Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Pemuda Mabuk Kecubung, Buah Liberalisasi Perilaku

Friday, July 26, 2024 | Friday, July 26, 2024 WIB Last Updated 2025-01-21T06:41:30Z

Oleh : Yuli Farida

( Aktivis Dakwah Kampus Jambi )

Dampak buruk dari konsumsi tumbuhan kecubung kembali memakan korban. Puluhan warga di Banjarmasin, Kalimantan Selatan, sampai harus dirawat di rumah sakit jiwa akibat mengonsumsi tumbuhan tersebut. Bahkan, dua orang di antaranya dilaporkan meninggal.

Kecubung merupakan tanaman yang biasanya tumbuh liar di ladang. Biasanya, tumbuhan ini juga ditanam di pekarangan rumah sebagai tanaman hias karena bunganya yang berbentuk unik seperti trompet. Buah dari tumbuhan ini juga unik berbentuk bulat dengan duri kecil.

Namun, di balik bentuk bunganya yang indah dan buahnya yang unik, kecubung mengandung senyawa kimia yang beracun. Hampir semua bagian dari tumbuhan kecubung, mulai dari daun, bunga, buah, hingga biji, punya efek racun yang berbahaya jika dikonsumsi.

Konsumsi tumbuhan ini dalam dosis kecil pun bisa menimbulkan efek yang serius.

Tidak ada dosis aman yang telah ditetapkan karena sedikit perbedaan dalam jumlah yang dikonsumsi dapat memiliki konsekuensi yang drastis.

Kecubung yang memiliki bahasa ilmiah Datura metel ini mengandung berbagai senyawa kimia beracun seperti alkaloid tropane, termasuk scopolamine, atropin, dan hiosiami. Senyawa tersebut memiliki efek berbahaya bagi tubuh. Efek yang paling banyak terjadi yakni munculnya halusinasi dan delirium.

Halusinasi yang
ditimbulkan dari
konsumsi kecubung bisa terjadi secara intens, baik halusinasi dalam bentuk visual maupun auditori. Terkadang orang yang mengonsumsi kecubung juga mengalami gangguan mental menjadi seperti kebingungan dan tidak teratur.

Efek lainnya, dapat menyebabkan gangguan sistem saraf. Senyawa dalam kecubung dapat memengaruhi sistem saraf pusat yang dapat menyebabkan kebingungan, disorientasi (tidak paham lingkungan sekitar), agitasi (gelisah dan gugup), dan berperilaku agresif.

Sebagian orang yang mengonsumsi kecubung juga mengalami gangguan penglihatan seperti penglihatan kabur dan sensitif terhadap cahaya. Ini terjadi karena senyawa pada kecubung menyebabkan midriasis atau pupil mata melebar.

Selain itu, efek dari antikolinergik dari alkaloid tropane pada kecubung dapat menyebabkan menyebabkan mulut kering, kesulitan menelan, dan mengurangi produksi air liur. Konsumsi kecubung juga membuat kesulitan buang air kecil atau retensi urine.

Tanaman ini bahkan hanya diremas dan ditempelkan di dahi saja bisa menimbulkan efek tak diinginkan.

konsumsi kecubung juga dapat meningkatkan denyut jantung dan tekanan darah tinggi. Pada kondisi yang parah, seseorang bisa mengalami gangguan irama jantung yang berisiko fatal.

Kecubung pun dapat menyebabkan kesulitan bernapas dan gagal napas. Pada dosis yang tinggi, konsumsi kecubung bisa berakibat fatal hingga kematian. Pada kasus konsumsi kecubung yang menyebabkan kematian di Banjarmasin, dampaknya menjadi lebih besar karena kecubung yang dikonsumsi juga dicampur dengan alkohol dan obat-obatan.

Efek kecubung sangat bervariasi bergantung pada individu, jumlah yang dikonsumsi, dan bentuk konsumsi, seperti daun, buang, biji, atau ekstrak. Namun, pada beberapa bagian tanaman, seperti biji, cenderung memiliki konsentrasi alkaloid yang lebih tinggi.

metode konsumsi dari kecubung dalam bentuk mentah, teh, atau merokok bisa menghasilkan kecepatan dan intensitas efek yang berbeda. Efek dari kecubung biasanya mulai dirasakan setelah 30 menit mengonsumsinya.

Jika mengonsumsi 1-3 biji kecubung atau sejumlah kecil daun dan bunga, efeknya akan terjadi setelah 30-60 menit konsumsi dengan puncak efek setelah 2-3 jam konsumsi. Namun, jika konsumsi kecubung dalam dosis tinggi itu bisa menimbulkan efek yang lebih cepat dan parah.

Efek tersebut bisa terjadi selama 24-48 jam tergantung dari dosis dan sensitivitas dari setiap individu. ”Dalam kasus keracunan berat, efek dapat berlangsung lebih lama dan memerlukan perawatan medis intensif.

Gejala

Terdapat beberapa kondisi yang harus diwaspadai. Seseorang yang mengonsumsi kecubung biasanya akan menunjukkan gejala, seperti mulut kering, pupil melebar, peningkatan denyut jantung, dan halusinasi. Pada kondisi tersebut, sebaiknya segera bawa ke fasilitas kesehatan.
Pada kondisi halusinasi sebenarnya sudah pada kondisi gawat darurat karena bisa melakukan apa saja, seperti bunuh diri atau membunuh orang lain. Jadi harus segera dapat pertolongan. Jika ada tanda keracunan, seperti pupil yang melebar dan denyut jantung sangat cepat, itu juga jelas membutuhkan pertolongan segera.

Meski begitu, kecubung sebenarnya bisa dimanfaatkan sebagai tanaman obat. Senyawa pada kecubung dapat digunakan sebagai antijamur, antibakteri, antikanker, antiinflamasi, dan obat bius. Tumbuhan ini pun bisa bermanfaat sebagai pestisida alami, antitusif (mengurangi gejala batuk), halusinogen, dan bronkodilator (mengatasi gangguan saluran napas).

Namun, kecubung harus diolah dengan cara yang benar dan tepat untuk menghilangkan racun yang dikandungnya. Semua bagian tumbuhan dari kecubung tidak boleh dikonsumsi secara langsung. ”Tanaman ini bahkan hanya diremas dan ditempelkan di dahi saja bisa menimbulkan efek tak diinginkan. ( Kompas.com 12/07/2024 ).

Generasi Rusak

Fenomena mabuk kecubung menegaskan bahwa perilaku generasi muda telah rusak. Ini tampak dari tujuan konsumsi kecubung yang berupa sensasi euforia dan halusinasi. Ini juga menunjukkan bahwa mabuk kecubung tidak ubahnya mengonsumsi narkoba, yakni karena pecandunya ingin sejenak melepaskan beban pikiran akan kehidupan. Meski sejatinya yang mereka peroleh itu hanya kebahagiaan semu dan sementara.

Selain itu, kita juga bisa mengatakan bahwa mereka generasi bermental lemah. Jika memang ada beban hidup, semestinya langkah tepat untuk mereka lakukan adalah menghadapi dan menyelesaikannya. Bukan malah melarikan diri dari masalah tersebut dan melampiaskannya dengan mengonsumsi zat-zat yang menghilangkan akal yang dengan kata lain adalah zat terlarang.

Generasi rusak dan bermental lemah ini pun jelas lemah iman dan sekuler. Parahnya lagi, dengan mengonsumsi kecubung nyatanya juga membuat mereka memiliki permasalahan sosial di lingkungannya. Ini bisa menggiring mereka pada posisi sebagai kalangan yang layak disebut sampah masyarakat.

Jika tidak segera menghentikan aktivitas mabuknya itu, mereka akan makin terpojok, diabaikan, dan merasa tidak berguna. Untuk itu, selain mereka harus menyelesaikan aspek problematik individual pada diri mereka, harus ada lingkungan masyarakat yang kondusif untuk membantu mereka keluar dari jerat mabuk kecubung, juga sistem hukum dan sanksi yang tegas dari negara.

Lemahnya Sistem

Sayangnya, lagi-lagi lemahnya sistem kita temukan sebagai muara dari problematik mabuk kecubung ini. Lihatlah, walaupun mabuk kecubung sudah sangat mengkhawatirkan di masyarakat bahkan sudah merenggut nyawa, nyatanya belum ada tindakan cepat tanggap dari pemerintah kapitalis sekuler untuk menanggulangi dan mengantisipasi. Fenomena tersebut sudah jelas-jelas merusak generasi, tetapi payung hukum yang ada belum memadai sehingga menyebabkan problematik ini terus saja terjadi.

Semua ini tidak lain akibat penguasa beserta sistem yang tegak saat ini memang tidak bervisi membentengi generasi dari kerusakan secara sistemis. Ini tampak nyata di antaranya dari sistem pendidikan sekuler yang malah difungsikan untuk mencetak generasi instan, pragmatis, serta jauh dari profil tangguh. Generasi berakhlak mulia pun sekadar wacana. Ini jelas malapetaka.

Selain itu, sistem pendidikan sekuler juga telah meminggirkan aspek keimanan yang semestinya menjadi pedoman hidup dan standar kebahagiaan seorang individu dalam menjalani kehidupan. Pantas saja hasilnya adalah segerombolan generasi rusak dan lemah yang sampai-sampai tidak mampu untuk mengenali jati diri, potensi, juga arti hidupnya.

Asal tahu saja, andai benar mereka mampu menyelesaikan permasalahan pribadinya, pastilah mereka menggunakan keimanan sebagai instrumen utama menghadapi berbagai persoalan kehidupan. Inilah yang kita sebut sebagai faktor ketakwaan individu yang semestinya mereka kembalikan pada fitrah penciptaan dirinya sebagai manusia.

Pada titik ini pula sistem pendidikan seharusnya mampu berperan membangkitkan taraf pemikiran perihal penciptaan. Hal ini dalam rangka menghasilkan sosok-sosok yang berkepribadian tangguh, bermental kuat, produktif, dan berlatar keimanan yang lurus.

Di samping itu, marak dan berulangnya fenomena mabuk kecubung jelas seolah ada restu dari masyarakat. Kendati mungkin ada keresahan, tetapi rasa resah itu tidak mampu membuat masyarakat bergerak untuk berperan aktif menghentikan fenomena mabuk kecubung di kalangan kaum muda, terutama di daerah yang terdekat dengan tempat tinggalnya.

Bukankah kaum muda adalah generasi harapan bangsa? Lantas, mengapa masyarakat cenderung membiarkan fenomena rusak itu terjadi? Apakah karena aspek individualistis sudah begitu pekat mencemari relasi antaranggota masyarakat? Apakah aktivitas kontrol sosial sudah diposisikan sebagai lawan dari hak asasi manusia (HAM) sehingga mereka enggan bertindak untuk menciptakan lingkungan sosial yang kondusif?

Demikian pula dengan belum adanya status hukum atas zat yang terkandung dalam kecubung kendati memiliki potensi membahayakan, bahkan sudah jelas melemahkan akal penggunanya. Akibatnya, konsekuensi pidana bagi pengguna juga belum bisa diputuskan, padahal sudah makan korban. Realitas ini jelas bukti ketaktegasan sistem hukum dan sanksi di negeri ini.

Jika demikian adanya, sungguh semua ini membuktikan betapa tatanan sosial kehidupan masyarakat kita begitu compang-camping dengan kerusakan di berbagai sisinya. Munculnya permasalahan baru tidak lantas membuat penguasa sigap dan bergerak cepat menuju titik solusi. Untuk itu, sistem yang ada saat ini jelas tidak bisa diharapkan, baik detik ini maupun masa mendatang. Dengan ini, sungguh kita membutuhkan sistem baru yang mampu menyelesaikan seluruh problematik kehidupan manusia hingga ke akar-akarnya.

Solusi Islam

Hanya Khilafah solusi nyata dan paripurna atas persoalan mabuk kecubung. Khilafah tegak dengan latar belakang kesadaran kaum muslim akan urgensi penerapan syariat Islam kafah. Inilah yang dicontohkan oleh Rasulullah saw., para sahabat beliau, juga para khalifah kaum muslim sepanjang sejarah emas peradaban Islam. Penerapan syariat Islam kafah adalah solusi tuntas bagi seluruh problematik kehidupan manusia, baik pada level individu, masyarakat, maupun negara.

Adanya generasi lemah menunjukkan kebutuhan akan adanya pembinaan akidah dan keimanan yang selanjutnya menumbuhkan keterikatan mereka terhadap syariat Allah Taala. Keyakinan seorang muslim terhadap keberadaan Allah serta kesadaran dirinya sebagai makhluk-Nya akan menguatkan hubungannya dengan Sang Khalik. Inilah yang akan membuahkan takwa dan rasa takut untuk melanggar aturan-Nya.

Efek kecubung yang memabukkan beserta risiko bahaya dan aspek mudarat bagi penggunanya tidak perlu diragukan lagi. Orang-orang yang menjadikan mabuk kecubung sebagai pelarian dan pelampiasan dari permasalahan kehidupan jelas merupakan generasi rapuh. Ini karena pada titik terlemahnya, mereka malah tidak mengambil solusi hakiki semata dari Allah Taala.

Dalam hal ini, bekal keimanan harus dimiliki oleh seorang individu muslim untuk selanjutnya ditumbuhsuburkan di dalam sistem pendidikan Islam yang tidak hanya menghasilkan generasi berkepribadian Islam, tetapi juga tangguh, bermental baja, serta menyadari dan mampu melaksanakan kewajiban untuk mengemban dakwah.

Dengan keimanan, pandangan mereka terhadap mabuk kecubung akan berubah dan mereka akan sampai ke tahap berpikir benar, yakni dari pelampiasan hawa nafsu menjadi keterikatan terhadap syariat sehingga mereka akan melepaskan diri dari ketergantungan pada mabuk kecubung.

Cara pandang seperti ini pula yang harus diduplikasi di tengah masyarakat agar mereka tidak apatis dan menyerah pada keadaan rusaknya generasi akibat mabuk kecubung. Dengan begitu, mereka akan mampu menjadi kontrol sosial dan aktif beramar makruf nahi mungkar agar mabuk kecubung tidak dengan begitu mudahnya menjadi fenomena di tengah-tengah lingkungan tempat tinggal mereka.

Peran final dan vital untuk mengatasi mabuk kecubung maupun kasus serupa adalah tegaknya negara yang menerapkan syariat Islam kafah, yakni Khilafah. Hanya Khilafah yang mampu menuntaskan permasalahan mabuk kecubung maupun yang serupa, dengan metode dan mekanisme menurut ideologi Islam.

Untuk itu, di dalam Khilafah, khalifah akan menutup berbagai celah yang memungkinkan terjadinya produksi, promosi, konsumsi, dan distribusi kecubung di tengah-tengah masyarakat. Khilafah berperan aktif untuk terus mengedukasi masyarakat tentang keharaman dan mudarat kecubung.

Terkait dengan penggunaan bahan alami dan obat-obatan, Khilafah akan terus melakukan pengkajian dan penelitian mendalam untuk mendapatkan data-data terbaru seputar kandungan bahan aktif dari alam, kemudian secara periodik merilisnya ke tengah-tengah masyarakat sehingga mereka tidak sembarangan menggunakannya sebagai akibat kurangnya pengetahuan mereka. Dengan begitu, masyarakat dengan keimanan yang mereka miliki akan dituntun untuk menggunakan berbagai bahan alami dengan bijak sesuai tuntunan syariat. Wallahualam bissawab.

No comments:

Post a Comment

×
Berita Terbaru Update