Oleh Kiki Ariyanti
Aktivis Muslimah
Palestina oh Palestina. Bertahun-tahun sudah saudara-saudara kita di sana mengalami duka. Saat umat muslim sedunia lainnya bisa merasakan nikmatnya hidup mereka warga Palestina terus berjuang melawan kejamnya penjajah Israel. Disana tiada hari tanpa tangisan dan luka. Bahkan sejak terjadinya agresi militer tanggal 7 Oktober 2023 jumlah korban di Jalur Gaza Palestina terus saja meningkat.
Rarusan orang meninggal, ribuan lainnya terluka sekaligus kehilangan tempat tinggal. Bahkan makin hari kita lihat makin tragis korban yang berjatuhan entah itu dari kalangan anak-anak, perempuan dan laki-laki, dari kalangan warga sipil, tenaga medis bahkan hingga seorang jurnalis yang menjadi korban.
Dikutip dari Beritasatu.com (09/04/2025). Menyikapi permasalahan ini, Presiden Prabowo Subianto menyatakan Indonesia siap menampung ribuan warga Gaza, Palestina yang menjadi korban kekejaman militer Israel. Prabowo akan mengirim pesawat untuk menjemput mereka.
Sebagai tindaklanjut, Prabowo mengungkapkan Indonesia siap menampung warga Palestina yang terluka, mengalami trauma, anak-anak yatim piatu, serta mereka yang membutuhkan perawatan darurat akibat diserang Israel.
Jika pemerintah Palestina dan pihak terkait ingin mengevakuasi mereka ke Indonesia, kami siap kirim pesawat-pesawat untuk menjemput. Kita perkirakan jumlahnya sekitar 1.000 orang untuk gelombang pertama, jelas Prabowo.
Rencana Presiden Indonesia untuk merelokasi sementara warga Gaza ke Indonesia mungkin hal ini bisa dianggap suatu niatan yang baik apabila dilihat dari kacamata kemanusiaan. Akan tetapi ini menimbulkan kekhawatiran dari berbagai kalangan. Sebab permasalahan Palestina dengan Israel bukan hanya sekedar perang biasa. Ini adalah sebuah penjajahan yang terus berlangsung selama puluhan tahun.
Sesungguhnya warga Gaza yang sudah keluar maka akan sulit kembali karena mereka akan diblokir oleh penjajah. Tindakan ini malah justru akan memuluskan agenda pengusiran warga Gaza lalu penjajah bisa menduduki Gaza sepenuhnya tanpa perlawanan seperti rencana Trumph dan Netanyahu. Persoalan Palestina adalah persoalan tentang ideologis dan agama yang seharusnya dipahami oleh seluruh umat muslim di dunia dan para pemimpin di negeri-negeri muslim. Karena itu solusi untuk mengevakuasi warga Gaza sepeeti pernyataan Prabowo hanya akan menjauh dari solusi yang hakiki.
Di sisi lain, evakuasi tersebut bisa jadi merupakan bentuk tekanan AS terhadap Indonesia atas kebijakan baru AS menaikkan tarif impor. Keberhasilan upaya Indonesia dalam melakukan negoisasi atas kebijakan tersebut bisa jadi akan digunakan alat untuk menekan Indonesia agar melakukan evakuasi warga Gaza. Buah simalakama bagi negeri yang tergantung pada negara lain.
Inilah gambaran dari pemikiran kapitalisme sebuah pemikiran dari sistem yang diterapkan saat ini. Pemikiran ini dapat menimbulkan sekat-sekat imajiner nasionalisme dan prinsip tidak boleh terlalu ikut campur urusan negara lain. Akibatnya mengambil jalan tengah saja sebagai solusi. Sehingga dapat kita lihat solusi yang diberikan tidak menyentuh akar permasalahan bahkan bisa berpotensi memperlemah posisi umat Islam di dunia. Seperti halnya mengevakuasi warga Gaza atau seperti yang ditawarkan PBB yaitu membangun dua negara dalam satu wilayah.
Seharusnya pemimpin negeri-negeri muslim bersatu menyuarakan kepada para pemimpin seluruh dunia untuk memikirkan solusi yang terbaik dalam menyelesaikan persoalan Palestina. Agar mereka para pemimpin bisa menekan Israel untuk tidak lagi berani menjajah Palestina. Mereka harus mengirim pasukan militer untuk mengusir penjajah dari Palestina. Maka solusi hakiki untuk persoalan Palestina adalah jihad fisabilillah.
Jihad akan terlaksana apabila sistem Islam atau khilafah diterapkan. Khilafah sebagai negara adidaya akan menerapkan syariat Islam sehingga menjadi rahmat bagi seluruh alam dan membela setiap muslim. Dan di bawah naungan khilafah bukan hanya mampu mengusir penjajah Israel tapi juga mampu menyelesaikan segala permasalahan yang ada di dunia. Wallahu a'lam bissawab

No comments:
Post a Comment