Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Sekularisme Suburkan Penistaan Agama Subur?

Monday, June 03, 2024 | Monday, June 03, 2024 WIB Last Updated 2025-01-21T06:45:15Z

 

Oleh. Ummu Miqdad

Seperti sudah menjadi tradisi, pelecehan agama pun berulang kembali. Bedanya semakin tahun semakin sering dan beragam. Seperti jamur yang tumbuh di musim hujan, semakin menyebar dan banyak. Entah apa yang memicunya, tetapi objeknya tetap sama, yaitu Islam.

Banyak penistaan yang dilakukan pihak-pihak tertentu. Dari orang biasa hingga yang memiliki jabatan, dalam negeri maupun luar negeri. Semua terjadi entah sengaja ataukah main-main belaka.

Tak bisa dimungkiri saat ini umat Islam semakin jauh dari agamanya. Ini diperparah dengan sedikitnya jam mata pelajaran agama di sekolah. Di tambah lagi dengan banyaknya kesibukan kegiatan disekolah, membuat waktu semakin sedikit untuk mengkaji Islam.

Mempermainkan kitab suci sudah dianggap biasa. Seperti memperlakukan benda lain yang tak memiliki nilai yang suci. Sehingga menganggap simbol-simbol agama sama sebagaimana simbol-simbol lainnya.

Mulai dari remaja hingga orang dewasa ada yang menjadi pelaku pelecehan agama, tak terkecuali orang yang berpendidikan dan memiliki jabatan tinggi.

Seperti yang di lansir tempo (17/5/ 2024), bahwa polisi proses laporan dugaan penistaan agama yakni dengan menginjak Al-Quran yang diduga di lakukan pejabat Kemenhub.

Hal ini pertama kali diketahui dari laporan Vany Rossyane, yakni istri dari Kepala Kantor Otoritas Bandar Udara Wilayah Merauke, Asep Kosasih, bahwa suaminya itu bersumpah dengan cara menginjak kitab suci Al-Quran.
Hal ini dilakukan Asep Kosasih ketika bersumpah bahwa dirinya tidak selingkuh sebagai usaha menyakinkan istrinya dengan cara menginjak Al-Qur’an. Tindakan inilah yang memicu Vany untuk melaporkannya kepada polisi.

Saat ini negara kita mengadopsi sistem yang mengusung kebebasan. Kehidupan berjalan sesuai kehendak manusia, tidak lagi mempedulikan terhadap petunjuk, larangan, dan perintah Allah, maka wajarlah jika peristiwa penistaan agama ini kembali terjadi.

Kitab suci yang seharusnya dijaga kehormatannya dan diamalkan isinya hanya dianggap seperti layaknya barang-barang lain yang tak memerlukan perlakuan khusus. Seperti yang di lakukan Asep Kusasih, yang menginjak Al-Qur’an yang seolah menganggapnya itu tak berharga dan tiada beda dengan timbangan badan atau sejenisnya.

Dalam hal pelecehan agama ini, sungguh Islam yang sering dijadikan obyek sasaran untuk direndahkan. Ketiadaan pelindung dalam setiap lini kehidupan, membuat Islam menjadi agama yang mudah dijadikan sebagai objek olok-olokan.

Hukuman yang ada terbukti tak mampu mencegah ataupun menjerakan pelakunya. Ini dapat terlihat dari seringnya kasus serupa berulang terjadi di berbagai wilayah dan kalangan masyarakat.

Hal yang wajar, ketika hukum yang diterapkan juga berasal dari buatan manusia. Hukum yang dibuat oleh manusia tentu saja tak sempurna, karena sifatnya yang lemah dan terbatas. Tak mengetahui mana yang mampu mencegah dan membuat pelajaran yang tak akan dilirik orang untuk melakukan lagi. Hukum yang senantiasa akan berubah menuruti keinginan dan perasaan yang tak punya standar yang pasti.

Hanya dengan menerapkan hukum Islam lah, maka pelecehan terhadap agama Islam, ataupun agama yang lain dapat dicegah. Karena negara selaku pelaksana hukum Allah, akan selalu memiliki standar yang tetap dan tepat dalam segala tindakan terhadap perilaku buruk, termasuk juga tindakan pelecehan. Karena pembuat hukum ini adalah Allah, Tuhan yang menciptakan manusia dan seluruh alam. Yang pasti mengaturnya dengan perhitungan yang sangat detil dan sempurna sehingga akan memberi dampak yang positif bagi seluruh aspek kehidupan.

Maka kita harus berusaha mengganti sistem yang terbukti tidak mampu memberikan solusi atas semua bentuk pelecehan terhadap simbol agama, dengan sistem Islam yang sempurna. Sistem yang bisa menjaga semua masyarakat dari berbagai tindakan tercela.

Wallahu a’lam bishawab

No comments:

Post a Comment

×
Berita Terbaru Update