya mempertanyakan apakah pelatihan Bina Mental dan Fisik bagi peserta didik apakah tujuannya dapat direalisasikan? Sedangkan tantangan dan realita di lapangan saat ini jauh dari generasi emas.
Hal tersebut diakibatkan diterapkannya sistem kapitalisme-sekulerisme dalam kehidupan. Generasi saat distandarkan atas dasar materi, sehingga tentunya ketika generasi tak mampu menggapai standar tersebut maka yang ada jadinya kena mental.
Sehingga, selama kehidupan masih berkiblat pada Barat yakni sistem kapitalis-sekuler yang jauh dari syariat Islam, maka peserta didik akan sulit membentuk generasi emas yang justru generasi saat ini malah mencemaskan.
Sejatinya mental dan fisik yang menjadi kefokusan dengan adanya program tersebut, namun bagaimana mungkin di sisi lain didapati generasi saat ini dalam kondisi rohaninya kering akan ukhrawi. Pembinaan akidah saat ini seakan-akan dijauhkan dari generasi, dan kondisi generasi yang mengalami Islamophobia, enggan untuk mendalami agamanya sendiri. Sehingga apakah mungkin jika hanya dengan pelatihan fisik dan mental, tanpa dengan adanya penguatan akidah akan membawa generasi pada semangat baru untuk kemajuan, menjadi sebagai agent of change?
Hal itu jelas akan terkondisikan seperti itu, jika negara menganut sistem kapitalisme-sekuler. Kapitalisme diartikan sebagai para kapital atau pemilik modal akan menjadi roda putar perekonomian negara, sehingga kebijakan akan tergerak berdasarkan manfaat, kebijakan akan dipertimbangkan jika terdapat keuntungan. Sekuler adalah paham yang diterapkan dalam kehidupan berupa penjauhan nilai agama dari kehidupan. Sehingga tidak heran, dalam setiap lini kehidupan jauh daripada aturan agama.
Sedangkan negara dengan penerapan sistem Islam akan menjadikan Islam sebagai landasan dengan support sistem terutama melalui ranah pendidikan, sehingga akan mudah mewujudkan generasi emas.
Dan semestinya agama tidak dipisahkan dari kehidupan apalagi memusuhi Islam itu sendiri, karena tanpa adanya pemahaman Islam, maka akan sulit membentuk karakter peserta didik.
Wujud nyata generasi emas yang ada pada negara dengan penerapan sistem Islam, dapat dilihat pada peradaban Islam yang tertulis dalam sejarah. Dengan begitu, diantaranya banyak kisah Islam terdahulu yang dapat menjadi contoh, terutama bagaimana menjadi agent of change sehingga generasi emas dapat terwujud.
Tentunya hal tersebut hanya dapat direalisasikan jika negara menerapkan Islam secara menyeluruh (Kaffah)
[Wallahu a'lam bisshowab]

No comments:
Post a Comment