Oleh Suryani
Pegiat Literasi
Semakin hari pengangguran di negeri ini terus saja meningkat, seolah permasalahannya tidak bisa diatasi. Berbagai upaya telah ditempuh pemerintah untuk menuntaskannya, namun tetap saja banyak masyarakat yang masih belum mempunyai pekerjaan dan berpenghasilan tetap.
Salah satu upaya pemerintah Kabupaten Bandung adalah dengan mengadakan job fair yang dilaksanakan di Gedung Budaya Soreang, untuk memfasilitasi para pencari kerja mendapat pekerjaan. Kesempatan ini tentu tidak disia-siakan, ribuan orang menyerbu berharap bisa beruntung dan memperoleh pekerjaan sesuai keinginannya. Mereka sangat antusias dengan mengenakan pakaian rapi yang didominasi hitam putih.
Kepala Dinas Tenaga Kerja (Disnaker) Kabupaten Bandung Rukmana berharap dengan adanya job fair ini bisa menyerap tenaga kerja sekitar 800 orang, walau saat ini baru 1.500 yang telah ditempatkan di berbagai perusahan. Setidaknya ada penurunan pengangguran sedikit demi sedikit, bahkan harapannya bisa mencapai target sebanyak 10 ribu orang sesuai target pak bupati. (Detikjabar.com, Kamis 24/04/2025)
Job fair atau bursa kerja adalah acara pameran yang mempertemukan para pencari kerja dan perusahaan yang menawarkan lowongan kerja. Tentu, selintas acara ini membawa angin segar bagi sebagian masyarakat, mereka berpikir ada kesempatan untuk mendapat pekerjaan.
Namun kenyataannya lowongan pekerjaan dengan para pencari kerja jumlahnya tidak sebanding Sehingga yang terserap hanya sedikit sekali, kebanyakan mereka harus gigit jari dan kecewa karena harapannya kandas.
Selebihnya, job fair hanya menyisakan gambaran bahwa pengangguran di negeri ini sangatlah banyak, tentu perlu disikapi dengan tepat, karena kalau tidak, akan menjadi bom waktu yang suatu saat akan meledak dan semakin merusak tatanan kehidupan yang sudah rusak. Di samping itu, job fair kadang hanya ajang marketing perusahaan brand awareness saja. (seberapa besar konsumen mengenali dan mengingat suatu produk)
Seharusnya bukan hanya mengadakan job fair yang dilakukan pemerintah, tetapi membuka lapangan kerja seluas-luasnya bagi rakyat dan disediakan juga pelatihan keterampilan kerja, terutama untuk laki-laki agar mereka mampu memberikan nafkah kepada keluarga.
Pemerintah sebagai pengelola negara tentu sangat mampu melakukannya, asalkan fokus bekerja untuk rakyat. Apalagi negeri kita ini Allah anugerahi sumber daya alam (SDA) yang melimpah ruah, ketika negara mampu mengelola maka akan menyerap tenaga kerja yang banyak, hingga rakyat tidak akan kelimpungan mencari pekerjaan demi memenuhi kebutuhan keluarganya.
Namun sistem demokrasi kapitalisme yang saat ini diterapkan tidak mampu menghadirkan pemimpin yang mengurusi rakyat. Kebijakan yang dibuat justru lebih banyak menyengsarakan rakyat. Mulai dari pajak yang mencekik, kapitalisasi layanan publik, undang-undang pro asing, termasuk proyek investasi asing yang kerap menjadikan tenaga kerjanya dari asing.
Di samping itu, situasi perekonomian pun sangat dipengaruhi oleh kondisi internasional, yakni diterapkannya sistem ekonomi kapitalisme neoliberal hingga menjadikan negara tidak memiliki kemandirian dan kedaulatan. Hingga menjadikan negara dalam sistem ini pun hanya sebatas regulator.
Wajar, jika sumber daya alam yang sejatinya milik rakyat dan melimpah ruah, tidak bisa dinikmati apalagi mampu menyejahterakan rakyat. Bahkan kebijakan ekonomi dan politiknya disetir dan dikte oleh kekuatan kapitalis global.
Berbeda dalam Islam. Pemimpin atau negara menempatkan diri sebagai pengurus dan penjaga. Sebagaimana hadis Nabi Saw:
"Imam/pemimpin adalah raa'in (pengurus atau pengembala) rakyatnya, dan dia bertanggung jawab atas kepengurusan rakyatnya." (HR Bukhari)
Akidah yang kuat tentang adanya hari pembalasan pada diri pemimpin Islam membuat seorang penguasa akan merasa takut jika menzalimi atau lalai akan amanahnya kepada rakyat. Mereka akan berusaha maksimal mengurus dan menyejahterakan mereka dengan senantiasa menjadikan syariat Islam sebagai undang-undang dalam negara yang dipimpinnya.
Ajaran Islam mewajibkan seorang laki-laki untuk bekerja. Tentu dengan support system yang datang dari negara, berupa sistem pendidikan yang berbasis akidah Islam untuk mencetak generasi rakyat khususnya laki-laki agar memiliki kepribadian Islam yang baik, sekaligus skill yang mumpuni.
Pada saat yang sama, negara akan menjmin ketersediaan lapangan kerja dengan suasana kondusif bagi masyarakat. Di antaranya dengan membuka akses luas kepada sumber-sumber ekonomi yang halal, tidak membiarkan penguasaan kekayaan milik umum oleh segelintir orang, apalagi asing. Termasuk mencegah berkembangnya sektor nonriil yang kerap membuat mandeg bahkan hancur, juga menghapuskan segala transaksi ribawi.
Sektor-sektor yang potensinya sangat besar, seperti pertanian, industri, perikanan, perkebunan, pertambangan, dan sejenisnya akan digarap secara serius dan sesuai dengan aturan Islam. Pembangunan dan pengembangan sektor-sektor tersebut dilakukan secara merata di seluruh wilayah negara sesuai dengan potensinya.
Negara akan menerapkan politik industri yang bertumpu pada pengembangan industri berat. Hal ini akan mendorong perkembangan industri-industri lainnya hingga mampu mencerap ketersediaan sumber daya manusia yang melimpah ruah dengan kompetensi yang tidak diragukan sebagai output sistem pendidikan Islam.
Bukan hanya lapangan pekerjaan, negara pun akan memberi bantuan modal dan memberi keahlian kepada rakyat yang membutuhkan. Bukan hanya itu, mereka yang lemah atau tidak mampu bekerja akan diberi santunan oleh negara hingga mereka pun bisa tetap meraih kesejahteraan.
Layanan publik dipermudah, bahkan digratiskan sehingga apa pun pekerjaannya tidak menghalangi mereka untuk bisa memenuhi kebutuhan dasar, bahkan hidup secara layak. Dengan begitu, kualitas SDM pun akan meningkat dan siap berkontribusi bagi kebaikan umat.
Itulah sistem Islam yang perlu untuk diperjuangkan keberadaannya oleh seluruh kaum muslim. Kesungguhan serta keyakinan akan pertolongan Allah Swt. menjadi modal bahwa perubahan itu akan terwujud nyata.
Wallahu alam bi shawwab.
Masyaa Allah betapa Islam sangat sempurna, urusan rakyat menjadi pioritas utama
ReplyDelete